Kedatangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihah (HRS) menjadi kabar menggemberikan bagi para pendukungnya yang telah lama merindukannya. Maklum saja, HRS sudah berada di Arab Saudi setidaknya tiga setengah tahun.
Kedatangannya pun memantik emosi dan semangat. Namun, ada salah satu yang menarik untuk diperhatikan tentang seruan HRS untuk melakukan revolusi akhlak. Dalam pidatonya di depan para pendukungnya HRS menegaskan saat ini dan detik ini revolusi akhlak dimulai.
Saya tidak ingin membahas tentang revolusi karena ini sejatinya bukan term yang penting untuk dibahas. Namun, yang cukup menarik adalah kata akhlak. Lalu, apa makna dari akhlak itu sendiri? Lalu, di mana posisi akhlak dalam Islam?
Sebagian kita masih berpikir bahwa akhlak hanyalah pelengkap dari agama karena agama hanya dilihat dari sekedar aspek ibadah semata. Padahal, akhlak sesungguhnya adalah ruh dan inti beragama. Ibadah merupakan latihan dan penampakan luar untuk membentuk orang memiliki akhlak.
Akhlak adalah sesuatu yang inheren dalam agama baik dalam keimanan, ajaran agama, maupun ibadah. Nabi ketika menyandingkan keimanan selalu berbicara tentang akhlak kepada sesama seperti tetangga, tamu, dan saudara. Akhlak bukan sekedar tentang sesuatu yang baik menurut agama, tetapi juga kebaikan untuk sosial dan budaya.
Pentingnya posisi akhlak sehingga Nabi menegaskan Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi). Apa makna dari penegasan ini?
Ketika Nabi menegaskan misinya tentang akhlak, sesungguhnya misi ini yang menjadi tujuan utama. Akhlak sebagai misi terkandung dalam keimanan, ajaran, dan ibadah Islam. Ketika keimanan, ajaran dan ibadah tidak mampu membentuk akhlak, sejatinya kita umat Islam hanya menjalankan formalitas berislam, tetapi tidak berupaya mesukseskan misi kerasulan.
4 Kedudukan Akhlak dalam Islam
Pentingnya akhlak sebagai misi kerasulan Nabi menjadikannya sebagai inti dalam berislam. Akhlak merupakan misi untuk mencapai visi kerasulan Nabi. Fahad Salim Bahammam dalam bukunya Akhlak memposisikan akhlak dalam 4 hal:
Pertama, akhlak adalah tujuan utama diangkatnya Nabi Muhamamd sebagai rasul. Artinya, setiap Rasul mengemban misi kerasulan terhadap problem umat yang beragam. Kenyatannya, misi Rasulullah saw adalah akhlak. Dengan demikian, ada yang salah dalam akhlak masyarakat saat itu.
Kedua, akhlak adalah bagian tak terpisahkan dari iman dan akidah. Sebagai tujuan kerasulan, wajar akhlak menjadi hal yang tak terpisahkan dari keimanan. Disebut orang Islam apabila ia mampu menanamkan akhlak dalam keimanan dan mempraktekkan keimanan melalui akhlak yang mulia.
Ketiga, akhlak merupakan tujuan dari ibadah. Ibadah adalah sarana membentuk diri yang berakhlak. Orang beribadah dengan benar niscaya akan membentuk jiwa dan perilaku yang penuh dengan akhlak mulia.
Keempat, akhlak mulia mengandung keutamaan tidak hanya di dunia tetapi pahala besar di sisi Allah. Kedudukan akhlak bukan pelengkap dalam Islam, tetapi justu menjadi subtansi misi Islam. Karena itulah, posisinya menjadi perantara pahala dan karunia dari Allah.
Semoga kita umat Islam masih terus menyadari pentingnya akhlak dalam beragama dan kehidupan bermasyarakat. Akhlak adalah sebuah paradigma dan cara pandang berislam. Akhlak mulia pada akhirnya menjadi identitas seorang muslim.
Akhlak bukan sekedar etika dan norma dalam hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga manusia dan lingkungannya. Ketaatan terhadap aturan dan norma adalah bagian dari akhlak mulia. Berakhlak mulia tidak hanya patuh pada norma agama, tetapi juga norma sosial dan negara.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah