isra' mi'raj
peringatan isra miraj

Peringatan Isra’ Mi’raj Bid’ah, Ini Tanggapan Ulama’ Kontemporer

Pada bulan Rajab, ada moment penting yang tidak boleh dilupakan oleh umat Islam, yaitu Isra’ Mi’raj, malam di mana Nabi Muhammad saw menerima amanah terpenting dalam kehidupan beragama, yaitu perintah shalat lima waktu.  Tepatnya tanggal 27 Rajab, Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan malam, naik dari satu tangga langit ke tangga berikutnya hingga Sidratul Muntaha untuk menerima tugas penting tersebut dari Allah swt. agar umat Islam mengetahui bagaimana tatacara yang tepat dalam menghadap Tuhannya.

Maka dari itu, setiap kali bulan Rajab datang, umat Islam merayakan malam bersejarah tersebut dengan rasa bangga dan suka ria. Mengapa tidak, sebab shalat lima waktu merupakan salah satu simbol keistimewaan dari Allah swt untuk umat Nabi Muhammad saw.  Karena umat sebelum Nabi Muhammad saw tidak ada yang dipasrahi oleh Allah swt dengan shalat lima waktu.

Umat sebelum Nabi Muhammad saw hanya diberi beban hanya satu shalat saja. Seperti Nabi Adam as, hanya diberi beban shalat Subuh, Nabi Dawud as shalat Dzuhur, Nabi Sulaiman as shalat Ashar, Nabi Ya’qub shalat Maghrib dan Nabi Yunus hanya shalat Isya’[1]. Baru pada umat Nabi Muhammad saw, kelima waktu shalat tersebut diberikan sekaligus. Inilah yang harus dibanggakan oleh umat Islam karena telah dipercayai oleh yang Maha Agung sebagai pengemban amanah terbaik.

Hanya saja yang menjadi aneh, ada saja umat yang mengaku paling Islam dari kelompok tertentu memandang kebanggaan ini sebagai perbuatan haram yang tercela, karena tidak pernah dilakukan Nabi saw dan para sahabatnya. sehingga tidak perlu dirayakan. Intinya bagi kelompok ini memperingati Isra’ Mi’raj bid’ah.

Menjawab hal tersebut cukuplah dengan riwayat dari Ibn Abbas ra tentang beberapa sahabat Nabi saw yang berkumpul-kumpul, mereka saling menceritakan tentang kisah Nabi-Nabi sebelumnya dan masing-masing kagum terhadap keistimewaan yang diberikan oleh Allah swt terhadap Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad saw tersebut. Hingga kemudian, Nabi Muhammad saw datang dan bergabung ikut bercerita dengan membenarkannya kisah-kisah yang disampaikan para sahabatnya itu. Kisah ini dapat dilihat dalam kitab hadits, seperti Sunan At Tirmidzi.

Baca Juga:  Tanda – tanda Haid Dan Larangannya

Dalam kisah ini, sama sekali Nabi Muhammad saw tidak menegur tentang kekaguman sahabat-sahabatnya tersebut terhadap keistimewaan-keistimewaan yang diberikan oleh Allah swt kepada Nabi-Nabi sebelumnya. Lalu apakah ini mau dikatakan Nabi Muhammad saw tidak paham Syariat Islam, karena tidak mengharamkan kebanggaan mereka terhadap Nabi-Nabi sebelumnya ?.

Menarik apa yang dikatakan Syaikh Ahmad Mamduh dalam salah satu videonya tentang hukum memperingati hari-hari tertentu;

لَا مَانِعَ أَبَدًا فِى الشَّرْعِ أَنَّ النَّاسَ تَتَّفِقُ عَلَى أَيَّامٍ مُعَيَّنَةٍ يَجْعَلُوْنَهَا خَاصَّةً لِبَعْضِ الْمُنَاسَبَاتِ الْاِجْتِمَاعِيَّةِ طَالِمًا لَا تَخْتَلِفُ مَعَ الشَّرِيْعَةِ، مِثْلُ يَوْمِ تَكْرِيْمِ الْأُمِّ فَلَا مَانِعَ مِنْهُ

Artinya: “Selamanya tidak dilarang dalam syariat Islam tentang orang-orang yang sepakat pada hari tertentu menjadikannya sebagai hari istimewa karena ada keterkaitan dengan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam, seperti hari ibu, maka yang demikian tidak dilarang”

Begitu juga dengan memperingati malam Isra’ Mi’raj, maka sama sekali ini tidak dilarang, bahkan dianjurkan jika diisi dengan perbuatan-perbuatan baik semisal bacaan al Qur’an, dzikir dan shalawat serta tausiyah keagamaan, sebagaimana pada biasanya umat Islam Indonesia melakukannya.

Menurut Dr. Syauqi Allam, salah satu mufti Mesir, memperingati malam Isra’ Mi’raj dengan cara-cara ibadah sangat dianjurkan. Karena peringatan Isra’ Mi’raj merupakan salah satu bentuk mengagungkan Nabi Muhammad saw.

إِنَّ إِحْيَاءَ لَيْلَةِ ذِكْرِيِّ الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ بِالْقُرُبَاتِ الْمُخْتَلِفَةِ هُوَ مَرْغُوْبٌ فِيْهِ شَرْعًا, وَفِيْهِ تَعْظِيْمُ تَكْرِيْمُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: “Sesungguhnya menghidupkan peringatan malam Isra’ Mi’raj dengan ibadah-ibadah yang berbeda-beda merupakan hal yang disenangi secara syara’, karena hal tersebut merupakan mengagungkan serta memulyakan Nabi Muhammad saw”

Dari sini, maka jelas, memperingati malam Isra’ Mi’raj dengan cara-cara yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia adalah perbuatan sunnah yang dianjurkan dalam agama. Sebab perbuatan tersebut mengantarkan umat Islam kepada semakin mencintai Allah swt serta menghormati utusan_Nya, Nabi Muhammad saw.

Baca Juga:  Hukuman bagi Penghina Nabi dalam Tinjauan Fikih

 

[1] Umar Syata Ad Dimyati, I’anatut Thalibin, Juz 1, Hal 30

Bagikan Artikel ini:

About Ernita Witaloka

Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember Takhassus Fiqh Siyasah

Check Also

kitab samawi

Tidak Hanya Al-Quran, Seluruh Kitab Samawi Diturunkan di Bulan Ramadan

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Allah swt menurunkan kitab-kitab suci ini untuk menjadi pedoman hidup …

halal darah

Hati-Hati Teriak Halal Darahnya, Ingat Allah Menjaga Darah Manusia !

Pengeroyokan terhadap Ade Armando dalam aksi demontrasi kemaren 11 April 2022 menjadi perbincangan publik. Lebih-lebih …