quran rusak
quran rusak

Nuzulul Quran (4) : Mushaf Al-Qur’an Sudah Rusak, Bagaimana Menanganinya?

Ayat al-Qur’an banyak yang ditulis di atas pelepah pelaph kurma, batu, daun lontar dan kertas. Itulah mushaf Namanya. Sebagai media, benda-benda ini, akan alami kemusnahan. Lekang dimakan usia. Namun al-Qur’an akan tetap abadi dalam shudur para Pembacanya.  

Al-qur’an bukan dijamin oleh sebuah hafalan, apalagi oleh ingatan. Tetapi jaminannya adalah Allah sendiri. Sang Pemilik kalam. Lantas bagaimana cara mengatasi mushaf yang telah lapuk nan usang. Sembari tetap menjaga kehormatannya? Mengingat, di masjid masjid, atau mushallah banyak tumpukan mushaf tak terjamah. Atau bahkan dalam rumah kita sendiri. Apa yang harus kita lakukan?

Menghilangkan mushaf Al-Qur’an dengan cara mencuci huruf-hurufnya atau membakarnya hukumnya makruh jika masih memungkinkan untuk menjaganya. Namun jika tidak mampu menjaganya karena akan semakin rusak, maka boleh bahkan wajib apabila tidak ada cara lain kecuali dengan membakar atau mencucinya.

Syaikh Abu Bakar al-Syatha memaparkan, sebagian ulama’ menerbitkan fatwa, bahwa mencuci huruf-hurufnya lebih utama dari pada membakar dengan syarat air bekas cuciannya tidak jatuh ke tanah. Ini mungkin sangat menyulitkan. Namun sebagian ulama’ berfatwa berbeda, membakar malah lebih utama daripada mencucinya karena sulitnya menghindari air bekas cucian tersebut jatuh ke tanah. ‘I’anah al-Thalibin, 1/84

Al-Syarwani juga berfatwa makruh hukumnya membakar mushaf al-Qur’an kecuali untuk menjaga supaya mushaf itu tidak tergeletak tanpa penghormatan. Fatwanya di dasarkan pada apa yang pernah dilakukan oleh Utsman ra. Yang lebih utama membasuh kotorang yang melumuri mushaf. Bahkan dengan tegas Imam Rafii dan Imam Nawawi berfatwa haram membakar mushaf al-Qur’an. Hawasyi al-Syarwani, 1/155

Intinya, untuk mengatasi mushaf al-qur’an yang sudah tidak layak pakai tidak boleh sembarangan. Kendatipun rusak mushafnya, namun ayat ayatnya tetap memiliki keagungan yang wajib dijaga. Maka jika membakar mushaf al-Qur’an, yang perlu diperhatikan adalah abu bekas bakarnya harus ditaruh ditempat yang aman dari jamahan praktik penistaan. Semisal, menggali juran di tempat yang tinggi dan sepi. Misalnya dibasuh, maka upayakan air sisa basuhannya dialirkan ke lautan atau sungai besar yang tidak bermuara ke tempat tempat yang jorok.

Baca Juga:  17 Ramadhan Hari Kesaktian Al-Quran

Silakan saja pilih cara yang lebih baik. Menurut ijtihad para Pembaca sendiri. Intinya, jagalah mushaf itu dari praktik pelecehan. Upayakan mushaf itu tetap menemukan keagungannya.

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo