pemahaman keislaman yang sempit

Jika Merasa Islam itu Sulit, Berarti Pemahaman Keislamannya yang Sempit

Jika ada orang yang memahami Islam itu adalah agama yang sulit dan mempersulit berarti ia memiliki pemahaman keislaman yang sempit. Islam itu agama yang selalu memberikan kemudahan bahkan dalam kondisi sulit sekalipun. Hanya terkadang, pemahaman yang sempit membawa seseorang kepada cara beribadah yang sulit.

Sejatinya pandemi ini telah menjadi bagian hidup dari umat beragama dalam waktu hampir dua tahun di negeri ini. Dalam kurun itu, pengalaman menghadapi dan mengadaptasi pandemi juga sudah dijalani. Beribadah dengan menyesuaikan tuntunan di masa darurat sudah pernah dialami. Rujukan dalil dan referensi kitab para ulama telah terang menderang menguraikan.

Selama ini umat beragama, termasuk umat Islam, pernah tidak merayakan secara meriah perayaan hari-hari besar keagamaan. Sudah hampir satu tahun tidak beribadah secara massal di rumah ibadah. Kesabaran itu sudah pernah dilakukan dan dijalani. Banyak himbauan, kebijakan, fatwa bahkan dalil yang nyata memperkuat argument penting kemashlahatan bersama di masa pandemi.

Di tengah gelombang kedua yang ternyata lebih parah ini mestinya umat beragama sudah dewasa menyikapinya. Tidak mesti ada lagi kontroversi dan keributan yang tidak produktif atas kebijakan darurat demi kemashlahatan bersama. Penutupan, pembatasan, dan pelarangan kerumunan sekalipun di rumah ibadah sudah menjadi bagian ikhtiar bersama.

Lalu, kenapa masih saja seolah ini persoalan baru? Lalu kenapa masih merasa dipersulit beribadah?

Saya melihat ketidakdewasaan umat beragama dimulai dari cara segelintir orang yang memiliki pemahaman keislaman yang sempit. Mereka seolah paling takut dan dekat Tuhan yang menentang kebijakan kenapa beribadah dibatasi di era pandemi? Merasa diri paling sangat rajin beribadah sehingga kebijakan ini seolah akan menjauhkan diri dengan Tuhannya. Karenanya ia merasa pada posisi yang selalu memilih yang sulit. Padahal ketika Nabi mendapatkan keringanan sebagai bagian dari syariat untuk melindungi jiwa Nabi akan memilih yang paling mudah.

Baca Juga:  Refleksi 94 Tahun NU (Tulisan Terakhir Alm. Gus Sholah tentang NU)

Faktor berikutnya adalah karena muncul rasa ketidakadilan yang digemakan dengan kebohongan. Cara pandang ini ingin membenturkan kebijakan yang dipandang tidak adil. Semisal masjid ditutup, pasar dibuka, rumah ibadah ini ditutup sementara rumah ibadah yang lain dibuka dan tampak berkerumun. Hoax dan rasa iri bercampur menjadi satu kesatuan yang memperkeruh suasana.

Sesungguhnya ancaman musibah terbesar di samping corona yang masih menjadi musibah bersama adalah dusta. Perkataan bohong, hoax, dan pernyataan provokasi sejatinya bahaya yang sesungguhnya di tengah masyarakat saat ini. Nabi sudah memperingatkan : Jauhilah dusta. Sesungguhnya dusta akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Seseorang yang sering berdusta akan tercatat disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR Muslim).

Faktor selanjutnya dari ketidaksiapan dan ketidakdewasaan umat beragama dalam menghadapi situasi yang berubah ini adalah pemahaman keislaman yang sempit bahwa Islam dianggap agama yang kaku. Islam seolah hanya memerintahkan untuk mendatangi masjid, dan tidak pernah mendengar perintah jangan keluar rumah ketika ada musibah. Islam seolah hanya memerintahkan jangan melarang sesuatu, dan tidak pernah mendengar perintah lakukan jika hal itu demi menyelamatkan nyawa.

Umat beragama harus dididik dengan ilmu, bukan dengan hanya seruan beribadah saja. Beribadah harus juga disertai dengan ilmu. Secara tegas mestinya para dai dan ulama memberikan pemamahan yang utuh kepada umat bahwa beragama adalah juga harus dengan ilmu. Jika tidak, akan ada pemahaman agama Islam itu sulit, padahal sejatinya pemahaman keislamannya yang sempit.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

viral

Kenapa Ingin Viral dengan Konten Amoral? Inilah Ancaman Pedih bagi Pelakunya!

Kenapa anak-anak muda saat ini gemar merebut konten viral walaupun dengan cara tidak rasional, bahkan …

tari saman

Islam Mempercantik Budaya, Bukan Merusak Budaya

Islam merupakan agama yang universal yang mampu merasuk dalam aspek sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Bukan …