Tidak terasa Ramadhan 1441 H/2020 ini sudah memasuki paruh kedua. Seperti telah dimaklum, memasuki paruh kedua bulan Ramadhan kita diingatkan pada satu amaliyah yang hanya ada di bulan suci, yakni qunut witir.

Dari penamaannya, tentu bisa dipahami bahwa yang dimaksud tentu bacaan qunut saat shalat sunnah witir yang dibaca setelah ruku’ pada rakaat terakhir. Seperti juga istilah qunut subuh yang dimaksud tak lain adalah bacaan qunut pada rakaat kedua setelah ruku’.

Bagaimana sebenarnya sikap dan pandangan para ulama terkait qunut witir di bulan Ramadhan tersebut. Sebagaimana mereka tidak sepakat soal qunut subuh, qunut witir pada malam paruh kedua bulan suci Ramadhan juga demikian. Para ulama silang pendapat tentang status hukumnya.

Hukum Qunut Witir

Menurut pandangan madhab imam Hanafi, qunut witir hukumnya wajib. Baik saat bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Dibaca sebelum ruku’ rakaat terakhir. Ulama madhab Hanafi mendasarkan pendapat ini pada beberap hadis Nabi. Diantaranya adalah hadis berikut:

Rasulullah bersabda, “Bahwa Nabi melakukan qunut di rakaat terakhir shalat witir sebelum ruku’”. (HR. Turmudzi).

Soal redaksi qunut witir, menurut madhab ini tidak ada ketentuan khusus. Sebagaimana dikatakan oleh al Kassani dalam Bada’i, apapun redaksi doa yang dibaca tidak masalah. Bila shalat witir dilakukan berjamaah maka imam membaca secara jahr (keras) doa qunut, namun tak sekeras bacaan fatihah dan surat setelahnya.

Makmum boleh mengikuti bacaan qunut imam atau boleh sekedar mengaminkan saja, dan boleh pula diam. Sementara jika shalat sunnah witir dikerjakan sendirian, maka bebas memilih antara membaca keras dan pelan.

Sementara menurut Imam Syafi’I dan Hanbali, qunut witir hukumnya sunnah. Akan tetapi, soal cakupan kesunnahannya, dua madhab ini berbeda. Menurut Madhab Hanbali, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam al Mughni, qunut witir sunnah dilakukan kapan saja. Tidak hanya witir bulan Ramadhan saja, tetapi juga di luar Ramadhan juga sunnah.

Sedangkan menurut Madhab Imam Stafi’I seperti dikutip oleh Imam al Mawardi dalam al Hawi al Kabir, Imam Syafi’I berkata, “Tidak boleh qunut witir kecuali pada paruh kedua bulan Ramadhan. Seperti inilah praktik Ibnu Umar”.

Hal ini seperti dikatakan oleh imam Hasan Bashri, ketika Umar bin Khattab berkata kepada Ubay bin Ka’ab yang ditunjuk sebagai imam, “shalatlah bersama mereka dua puluh rakaat dan jangan qunut kecuali pada malam paruh kedua bulan Ramadhan. Dari sinilah kemudian Madhab Imam Syafi’I, seperti dikatakan oleh imam Nawawi dalam kitabnya al Majmu’, menyebut hukum qunut witir hanya sunnah di lima belas malam terakhir.

Tata Cara Qunut Witir

Sementara mengenai bacaan dan teknisnya, menurut madhab Imam Syafi’I, sama persis dengan qunut subuh. Dibaca setelah ruku’ rakaat terakhir dan doa yang dibaca sama dengan doa qunut subuh.

Sunnah mengangkat tangan atau tidak. Namun yang lebih utama menurut Imam Nawawi dalam al Majmu’ adalah mengangkat tangan.

Saat imam membaca qunut makmum mengaminkan. Baru setelah bacaan imam pada pujian (tsana) makmum mengikuti membaca dan tidak mengusap wajah setelah selesai qunut witir. Bahkan menurut Imam Nawawi dalam kitab yang sama menyatakan, bila sengaja terlewat disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi.

Bacaan Qunut Witir

Sedangkan untuk redaksi qunut witir dalam madhab Syafi’I sama dengan doa qunut subuh. Sebagaimana ditulis oleh imam Nawawi dalam al Majmu’. Doa qunut berikut ini berdasar pada hadis riwayat Ali bin Abi Thalib saat Rasulullah mengajari beliau doa qunut.

Redaksi ini juga doa qunut resmi madhab imam Hanbali sebagaimana dikutip Ibnu Qudamah dalam al Mughni.

Doa qunut witir tersebut adalah:

اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ

Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait

Artinya : Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan

Imam membaca doa ini secara keras dan makmum mengaminkan sambil mengangkat kedua tangan. Setelah itu makmum mengikuti bacaan imam sebagai kelanjutan doa di atas, yakni:

إِنَّكَ تَقْضِيْ وَلَا يُقْضَي عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ اْلحَمْدُ عَلَي مَا قَضَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّي اللهُ عَلَي النَّبِيِّ وَسَلَّمَ

fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait.

Artinya : sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi)” (HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.