Rasa Malu1
Rasa Malu1

Rasa Malu : Akhlak Muslim sebagai Benteng Diri

Rasa malu merupakan sifat atau perasaan yang melupakan bawaan dari manusia. Rasa malu mampu membentengi seseorang untuk berperilaku yang mampu merendahkan dirinya sendiri. Rasa malu mampu mendorong seseorang untuk menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda:

فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ

Artinya: “Sesungguhnya rasa malu merupakan bagian dari iman.”

Selain sebagian dari iman, Islam juga mewajibkan umatnya memiliki rasa malu, karena dengan memiliki rasa malu mampu meningkatkan akhlak manusia menjadi tinggi. Jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka dengan otomatis orang tersebut tidak akan mampu mengendalikan hawa nafsunya, dan bahkan hawa nafsu yang akan mengendalikan dirinya.

Di era sekarang ini rasa malu bisa dengan mudah dirobohkan lewat gaya hidup, terlalu mudahnya seseorang mengakses informasi yang terlalu terbuka maupun propaganda budaya suatu daerah atau Negara.

Sifat malu yang dimiliki manusia tergantung pada pengenalan dirinya kepada Rabbnya. Kuat tidaknya rasa malu yang dimiliki tergantung juga pada kondisi hati seseorang. Sedikit banyaknya rasa malu yang dimiliki juga dipengaruhi dari hidup dan matinya hati dan ruh dari seseorang.

Adapun cara menghidupkan ruh ataupun hati seseorang dengan mendekatkan diri kepada Allah, berusaha semakin mendekatkan diri kepada Allah. karena sifat malu merupakan ciri khas akhlak orang beriman.

Orang yang memiliki sifat ini apabila melakukan kesalahan atau yang tidak patut bagi dirinya akan menunjukkan penyesalan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki malu merasa biasa saja ketika melakukan kesalahan dan dosa meskipun banyak orang mengetahuinya.

Islam memandang malu merupakan salah satu cabang iman. Rasulullah bersabda,

Baca Juga:  Tradisi 10 Muharram sebagai Hari Raya Anak Yatim

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

Artinya: “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” (HR Bukhari-Muslim).

Sifat malu perlu ditampilkan seseorang dalam semua aktivitas kehidupan. Melaluinya, seseorang dapat menahan diri dari perbuatan tercela, hina, dan keji. Melalui sifat malu, seseorang akan berusaha mencari harta yang halal dan akan menyesal kalau ketinggalan melakukan kebaikan.

Melihat petingnya rasa malu dalam perilaku seseorang, maka pendidikan karakter, baik di rumah maupun di sekolah, harus diperhatikan. Artinya, seorang anak harus selalu dididik untuk memiliki perasaan malu kepada orang lain sehingga mampu mengurungkan niatnya untuk berbuat jelek.

Selain itu perlu diperhatikan bagi orang tua jangan lupa memberikan suri teladan yang baik. Keteladanan memancing simpati dan ketertarikan. Berapa banyak pendidikan gagal lantaran ketidak adanya keteladanan dari orang tua.

 

Bagikan Artikel

About Inke Indah Fauziah

Avatar