Tawadhu
Tawadhu

Revolusi Akhlak Dimulai dengan Tawadhu’

“Kepulangan kali ini saudara, tidak lain, tidak bukan, saya menyerukan dan mengajak kepada semua umat Islam Indonesia, ayo sama-sama revolusi akhlak. Setuju?” kata Rizieq yang disambut pernyataan setuju oleh massa yang hadir di Petamburan.

Inilah salah satu cuplikan orasi pertama yang disampaikan oleh Habib Rizieq Syihab, Setibanya ia di Petamburan. Pertanyaannya, dari mana dan oleh siapa “Revolusi Akhlak” itu dimulai?

Tentu upaya apapun untuk memperbaiki akhlak baik dengan istilah revolusi atau perbaikan adalah sangatlah baik. Bukankah tujuan Rasulullah juga untuk menyempurnakan akhlak. Namun, sangat penting upaya perbaikan harus dimulai dari diri sendiri.

Pada tulisan ini saya tidak berpretensi untuk mengulas detail tentang istilah revolusi akhlak. Namun, saya ingin memberikan penjelasan bahwa perbaikan akhlak harus dimulai dari rendah hati, tawadhu’.

Akhlak Dimulai dari Diri

Sudah menjadi bagian dari nafsu manusia ingin dihargai atau mendapat predikat ‘hebat’. Demi menaikkan “harga tawar” dirinya, tak jarang berupaya menonjolkan kelebihan diri, melakukan perbuatan mulia yang mengundang simpati dan empati, tetapi tidak sedikit juga, melakukan tindakan tak terpuji, yaitu menghujat orang terkenal agar ikut terkenal dan viral, tak peduli, walau viralitasnya berkonotosi negative, ia tak peduli yang penting viral dan dikenal khalayak.

Padahal kalo kita mau “mikir” sejenak, seseorang tidak akan terorbit derajatnya dengan cara ‘mengangkat-ngangkat’ dirinya, justru, seseorang akan terangkat derajatnya karena “merendahkan diri”.

Artinya, makin kita merendah, semakin naik drastis ‘harga tawarnya’ bahkan semakin meroket tinggi dan tak terkejar.

Sabda Nabi :

والتواضع لا يزيد العبد إلا رفعة فتواضعوا يرفعكم الله

Tawadhu’ hanya akan membuat kepribadian seseorang lebih berkualitas. Maka bertawadhu’lah, maka Allah akan meninggikan derajat kalian (menjadi pribadi yang berkualitas). Jami’ al-Ahadits Li al-Suyuthi, 14/358

Baca Juga:  Ketua Cyber Indonesia Nilai Ceramah HRS Bisa Rusak Akhlak Generasi Muda

Rendah diri merupakan titah Allah yang harus dilaksanakan :

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan turunkan sayapmu (pundakmu), (merendahdirilah kamu) terhadap orang-orang yang beriman”. QS: al-Hijr:88

Memperbaiki Akhlak dengan Rendah Hati

Menurut Ibnu ‘Ajibah ayat ini berbicara secara lantang tentang sebuah kerendahan hati (tawadhu’) yang terpampang guna mengemplementasikan kelembutan bertutur dan bertindak. Tafsir Ibnu ‘Ajibah, 3/239

Rendah hati dalam diskursus tasawwuf dikenal dengan istilah tawadhu’.

ويطلق على التواضع الجودة التي تعدل من أفعالنا وأفكارنا

Tawadhu’ (Kerendahan hati) sering disebut dikalangan sufi sebagai kualitas yang mampu mengubah tindakan dan pikiran menjadi seimbang.

Menurut al-Habib Abdullah Ibn ‘Alwi al-Haddad, orang yang tawadhu’ adalah seseorang yang tidak pernah merasa terganggu dengan penghormatan orang lain, bahkan ia rela tidak dihiraukan di saat saat semestinya ia mendapatkannya. (Al-Hikam al-Haddadiyah, 13).

Suatu waktu, tanpa sengaja Imam Syafi’i bertemu Imam Ahmd Ibn Hanbal seraya berucap: aku senang bertemu orang orang shalih, walaupun aku bukan orang shalih. Aku berharap mendapatkan syafa’at dari mereka.

Betapa merendahnya Imam Syafii, hingga ia menyebut dirinya bukan orang shalih. Padahal, di masanya tak ada orang yang mampu mengungguli keshalihan amal dan ilmunya. Yah, itulah sejatinya orang shalih menurut Aisyah (istri Rsulullah).

Menurutnya, orang baik adalah orang yang menilai dirinya bukan orang baik. Dan sebaliknya orang yang menilai dirinya orang baik, maka sesungguhnya ia bukan orang baik. (Al-Taysir Bi Syarh Jami’ al-Shaghir karya al-Manawi, 2/606).

Sikap tawadhu’ adalah sikap terpuji dan akan melahirkan sikap terpuji lainnya, semisal, mendapatkan simpati dari sesama, tidak gampang merendahkan orang lain, melirihkan suara di depan orang lain, mudah mendapatkan kebaikan tanpa melihat siapa yang memberinya. Karena kebaikan walaupun datang dari seorang bocah, adalah tetap menjadi sebuah kebaikan. Tawadhu’ juga mampu menghargai orang lain, tidak gila hormat, gampang memberikan maaf dan memaklumi setiap tindakan.

Baca Juga:  Mengenang Jihad Santri untuk Kemerdekaan RI

Andai saja kita sebagai Rakyat dan Pemimpin Indonesia membudidayakan sikap ini, maka bisa dipastikan nyaris tidak akan tercipta ruang untuk saling mencurigai, menuduh satu sama lainnya. Tawadhu’ akan mampu mengorkestra nada sumbang demokrasi menjadi nada yang mendayu-dayu dan fantastis. Mampu merajut benang kusut politik menjadi harmoni ditengah kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Tawadhu’ juga bisa meredam amuk murka kekecewaan. Mampu membangun toleransi beragama, apalagi, hanya toleransi berorganisasi, berpersepsi atau bermadzhab dan mampu untuk saling memperbaiki, bukan untuk saling merusak. Mampu melakukan controling terhadap tutur tutur lisan agar tak kebablasan. Dan endingnya, sikap ini tak akan membiarkan pemangkunya untuk protes dalam sebuah ‘demontrasi’ yang anarkis, apalagi berenca melakukan makar.

Maka, sesungguhnya ‘revolusi akhlak’ itu dimulai dari hati, pribadi, kita sendiri, dan oleh kita sendiri bukan dari dan oleh orang lain. Mana mungkin, pribadi yang buruk mampu merevolusi keburukan? Akhlak adalah cerminan hati. Dan perubahan akhlak tidak akan muncul dari orang yang tinggi hati.

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo