ujian dari allah

Ujian Itu Pasti

Setiap manusia pasti diuji oleh Allah sesuai dengan kedudukannya, karena Allah akan menguji manusia sesuai dengan kedudukan yang ia miliki. Semakin berat ujian seseoang tatkala kedudukannya semakin dekat dengan Allah. Yang boleh jadi ujian itu tidak diberikan kepada orang lain selain dirinya, karena hakikat cobaan adalah kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Rasulullah bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً اْلأَنِبْيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلٰى حَسًبِ ( وَفِي رِوَايَةٍ قَدْرِ ) دِيْنُهُ فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صَلَبًا اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَةٌ اُبْتُلِيُ عَلٰى حَسَبِ دِيْنُهِ فَمَا يَبْرَحُ اْلبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتىٰ يَتْرُكَهُ يَمْشِيْ عَلَى اْلأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةُ.

“Manusia yang paling dashyat cobaannya adalah para para nabi kemudian orang-orang serupa, lalu orang-orang yang serupa. Seseorang itu diuji menurut ukuran (kemampuan) agamanya. Jika agama kuat, maka cobaannya pun dashyat. Dan jika agamanya lemah, maka ia diuji menurut agamanya. Maka cobaan akan selalu menimpa seseorang sehingga membiarkannya berjalan di muka bumi, tanpa tertimpa kesalahan lagi.”  (H.R. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Jilid: 2/64).

Sebagaimana kita juga belajar dari Nabiyullah Ayyub bagaimana beliau memiliki puncak kesabaran yang luar biasa. Jadi sangat lumrah beliau dijadikan contoh dalam menghadapi kesabaran. Allah memberikan ujian berat kepada Nabi Ayyub semata karena beliau mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Dan keistiqomaan dalam agamanya. Maka Allah menguji Nabi Ayyub sesuai dengan kadar agamanya, untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala. (Lihat: Tafsir al-Qurthuby, Jilid: 11/324).

Nabiyullah Ayyub diuji dengan penyakit yang luar biasa sehingga dijauhi manusia bahkan diasingkan disuatu tempat yang jauh dari keramaian manusia, sehingga tidak ada satupun yang mengawani dan membela beliau kecuali istri tercinta.

Baca Juga:  Bahaya Tuduhan Kafir dan Anti Islam terhadap Sesama Muslim

Rasulullah bersabda,

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa letih, penyakit, kesedihan, gundah gulana, gangguan, sesuatu yang menyesakkan hati, hingga duri yang menusuknya, melainkan dengan semua itu Allah akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya. (H.R. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Jilid: 2/66).

Dalam sebuah syair dikatakan,

تُرِيْدِيْنَ لَقِيَانِ المَعَاِلي رَخِيْصَة   *   وَلاَبُدَّ دُوْنَ الشَّهْدِ مِنْ إِبَرِ النَّحْلِ

Engkau menghendaki ketinggian dengan harga murah? Orang yang ingin mendapatkan madu yang bagus harus rela tersengat jarum lebah.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semuanya Aamien Allahumma Aamien.

Al-Faqir Ila Allah, ZA.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Islam Kaffah

Islam Kaffah