metode dakwah walisongo

Jejak Khilafah dan Islamisasi Walisongo di Nusantara (Bagian 2)

Istilah jejak Khilafah, yang dipopulerkan oleh eks HTI, sebetulnya sangatlah tidak jelas, baik secara definitf ataupun aplikatif dalam konsep politik Islam ataupun kajian khazanah keislaman di Nusantara. Istilah jejak ini adalah bagian dari cara para pengusung khilafah untuk mencoba mencari legalitas pembenaran khilafah di Nusantara. Alih-alih memperhitungkan fakta-fakta sejarah, jejak khilafah lebih pada bahasa propaganda.

Salah satu cara pandang yang cukup menyesatkan dari pencarian jejak khilafah adalah dengan menghubungkan Walisongo sebagai bagian dari jejak itu. Jejak Walisongo sebagai pioneer dalam islamisasi di nusantara dinarasikan bagian dari misi khilafah, bukankah ini adalah sebuah kemustahilan dan menyesatkan. Kenapa ini mustahil dan menyesatkan?

Sejarah islamisasi yang dibentuk Walisongo cukup dominan dalam pembentukan kultur Islam di Nusantara. Perwujudan kultural ala walisongo ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya melalui pesantren-pesantren yang kemudian menyepakati negara bangsa dan menolak negara Islam apalagi sistem khilafah ala eks HTI yang tidak mempunyai konsep politik yang jelas.

Para wali dan walisongo merupakan gabungan antara ahli syari’at dan tasawuf. Mereka telah mengembangkan Islam yang ramah yang bersifat kultural dengan adaptasi lokal. Sifat kultural ini bisa terbentuk karena memang para wali menekankan substansi dalam Islam bukan formalisasi Islam seperti para pengasong khilafah.  Substansi Islam ini kemudian dibumikan dalam bentuk budaya keagamaan lokal pra Islam.

Kerajaan Demak dan Para Wali

Saat para walisongo mendirikan Demak sebagai kerajaan Islam, Sunan Bonang mengusulkan bahwa Demak adalah kerajaan Islam. Namun, perlu dicatat bahwa konsepsi kerajaan Islam bukanlah konsep yang mengacu pada konsepsi khilafah ala eks HTI. Disepakatilah bahwa Walisongo sebagai dewan hakim dan legislatif. Raden Patah sebagai sultan penguasa pelaksana pemerintahan Demak.

Baca Juga:  Mengenal Konsep Azimah dan Rukhshah Agar Cerdas dalam Menyikapi Fatwa

Demak, tentu bukan bagian dari wilayah khilafah apalagi jika dihubungkan dengan sistem politik monarki di Timur Tengah, dan Turki Usmani. Demak menggunakan sistem trias Politica. jika ada istilah khalifah itu hanya penyebutan Raja sebagai pemimpin, bukan sebagai sistem kerajaan.

Setelah Demak. kemudian, Sunan Kalijogo  yang terkenal akomodatif terhadap tradisi local, mendidik para penguasa pribumi tentang Islam yang damai, toleran dan sepiritual. Melalui para muridnya antara lain. Sultan Hadiwijaya, Juru Martani, dan Senopati ing Alogo, Sunan Kalijaga berhasil menyelamatkan dan melestarikan nilai-nilai luhur yang bernanfaat sampai sekarang. Bahwa Islam tidak perlu dilaksanakan secara ideologis, tetapi dilaksanakan secara kultural (Zainul Milal Bizawi : 2016).

Jadi, di Nusantara ada jejak Islamisasi dari, Arab, Yaman, Haromain, Ottoman dan Kawasan Asia sebagai persilangan lintas kultur dengan Kawasan Nusantara yang lahir dari interaksi antar Budaya yang menghasilkan harmoni dalam tradisi, ritual dan pemahaman konsep – konsepnya. Islam di Nusantara tidak berangkat dari kekerasan, namun dari cara-cara perdamaian untuk meresap dihati. Bukan jejak Khilafah yang digaungkan terus oleh eks HTI.

Keberhasilan dakwah Walisongo yang menyatu dengan kultur masyarakat Jawa bisa dilihat, dalam tinjauan sosiologis. Keberadaan Walisongo hampir selalu dihubungkan dengan pusat- pusat kekuatan masyarakat yang dicirikan oleh identitas Dakwah islam. Ini adalah bukti bahwa Walisongo tidak menyebarkan konsep khilafah ala HTI yang tidak diterima dan atau tidak mempunyai tempat dalam kultur masyarakat Indonesia.

Tempat-tempat para tokoh walisongo tinggal seperti, Giri, (kediaman sunan giri), Gresik (Kediaman Sunan Gresik ), Ampel (kediaman Sunan Ampel), Drajat (Kediaman Sunan Drajat), Bonang (kediaman Sunan Bonang), Kadilangu (Kediaman sunana Kalijaga), Kudus (kediaman Sunan Kudus), Muria (kediaman Sunan Muria), Cirebon, (kediaman Sunan Gunung Jati), senantiasa dihubungkan dengan pusat -pusat kekuatan dakwah islam, yang pengaruhnya sangat kuat di tengah – tengah masyarakat. ( Agus Sunyoto : 2018).

Baca Juga:  3 Amalan yang Dapat Memperpanjang Umur

Di Mana Khilafah dalam Sejarah Nusantara?

Lalu pertanyaanya, di manakah tempat-tempat HT kalau di Indonesa eks HTI pengusung Khilafah tinggal,  yang menjadi pusat kekuatan dakwah islam ?

Jika menghubungkan ketersambungan dakwah Khilafah eks HTI dengan dakwah Walisongo itu sama dengan mengkerdilkan peranan Walisongo dalam mendakwahkan islam di Nusantara. Dan itu adalah manipulasi  sejarah, dipastikan untuk kepentingan sahwat politik pengusung Khilafah.

Kemudian jika ditinjau dari aspek kronologi kesejarahan, keberadaan Walisongo selalu dikaitkan dengan tumbuhnya masyarakat muslim yang memiliki ciri-ciri tidak sama dengan masyarakat yang hidup di era Majapahit. Artinya, proses Islamisasi di Nusantara terjadi dengan proses yang sangat pelik dan panjang diterimanya islam oleh penduduk pribumi, secara bertahap membuat islam terintegrasi dengan tradisi, norma, dan cara hidup keseharian penduduk lokal, (Agus Sunyoto : 2018, Nor Huda : 2007).

Wal hasil, tidak diterimanya HTI dan konsep Khilafahnya di Bumi Indonesia ini, bukan karena dampak pobia terhadap Islam, atau antipati, juga bukan karena hasutan dari luar untuk bertikai sesama Islam seperti yang dituduhkan oleh kelompok eks HTI. Tetapi karena Khilafah ala eks HTI tidak mempunyai akar sejarah di Nusantara ini, baik dalam proses kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara maupun proses politik islamisasi di Indonesia, terbukti para Ulama Nusantara menyepakati Negara Bangsa bukan Negara islam.

Negara Bangsa, adalah bukti kongkrit karya ulama Nusantara pewaris estafet perjuangan Walisongo. Karena Negara Bangsa bukan Negara Agama, tetapi Negara yang Beragama yang mempunyai keadaban dan santun dalam merajut keberbedaan untuk Bersatu sebagai warga Negara Indonesia yang Beradab. Inilah Islam substantif yang dibawa oleh para wali kemudian sebagai inspirasi bernegara bukan sebagai aspirasi dalam bernegara.

Baca Juga:  Menengok Maroko (2) : Enam Tarekat Sufi Besar Dunia Berasal dari Maroko

 

 

Bagikan Artikel

About Karyudi

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA Jakarta