qunutan
qunutan

Qunutan dan Lilikuran Tradisi Ramadhan Umat Muslim di Banten

Serang – Di beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi setiap bulan Ramadhan. Salah satunya di Banten. Umat muslim di Banten mengenal tradisi qunutan dan lilikuran.

Menurut Sekretaris Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang, Amas Tajudin, istilah qunutan berasal dari Doa Qunut yang dibawa pada raka’at terakhir salat witir yang biasanya dimulai sejak hari ke 15 Ramadhan sampai akhir bulan Ramadhan.

Namun, ada juga yang mengistilahkan qunutan berdasarkan tradisi, yakni sebagai sarana dakwah dan memakmurkan masjid ataupun musala dengan cara ngariung dan berdoa bersama-sama. Biasanya, masyarakat akan membuat ketupat, sayur opor dan makanan lainnya untuk dibawa ke masjid dan berdoa bersama, baik usai salat Magrib ataupun usai salat tarawih.

“Dari sudut pandang tradisi sekaligus strategi dakwah memakmurkan masjid bagi masyarakat adalah ngariung di masjid, bersedekah aneka makanan, atau lazimnya ketupat sayur yang sangat lezat dimakan bersama setelah tarawih hari ke 15,” kata Amas Tajudin dikutip dari laman Liputan6.com, Kamis (7 /5/2020).

Jika dihitung awal Ramadhan yang jatuh pada 24 April 2020, maka qunutan berlangsung besok, Jumat, 8 Mei 2020, yang tepat bertepatan dengan 15 Ramadhan.

Usai qunutan, masyarakat Banten biasanya akan melaksakan lilikuran yang dilakukan setiap malam ganjil Ramadhan. Lilikuran pun mirip dengan qunutan. Namun, tidak membuat ketupat, hanya kue dan panganan ringan yang dibawa masyarakat ke masjid kemudian berdoa bersama-sama.

Lilikuran akan terus berlanjut hingga akhir Ramadhan dan akan semakin meriah di 10 hari terakhir Ramadhan. Dimana malam lailatul qodar akan dicari oleh umat muslim di dunia, termasuk di Banten.

Usai berdoa bersama, maka masyarakat yang memakmurkan masjid ataupun musala akan lebih ramai dengan Memikran atau mengaji hingga tiba waktu Sahur.

Baca Juga:  Setelah Jerman, Belanda, dan AS, Giliran Australia Bolehkan Kumandang Azan Selama Ramadhan

“Usai qunutan, dilanjutkan setiap hitungan tanggal tertentu yang disebut lilikuran. Hal tersebut merupakan strategi dakwah memakmurkan masjid untuk menggapai lailatul qodar,” terangnya.

Saat pandemi COVID-19 kali ini, Amas menghimbau agar umat muslim dan Pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) bisa menggantinya dengan cara lain. Namun, dengan tidak mengurangi makna dan pahala dari tradisi qunutan maupun lilikuran.

Ketupat hingga kue ringan bisa diganti dengan sembako dan dibagikan ke masyarakat yang ekonomi dan kehidupannya terdampak karena pandemi COVID-19. Jika mengurangi berkumpulnya massa, maka diharapkan bisa memutus mata rantai penularan COVID-19.

“Saat ini situasi sangat berbeda karena wabah COVID-19. Maka tradisi ketupat qunutan dan aneka kue lilikuran, bisa diberikan dalam bentuk lain kepada masyarakat, tidak harus di masjid dan atau menunggu pertengahan ramadlan atau malam lilikuran. Bisa sejak sekarang diantar ke rumah-rumah atau bahan mentahan sembako dibagikan sesuai protokol kesehatan,” jelasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

KH Maman Imanulhaq1

Selewengkan Dana Umat, ACT Dinilai Zalim dan Harus Ditindak Tegas

Jakarta – Lembaga filantropis Aksi Cepat Tanggap (ACT) dinilai telah berbuat zalim terhadap dana donasi …

arsul sani

Anggota DPR Komisi III, Arsul Sani Tantang ACT Diaudit soal Dugaan Transaksi terkait Terorisme

Jakarta – Masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan sebuah laporan hasil investigasi tempo yang menyebutkan dugaan …