shalat rebo wekasan
shalat

Pernahkah Merasakan Nikmatnya Shalat?

Tidak hanya muslim, non muslim pun tahu bahwa ibadah shalat adalah ciri seorang muslim. Shalat adalah hal wajib yang posisinya menjadi penting sebagai tiang agama. Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah bersabda, “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi).

Bayangkan, sebegitu pentingnya shalat hingga ia menempati tiang agama. Kuat dan semaraknya agama tergantung pada ibadah shalat. Pondasi yang kuat jika tidak dilengkapi dengan tiang yang kuat akan juga runtuh. Ibadah shalat adalah tiang yang menyokong agama sebagai penghubung, wasilah, dan tali penyambung antara hamba dan Tuhannya.

Tetapi, sudahkah kita shalat ? atau kita benar menikmati indahnya shalat? Jangan merasa ketika memenuhi kewajiban shalat berarti telah benar mengokohkan tiang agama. Allah menegur orang yang shalat “Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya. (QS Al-Ma’un: 4-5). Dalam sebuah tafsir diterangkan maksud lalai adalah mereka yang shalat hanya dengan fisik, lidah, gerakan tetapi tidak tersentuh ke dalam hati.

Mungkin kita masih belajar untuk mengerjakan shalat yang sebenarnya. Kita masih sebatas aktifitas shalat untuk untuk menggugurkan kewajiban saja. Itu pun sudah susah payah berlari dengan waktu dan kemalasan.  Namun, bagi para waliyullah dan ulama dengan taraf ketinggian ilmu dan kenikmatan ibadah yang luar biasa, shalat adalah sebuah momentum penting pertemuan hamba dengan Allah. Tidak akan disia-siakan nikmatnya shalat.

Liatlah cerita para sahabat yang begitu fana bahkan menyatu dan hilang dari bumi ketika shalat. Seluruh kebisingan dunia terlupa ketika tangan diangkat menyerukan takbir. Kenikmatan dunia terlupakan. Dan kepedihan derita dunia pun tak terasakan. Dibunuh dan dihujam dengan pedang pun tidak terasa ketika para sahabat Nabi melaksanakan shalat.

Itulah tingkat kenikmatan shalat yang luar biasa. Bagi kita tentu bukan hal mustahil. Menikmati shalat harus dengan latihan. Khusuk adalah kata kunci untuk bersungguh-sungguh, ikhlas, fokus dan berserah diri kepada Allah. Khusuk berarti shalat tidak semata dilakukan dengan gerakan fisik saja, tetapi menuntut gerakan batin.

Tips Menggerakkan Batin Ketika Shalat

Kekhusyukan dalam shalat memang tidak bisa didapatkan secara instan, kita harus mampu melatih dan juga menjaganya. Perlunya mengasah kekhusyukan kita dalam shalat dengan cara membiasakannya. Semua hal bisa dilakukan ketika kita terbiasa. Bagaimana mengawalinya?

  1. Mulailah dengan persiapan di luar shalat untuk menjamin shalat sebagai sarana yang kondusif dan nikmat. Perlu kita menyatukan hati, pikiran dan keinginan supaya shalat menjadi kenikmatan. Tidak akan berhasil ketika shalat penuh keterburuan-buruan. Atau masih ada yang perlu dikerjakan dan dipikirkan. Karena itulah, dalam Islam diutamakan makan daripada shalat karena khawatir ketika shalat pikiran tergantung di makanan.
  2. Carilah tempat yang nyaman, sepi dan membantu untuk khusuk dan focus beribadah. Kondisi ruangan, suasana, bahkan aroma terkadang menentukan terhadap suasana batin seseorang. Tentu tidak akan bisa shalat di tengah keramaian dan kondisi yang kotor. Rasa batin akan terganggu.
  3. Mengimani bahwa ibadah untuk Allah. Shalat bukan sekedar kewajiban, tetapi kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dengan Allah. Shalat yang dikerjakan semata untuk Allah. Karna itulah, dalam lafadz niat seringkali dibacakan lillahi taala. Jangan cemari shalat dengan virus riya’, sombong dan aktifitas pencitraan duniawi. Betul kewajiban shalatmu gugur, tetapi pahalamu juga niscaya gugur.
  4. Shalat adalah sarana mengingat Allah. Secara aspek lahiriah shalat mencakup bacaan, rukuk, sujud dan hal lainnya yang tampak. Sementara dari aspek kebatinannya sendiri  tentang keikhlasan, kesempurnaan dalam penghayatan dan pemahaman makna tasbih. Mulailah dengan meresapi apa yang dibaca ketika shalat dan memahami arti filosofi seluruh gerakan shalat. Batin itu bersangkar dalam hati dan dalam ruh yang mampu dilihat oleh Allah.

Seperti kita bahas sebelumnya bahwa shalat merupakan alat komunikasi dengan Allah. Shalat berisi gerakan dan doa-doa. Jika kita mau berkomunikasi dengan Allah, harusnya kita mengetahui arti doa yang kita ucapkan dan yang kita mohonkan. Bagaimana kita ingin berkomunikasi dengan Allah jika kita tidak mengerti makna yang terkandung dalam shalat.

Baguskanlah hubunganmu dengan Allah, maka Allah akan membaguskan hubunganmu dengan sesama manusia. Karena Allah akan menjaga umatnya yang telah di ridhoi-Nya. Hubungan baik manusia dengan Allah salah satunya adalah dengan pertemuan setidaknya 5 kali dalam sehari semalam.

Rindukanlah Tuhan ketika ingin shalat seolah kita sudah lama tidak pernah melakukannya. Rengkuhlah kenikmatan shalat dengan hanya mengalami hubungan yang intim hanya dengan Allah, bukan dengan yang lain.

 

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

Cheng Ho

Cheng Ho : Islamisasi Nusantara dari Perpaduan Islam dan China

Di Indonesia, sentimentasi anti China merupakan salah satu konstruksi sejarah paling kejam. Letupan besar dari …

dispensasi nikah

Dispensasi Nikah : antara Mencegah atau Mengafirmasi Pernikahan Dini?

Mengagetkan di Indramayu, terdapat ratusan anak di bawah umur kisaran usia 19 tahun mengajukan dispensasi …

escortescort