Salam untuk semua agama

Om Swasti Astu Vs Assalamu’alaikum

Terbitnya taushiyyah fatwa haram ucapkan salam lintas agama oleh MUI Jawa Timur, menimbulkan riak gelombang kontroversi akademik yang terus berjalan. Dengan alasan bahwa salam itu bukanlah kalimat basa basi, melainkan doa. Kalau memang hanya karena salam itu doa yang menjadi alasannya, apakah tidak boleh muslim mendoakan non Muslim?!Lalu bagaimana fikih berbicara soal berdoa kepada non Muslim. Mengingat, “om swastiastu” dan “assalamualikum” adalah dua doa dengan versi berbeda. Dalam surah al-Taubah ayat 113. Allah berfirman :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak sepatutnya bagi Nabi orang orang yang beriman memintakan ampun  kepada Allah bagi orang orang Musyrik, walaupun orang orang Musyrik itu adalah kerabatnya sendiri, sesudah jelas bagi mereka, bahwa orang orang MUsyrik itu adalah penghuni Neraka Jahannam”. al-Taubah 113.

Secara tekstual ayat ini menjelaskan bahwa doa yang dibacakan untuk orang orang Kafir Musyrik, tidak akan diterima oleh Allah. Kenapa begitu? Pertama, karena mereka tidak mau bertauhid kepada Allah. Kedua, karena mereka, enggan akui risalah Nabi Muhammad. Bahkan Allah memastikan “walau berkali kali berdoa dan beristighfar untuk mereka Allah tidak akan pernah mengampuninya”. Al-Taubah 80. Hal ini semakin membuktikan bahwa betapa Allah sangat tidak ridha terhadap hambaNya yang durhaka.

Bertolak dari ayat ini pulalah, kata al-Nawawi, Jumhur al-Ulama’ (mayoritas ulama’) berfatwa ‘haram’ berdoa untuk orang kafir musyrik. Mereka menilai kufur dan syirik adalah bentuk kedurhakaan yang tidak bisa diampuni. Fatawa al-Imam al-Nawawi 59

Namun tidak demikian bagi ‘Atha’ Ibn Abi Rabah, seorang faqih, mufassir dan muhaddits dari golongan Tabiin, menurutnya, kalimat an yastaghfiru ayat 113, beliau tafsirkan dengan melakukan shalat jenazah kepada orang orang Musyrik. Apa dasarnya? Dasarnya adalah ayat sebelumnya yaitu ayat 84 “ janganlah kamu melakukan shalat kepada orang yang telah meninggal dunia dari mereka”. Oleh karena itu kalau hanya sekedar berdoa untuk orang musyrik masih bisa diterima oleh Allah dan boleh berdoa kepada mereka. Apakah mungkin Allah menerimanya? Semua itu adalah hak preogratif Allah. Karena doa, dengan segala dimensinya, mampu memberikan manfaat bagi orang yang telah meninggal di alam kubur. Al-Tafsir al-Kabir, 8/216

Baca Juga:  Salahkah Anak Ketika Banyak Bertanya?

Secara kualitatif memang fatwa Jumhur al-Ulama’ yang lebih kuat. Namun jika dikontekstualkan kembali mengacu kepada berkembangnya agama agama di Indonesia, maka fatwa ‘Atha’ Ibn Abi Rabah patut dan layak dipertimbangkan, yaitu boleh mendoakan kepada orang musyrik.

Bila salam dimaksudkan untuk doa, maka salam “omswasti astu” boleh diucapkan muslim untuk mendoakan mereka yang Musyrik. Bukankah dengan mendoakan mereka, mampu membangun simpati emosional yang mendalam bagi mereka, bukankah ini yang disebut dengan “dakwah bil hikmah” sesuai perintah Allah dalam Al-Qur’an surat al-Nahl ayat 125

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah/berdakwahlah kepada manusia untuk berjalan dijalan Tuhanmu

dengan cara yang hikmah, bijaksana dan peringatan yang baik,

dan bantahlah mereka dengan bantahan yang baik”.

Dan ternyata menurut pengakuan Nabi sendiri, bahwa metode dakwah Rasul adalah hikmah dan mau’idhah al-Hasanah. Nabi bersabda

عن أبي ليلى الأشعري صاحب رسول الله صلى الله عليه و سلم عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال تمسكوا بطاعة أئمتكم ولا تخالفوهم فإن طاعتهم طاعة الله وإن معصيتهم معصية الله وإن الله إنما بعثني أدعو إلى سبيله بالحكمة والموعظة الحسنة

Dari Abu Laili al-Asy’ari, Salah seorang Shahabat Rasul, dari Rasulullah saw. Beliau bersabda: “berpegangteguhlah kalian dengan kepatuhan kepada Pemimpin kalian, janganlah kalian membantah, membangkang mereka, karena kepatuhan kalian kepada mereka adalah kepatuhan kepada Allah, dan pembangkangan kalian adalah pembangkangan kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengutusku untuk mengajak kalian kepada jalan Allah dengan cara hikmah (bijaksana) dan cara mau’idhah al-Hasanah (peringatan yang baik)”. al-Mu’jam al-Kabir, Al-Thabrani, 22/373 No. 935

Secara dhahir hadits ini menegaskan tentang metode dakwah rasul yaitu metode dakwah dengan hikmah dan metode dakwah mau’idhah al-hasanah.

Baca Juga:  Menunggu Oleh-Oleh Pak Haji dari Tanah Suci

Jalaluddin al-Mahalli dan jalaluddin al-Suyuthi berkata dalam tafsir al-Jalalain: bahwa yang dimaksud dengan cara hikmah itu adalah dengan cara cara al-Qur’an yang santun dan tidak menimbulkan gejolak, mengucapkan salam om swasti astu secara tidak langsung menguatkan informasi soal ke-rahmatan lil alamin-nya Islam. sementara yang dimaksud dengan mau’idha al-Hasanah (peringatan yang baik) itu adalah dengan cara cara penuh kesantunan, santun bahasanya, santun prilakunya, santun hatinya. Bukankah dengan ucapkan om swasti astu adalah bahasa yang santun untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang santun. Tafsir al-Jalalain, Jalaluddin al-Mahalli dan jalaluddin al-Suyuthi,

Bukankah Nabi Muhammad pernah mendoakan mendiang Ayahnya Abdullah Ibn Salul. Tak lama setelah Nabi mendoakan mendiang ayahnya, maka sontak penduduk Bani Khazraj berbondong bonding menyatakan keislamannya. Al-Bahr al-Muhith, Abu Hayyan, 5/78)

Tugas Islam di Indonesia masih panjang, maka, jangan ganggu perjalanannya dengan taushiyah atau fatwa yang bisa mengacaukan tugasnya.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

ABDUL WALID, Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo dan Dewan Asatidz di Pondok Pesantren Nurut Taqwa Cemoro Banyuwangi

 

 

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo