sains islam
sains islam

Sains dan Teknologi dalam Al Qur’an, Warisan Islam yang Terlupakan

Fakta miris yang dialami umat Islam saat ini adalah lemah dalam bidang sains dan teknologi. Fenomena debat kusir masalah furu’iyah (Ikhtilaf) hukum agama lebih dominan dari pada diskursus ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.

Boleh jadi hal ini merupakan konspirasi arus besar yang ingin melemahkan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga ada saja kelompok yang seakan bertugas membuat keonaran ilmiah dengan isu bid’ah, murtad, takfiri, terorisme dan sebagainya. Umat Islam tidak pernah beranjak dari persoalan klasik mempertarungkan antara perbedaan paham internal Islam yang tak kunjung kelar.

Ayat tentang hukum Islam begitu banyak diminati bahkan juga dileburkan dengan kepentingan politik. Perpaduan perbedaan pemahaman dengan kepentingan politik melahirkan sejarah kelam dalam Islam. Islam menjadi ribut dan saling sikut secara internal dan melupakan warisan besar pengetahuan lain yang ada dalam al-Qur’an.

Padahal, kalau sedikit saja melek dan memperbandingkan, ayat sains dalam al Qur’an jauh lebih banyak dari ayat hukum. Jumlah ayat hukum, seperti disebutkan dalam kitab al Mustashfa karya Imam al Ghazali hanya ada sekitar lima ratus ayat. Demikian juga menurut Ibnu Qudamah, al Razi dan al Muqathil bin Sulaiman. Bahkan menurut Abu al Thayyib al Qanuji, jumlah ayat hukum dalam al Qur’an hanya berkisar diangka dua ratusan.

Sedangkan ayat kauniyah, ayat yang mengarahkan pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan, menurut hitungan Ahmad al Ghamrawi jumlahnya kurang lebih delapan ratus. Dan menurut Prof. Zaglul al Najjar, ayat kauniyah yang secara tegas berbicara alam semesta berkisar diangka seribu. Sedangkan yang tidak secara tegas jumlahnya ratusan.

Dengan demikian, ayat al Qur’an yang mengarah kepada sains dan teknologi jumlahnya sangat banyak. Akan tetapi tidak mendidik umat Islam untuk menguasai ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang sains dan teknologi. Sebaliknya, ilmu pengetahuan dan teknologi justeru berkembang di Barat, dikuasai oleh mereka yang tidak membaca al Qur’an.

Baca Juga:  Hari Anak Nasional Selaras Perhatian Al-Quran terhadap Anak, Ini Buktinya

Fenomena terbalik ini sebenarnya mudah dijawab. Ayat terkait ilmu pengetahuan dalam al Qur’an hanya berupa anjuran untuk melakukan penelitian di alam semesta. Bukan berupa rumus atau ilmu jadi untuk membuat teknologi tertentu. Hanya berupa isyarat yang sangat halus.

Ilmu pengetahuan sifatnya universal. Tidak dikhususkan kepada uamat Islam saja. Semua orang, dari agama manapun, bisa memperolehnya dengan cara mempelajari dan melakukan penelitian. Siapa cepat dia dapat. Siapa yang berusaha dia yang bisa. Seperti rejeki yang Allah berikan kepada seluruh manusia.

Dulu, umat Islam sempat mengalami masa jaya dalam bidang pengetahuan. Seperti biologi, kedokteran, fisika, kimia, matematika, geografi, astronomi, ekonomi, hukum dan tata negara. Pada masa itu, peradaban Islam menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia. Ilmu pengetahuan modern di Barat saat ini juga tidak lepas dari pengaruh peradaban pengetahuan yang dibangun oleh ilmuwan muslim pada masa keemasannya.

Menyiapkan Generasi Ilmuwan Muslim

Tetapi, memasuki abad ke-18 dan abad ke-19, disaat ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami masa percepatan perkembangannya, situasi berbalik secara drastis. Umat Islam tertinggal begitu jauh dari kalangan non Islam, khususnya negara Barat. Umat Islam kembali lagi ke titik nol. Sampai saat ini.

Bayangkan dalam kasus covid-19, umat Islam masih saja bertinju keyakinan dan pemahaman tentang sumber bencana ini sebagai hukuman, azab dan tentara Allah. Umat Islam tidak beranjak pada penyelidikan ilmiah yang mencoba membongkar sumber dan penangkalnya. Ilmu kedokteran dalam Islam pada masa lalu sebenarnya andalan dan kiblat dunia Barat, tetapi saat ini hanya menafsir kejadian medis dengan persoalan teologis.

Oleh karena itu, penting untuk segera berbenah diri secepatnya mengejar ketertinggalan dan mencari kembali warisan masa keemasan Islam. Hilangkan tradisi berdebat masalah khilafiya. Stop hobi menuduh bid’ah, menahan diri menyalahkan kelompok lain, hentikan propaganda terorisme dan kekerasan yang sangat merugikan.

Baca Juga:  Refleksi Muharram di Bulan Agustus Momentum Muhasahabah Kebangsaan

Mari kita kembali membaca al Qur’an secara benar, memahami maknanya, menggali isinya, terbang tinggi meraih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …