Muharram adalah awal bulan di tahun baru Islam sebagai bulan muhasabah bagi umat Islam. Sebagaimana ungkapan yang sangat terkenal dari sayyidina Umar Bin Khottob, “ hisablah dirimu sendiri sebelum engkau menghisab orang lain”.
Muhasabah yaitu mengintropeksi diri sendiri untuk meningkatkan kualitas iman dan amal shaleh, sebagaimana yang telah diajarkan nabi Muhammad bahwa kita mesti lebih baik dari tahun yang telah berlalu, jika kita tidak lebih baik dari tahun yang lalu maka kita adalah termasuk golongan manusia yang merugi.
Tentang waktu ada kata indah dari seorang ulama besar Imam Ibnu Al- Qayyim;
العا رف ابن وقته فإ ن أضا عه ضا عت عليه مصا لحه كلها فجميع المصالح إنما تنشأ من الوقت وإن ضيعه لم يستدركه ابدا
Artinya : “ Seorang bijak bestari adalah anak zaman, jika ia mengabaikannya, maka ia membiarkan kebaikan yang banyak. Semua kebaikan lahir dari waktu. Bila seseorang membiarkanya berlalu, ia tak akan mendapatkannya lagi”.
Kata indah ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi manusia yang berpikir, di mana setiap momentum besar yang tercatat dalam tinta sejarah peradaban manusia adalah karya besar dari manusia – manusia yang di anugerahi kebesaran oleh Tuhan dengan tidak melupakan ukiran tinta kebaikan untuk mengisi zamannya.
Bulan Muharram tepat di bulan Agustus merupakan bertemunya peristiwa besar permulaan peradaban manusia dan umat Islam dengan sejarah besar bagi bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri yaitu merdeka melepaskan diri dari kolonialisme.
Kalau peristiwa peristiwa besar ini luput dari pikiran anak bangsa, dan terjebak hanya dengan soal hari libur dan pergeserannya, bagaimana putra bangsa ini akan mampu menjadi penopang bangsa yang telah merdeka untuk menjadikan negara yang lebih baik. Bagaimana umat Islam mampu menjadi cahaya dan sumber nilai berbangsa dan bernegara.
Pelajaran Muharram dan Agustus
Ada pelajaran yang sangat penting bagi warga negara Indonesia yang beragama Islam dari peristiwa di bulan Muharram ini, yaitu bertemunya kaum Muhajirin dan kaum anshar yang mengangkat Nabi untuk menjadi pemimpin dalam membangun sebuah peradaban bangsa dengan peradaban baru yaitu merdeka dari dominasi bangsa lain serta bersatunya suku – suku yang bercerai berai untuk menemukan kesepakatan bersama, dengan menjungjung tinggi nilai hak asasi kemanusiaan, yang kemudian disebut dengan piagam Madinah.
Hak asasi manusia atau yang di kenal dengan HAM adalah hak setiap manusia karena ia melekat pada diri manusia, dalam bahasa lain disebut dengan Al- Kulliyyat al- Khams (lima prinsip kemanusiaan universal). Di bulan Muharram inilah oleh nabi Muhammmad sebetulnya mulai memperkenalkan nilai – nilai kemanusiaan yang universal.
Pada bulan Agustus tanggal 17 tahun 1945, bangsa Indonesia memproklamirkan dirinya sebagai bangsa yang telah merdeka dari kungkungan kolonialisme, yang mempunyai dasar Pancasila sebagai representasi nilai – nilai kemanusiaan yang universal di Indonesia.
Aplikasi prinsip kemanusiaan yang universal atau di kenal dengan Al- Kulliyyat al- Khams ini, di perkenalkan oleh seorang sufi besar sekaligus ahli hukum Imam Abu Hamid al Ghazali dalam karyanya al-Mustashfa min ‘Ilmi al- Ushul, kemudian diurai panjang lebar oleh seorang ahli hukum dari Granada yang terkenal, Syekh Abu Ishaq asy-Syatibi (w. 1388 M), dalam karyanya al Muwafaqat fi Ushul al- Syari’ah. (KH. Husein Muhammad, 2019).
Lima prinsip dasar kemanusiaan tersebut adalah setiap manusia mempunyai hak untuk beragama dan berkeyakinan (hifzh al- Dīn), hak untuk hidup dan perlindunganya (hifzh al-nafs), hak berpikir, berpendapat dan mengekspresikanya ( hifzh al -aql), hak atas kehormatan tubuh dan kesehatan reproduksinya (hifzh al irdh wa al-nasl), dan hak kepemilikan atas harta berbenda (hifzh al māl).
Tentang prinsip kemanusiaan ini Syekh Abdullah Darraj mengatakan ;
هى اسس العمران المرعيه فى كل ملة والتى لو لا ها لم تجر مصالح الدنيا على استقامة ولفا تت الجاة فى لأخرة
Artinya : “ ia (prinsip kemanusiaan) adalah dasar dasar pembangunan peradaban manusia pada semua agama yang jika tidak ada hal ini. Dunia tidak akan stabil dan tidak membawa kebahagiaan di akherat”.
Dengan demikian bulan Agustus ini, yang tepat pada bulan Muharam sebagai tahun baru Islam menjadi momentum muhasabah kebangsaan untuk mengingat kembali perjuangan bangsa Indonesia yang demi dasar kemerdekaan dan kemanusiaan membentuk negara bangsa. Momentum untuk mengingat kembali segala bentuk pengorbanan dalam perjuangan dan kesepakatan besar umat Islam dan segenap bangsa Indonesia untuk mewujudkan nilai nilai kemanusiaan.
Lalu, pantaskah di negeri yang berdiri dengan menjunjung tinggi nilai – nilai dasar kemanusiaan, ada saja yang melarang untuk hormat kepada bendera kejayaan negara bangsa Indonesia. Ada saja yang mencoba mengganti konstitusi negara dengan konsep khilafah yang tidak jelas konsepsinya.
Sangatlah mengerdilkan negara bangsa ini yang dibangun dengan kecerdasan dan kebijaksanaan para pendirinya, setelah merdeka bangsa ini sesak dengan sifat – sifat lekas marah, mengagumi diri sendiri, dan fanatisme yang tinggi terhadap kelompoknya. Keangkuhan, ekstrem, dan di atas semua itu, kecenderungan kronis kepada kekerasan dan pembalasan dendam, baik dilakukan secara politis ataupun terang terangan merupakan cacat moral dan sosial di tengah bangsa ini.
Alhasil, bulan Agustus sebagai bulan kemerdekan tepat di bulan Muharam semestinya dijadikan medan instropeksi bersama segenap komponen bangsa menata diri dan melepaskan sifat – sifat rendah yang meruntuhkan nilai kemanusiaan untuk menjadi bagian dari bangsa yang beradab dan tampil sebagai manusia pengisi peradaban bangsa yang luhur.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah