Pintu Surga Berebut Memanggilnya

0
1184
pintu surga

Siapakah orang yang pintu surga berebut memanggilnya?


Suatu ketika tatkala Rasul selesai shalat dhuhur berjamaah langsung membalikkan badannya hingga Para Shahabat yang bermakmun bisa melihat dan bertatapan muka dengan Beliau. Pada saat itulah Rasul Bertanya kepada para shahabatNya.

Rasul: “Siapakah di antara kalian yang berpuasa hari ini?”.

Abu Bakar: “Saya Wahai Rasul..!”

Rasul: “Siapakah di antara kalian yang bershadaqah kepada orang miskin hari ini?”

Abu Bakar: “saya wahai Rasul..!”

Rasul: “Siapakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?”

Abu Bakar: “saya wahai Rasul..!”

Rasul: “Siapakah diantara kalian yang menghadiri prosesi jenazah hari ini?”

Abu Bakar: “saya wahai Rasul..!”

Rasul: “Siapakah di antara kalian yang mendamaikan dua orang yang bertikai hari ini?”

Abu Bakar: “saya wahai Rasul..!”

Berkali kali Rasul memandang Abu Bakar. Namun setelah itu Rasul melanjutkan sabdanya: “tidaklah seorang yang beriman yang melakukan satu hal dari beberapa hal di atas, kecuali  dia akan dipanggil oleh pintu pintu surga, “kemarilah cepat…! mendekatlah kepada kami”

Bagaimana jika hal hal baik di atas dilakukan semua ya Rasul? Tanya Abu Bakar penasaran.

Semua umatku akan dipanggil oleh pintu-pintu surga, tapi engkaulah orang pertama yang akan menerima panggilan pintu-pintu surga (Shafuk Sa’dullah al-Mukhtar, Anis Al-Mu’minin, 28-29).

Hikmah dari kisah di atas adalah berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan merupakan keniscayaan, keharusan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 148 :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Berlombalah kalian dalam melakukan kebaikan dimanapun kalian berada, kelak di hari kiamat kalian akan dikumpulkan semua untuk menerima balasannya, Sesungguhnya Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu”

Kebaikan menurut Imam al-Jazair adalah ketaatan, kepatuhan kepada hukum hukum Allah. Karena hukum hukum Allah pasti mengandung nilai nilai kebaikan ( Aysar al-Tafasir, 1/63).

Lebih spesifik lagi al-Baihaqi mengutip penjelasan Nabi menjelaskan bahwa kebaikan itu contohnya, seperti shadaqah, silaturrahmi, berbuat baik kepada orang lain (Itsbat ‘Adzab al-Qabri, 1/36).

Syaikh Muhammad Ibn Yusuf Athfisy berkata: bahwa kata berlomba-lomba yang dimaksud adalah memotivasi seorang mukmin untuk menggapai ridha Allah dengan cara melaksanakan shalat di awal waktunya (Taysir al-Tafsir, 1/169).

Kesibukan yang tidak terkontrol seringkali membuat kita lupa akan keharusan melakukan kebaikan. Karena dalam persepsi kita kebaikan itu hanya sebatas harta dunia, padahal kebaikan tidak hanya terbatas pada harta dunia belaka, melainkan pada amal perbuatan.

Semakin banyak kita melakukan kebaikan didunia, makin kuat jaminan kita untuk hidup bahagia di akhirat. Kebahagiaan yang tidak ada batasnya. Berbeda dengan kebahagian dunia yang sifat sementara.

Semoga bermanfaat.