menuntut ilmu
menuntut ilmu

Perhatian Sunnah Nabi Muhammad SAW Terhadap Ilmu Pengetahuan

Sunnah Nabi Muhammad SAW yang mulia penuh dengan hadits-hadits yang mendorong manusia untuk mencari ilmu pengetahuan. Juga menjelaskan derajat dan tingkatan ulama di sisi Allah SWT.

Rasulullah SWA sendiri mendorong para sahabat yang mulia untuk mencari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah dasar kebaikan. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda,

“Siapa yang dikehendaki oleh Allah maka Dia akan membuatnya faqih dalam agama. Dan ilmu hanya dapat diraih dengan belajar.” (HR. Bukhari). Dalam hadist lain : “Menuntut ilmu adalah fardhu bagi setiap muslim.” (HR. Ath-Tabhari)

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang pergi untuk menuntut ilmu pengetahuan adalah seperti orang yang sedang berjihad di jalan Allah. Anas r.a berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang pergi menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga dia kembali.” (HR. Tirmidzi)

Pahala menuntut ilmu yang ikhlas, sungguh-sungguh dan menjalankan ilmu yang ia miliki adalah surga. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa ia berkata, “Saya duduk satu jam untuk memperdalam agama lebih saya senangi dari menghidupkan malam dengan ibadah hingga pagi.”

Seorang yang alim wajib menjalankan ilmunya dan bersifat ikhlas, serta yang tidak kalah pentingnya adalah tidak menyembunyikan ilmunya tersebut. Yang mana mengajarkan ilmunya kepada manusia sehingga mereka dapat memanfaatkan ilmu itu.

Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“siapa yang ditanya ilmu pengetahuan (yang ia kuasai) namun ia menyembunyikannya, makai a akan dicambuk dengan api pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Padahala ilmu pengetahuan yang bermanfaat akan terus mengalir dan sampai kepada pemiliknya setelah ia meninggal dunia. Hal itu dijelaskan oleh sabda Nabi SAW, “Jika seorang anak Adam mati, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak soleh yang berdoa baginya (orang tuanya).” (HR. Ahmad).

Dan yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan adalah ilmu jenis apa pun yang memberi manfaat kepada semua manusia dalam membangun dan mengembangkan mereka serta membantu untuk beribadah kepada Allah SWT.

Sementara itu, pada hari kiamat kelak, orang-orang yang berilmu pengetahuan akan ditanya tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengan ilmunya itu? Apakah ia sampaikan, ia ajarkan dan ia jalankan isinya, ataukah ia sembunyikan dan tidak ia ajarkan kepada seseorang serta tidak ia jalankan dalam kehidupannya? Rasulullah SAW bersabda,

“Dua kaki anak Adam pada hari kiamat tidak akan bergerak hingga ia ditanyakan tentang empat perkara: tentang usianya digunakan untuk apa, tentang masa mudanya ia habiskan untuk apa, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan ke mana ia gunakan, serta tentang ilmunya apa yang ia perbuat dengan ilmunya itu.” (Muttafaqun alaih)

Nubuwah Nabi Muhammad SAW telah terbuktikan kebenarannya. Pada zaman sekarang ini sedikit sekali ulama yang menjalankan ilmunya dan ikhlas dalam membawa ilmunya itu. Juga banyak orang yang kerap mengeluarkan fatwa, padahal ia tidak memenuhi syarat untuk berfatwa.

Dari keterangan tadi jelaslah bahwa Sunnah Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian besar untuk menjelaskan kedudukan ilmu pengetahuan dan ulama, juga menjelaskan faktor-faktor yang mengantarkan kepada prestasi ilmiah.

Ulama adalah sumber kebaikan dan orang-orang baik. Mereka mendapatkan pahala seperti seorang mujahid di jalan Allah SWT. Mereka adalah pewaris nabi-nabi. Dan Allah SWT memuliakan orang-orang yang berilmu yang menjalankan ilmunya dan bersifat ikhlas.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Hasan Izzurrahman

Avatar of Muhammad Hasan Izzurrahman

Check Also

islam radikal

Islam Radikal di Indonesia (2) : Memahami ideologi dan Corak Radikalisme

Berbicara Islam radikal, saya mencoba memulainya dengan pertanyaan apa warna ideologi yang khas dari sebuah …

islam radikal

Islam Radikal di Indonesia (1) : Memahami Istilah dan Menghindari Stigmatisasi

Munculnya gerakan keagamaan yang bersifat radikal merupakan fenomena penting yang turut mewarnai citra Islam kontemporer …

escortescort