nuzulul quran
nuzulul quran

Refleksi Nuzulul Qur’an : Puasa, Al-Qur’an, dan Kepekaan Sosial

Bulan suci Ramadhan juga dikenal sebagai bulan turunnya al-Qur’an (nuzul al-Qur’an). Tanggal 17 Ramadhan sebagai puncak peringatan, karena pada tanggal inilah Al-Qur’an diyakini diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. (Q.S al-Baqarah: 185).

Momentum peringatan nuzul al-Qur’an, seyogianya merupakan wahana yang tepat untuk membuat refleksi dan proyeksi diri. Refleksi diri, berarti menengok ke belakang untuk mengevaluasi dan introspeksi (muhasabah) atas pengamalan ajaran al-Qur’an selama ini. Sedangkan membuat proyeksi, berarti meneguhkan cita-cita untuk mengamalkan al-Qur’an lebih baik di masa mendatang.

Apalagi, turunnya kitab suci itu bersamaan dengan momentum bulan suci Ramadhan, yang berarti pula menambah ketajaman bagi umat Islam untuk memperdalam makna al-Qur’an secara keseluruhan. Pelaksanaan ibadah puasa mengantarkan seorang muslim agar semakin bisa mengasah kepekaan sosial.

Karena itu, usaha untuk melatih naluri kepekaan sosial itu dapat diimplementasikan pada pengalaman hidup aktual kekinian, seperti membantu korban covid-19, baik melalui zakat, infak, maupun pemberian lain, yang bertunjuan untuk menolong sesama bagi yang membutuhkan. Ajakan untuk membantu sesama ini jelas merupakan perintah al-Qur’an, yang apalagi dilakukan saat puasa di bulan suci Ramadhan, akan membuat semakin berkah dan utama (afdhal).

Upaya merefleksikan kandungan al-Qur’an untuk mengasah kepekaan sosial tersebut, teringat apa yang pernah ditulis oleh Gus Musa alias KH. A. Mustofa Bisri (2000) dengan memberikan gugagatan dan pertanyaan kritis soal interaksi manusia dengan al-Qur’an. Sepenting apakah al-Qur’an itu di mata “pengagumnya”? Apakah mereka menganggap al-Qur’an itu sebagai “hanya” bacaan mulia, sebagai pusaka keramat, semacam kitab fiqh atau buku kumpulan peraturan, atau seperti yang sering kita dengar dari kaum muslimin: merupakan pedoman hidup umat Islam.

Baca Juga:  Zakat Firtah di Tengah Pandemi : Bolehkah dengan Uang dan Ditransfer?

Pandangan hidup

Apabila al-Quran dipandang sebagai pedoman atau panduan hidup umat Islam, pertanyaannya adalah apakah umat Islam, termasuk ustad dan mubalig yang sering mengisi acara uraian hikmah nuzul al-Qur’an itu, sudah bisa membacanya? Bila sudah, seberapa jauh mereka memahaminya dan sejauh manakah pemahaman mereka itu telah melandasi atau mewarnai amaliyah mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi logis muncul, melihat fenomena kehidupan dan perilaku umat Islam saat ini. Banyak di antara kita yang justru melakukan sesuatu yang berlawanan dari perintah al-Qur’an. Masih mending bila al-Qur’an menyuruh mereka “pergi ke barat” misalnya, lalu mereka tidak “pergi ke barat”. Ini tidak, mereka itu justru “pergi ke timur”.

Al-Qur’an mengajarkan sikap adil dan menghormati hukum; sementara banyak orang yang mengaku berpedoman pada al-Qur’an tidak hanya tidak adil, tapi juga melecehkan hukum. al-Qur’an menyerukan manusia untuk saling menghargai dan tidak menghina sesama, tapi kita dapat melihat sendiri betapa banyak orang yang mengaku berpedoman pada al-Qur’an terus merendahkan dan menghina sesama.

Al-Qur’an menyatakan bahwa orang-orang yang beriman bersaudara dan kita melihat sendiri banyak orang yang mengaku beriman dan berpedoman pada al-Qur’an justru menganggap saudaranya sendiri sebagai musuh. Pendek kata, kita masih belum menyaksikan banyak tuntunan mulia al-Qur’an dipraktikkan oleh mereka yang mengaku berpedoman pada al-Qur’an, tapi justru sebaliknya.

Tidak itu saja, bahkan kita menyaksikan betapa banyak orang yang menggunakan ayat-ayat al-Qur’an hanya untuk meraih kepentingan duniawi sesaat. Bahkan ada yang berani menyeret al-Qur’an untuk melakukan tindakan-tindakan yang justru mengaburkan makna luhur al-Qur’an itu sendiri.

Untuk menghindari dari perilaku yang menyimpang sebagaimana dipaparkan di atas, maka di sinilah pentingnya untuk benar-benar mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an. Sir Mumammad Iqbal, pernah memberikan “tips” dalam mengamalkan al-Qur’an secara praktis dalam kehidupan nyata, “Bacalah al-Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu”.

Baca Juga:  Alquran Tak Hanya Berisi Panduan Ibadah, Tapi Juga Petunjuk Cara Manusia Berinteraksi Dengan Alam

Jika al-Qur’an dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh setiap muslim, niscaya ia menjadi petunjuk sesungguhnya dalam kehidupan ini. Semoga.

Bagikan Artikel ini:

About Ali Usman

Avatar of Ali Usman
Pengurus Lakpesdam PWNU DIY

Check Also

kemerdekaan palestina

Gilad Atzmon dan Pandangannya tentang Kemerdekaan Palestina

Gilad mendukung penuh “hak pulang kampung” rakyat Palestina dan “solusi negara tunggal” bagi penyelesaian konflik yang sudah berlangsung lama itu.

asmaul husna

Kearifan Sufi dan Terapi Asmaul Husna

Menjadi seorang sufi, atau menjalankan ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah tantangan. Dikatakan demikian, …