tradisi sahur
tradisi sahur

Semarak Ramadan : Memilah Tradisi dan Ajaran Syar’i

Bulan ramadhan terdapat banyak sekali tradisi yang tengah berkembang di tengah masyarakat Indonesia. Praktek kebiasaan itu telah tertanam lama hingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peringatan Ramadan. Maka terkadang orang susah membedakan ini adalah bagian dari ajaran yang berlandasakan syariat atau hanya sekedar tradisi.

Salah satu contoh yang menarik misalnya tentang kebiasaan makan sahur. Jelas bahwa sahur adalah ibadah yang mempunyai landasan syari dalam Islam. Sunnah ibadah sahur dengan bangun untuk makan agar kuat dalam menjalani puasa esok harinya.

Sementara kebiasaan yang dianggap tradisi sebagai bagian yang melekat dalam aktifitas sahur adalah saling membangunkan sahur. Praktek membangunkan sahur adalah membantu orang lain melaksanakan ibadah sahur. Membantu dan mendorong yang lain melaksanakan ibadah tentu sebuah pahala.  

Pada prakteknya tentu banyak yang dilakukan baik dengan cara keliling kampung maupun membangunkan orang dengan toa masjid. Sebenarnya semangat membangunkan orang untuk melakukan sahur sebagai bagian dari ibadah adalah tradisi yang baik karena didasarkan atas dalil-dalil yang baik.

Namun masalah toa pada bulan Ramadan kadang menjadi polemik di kalangan masyarakat kita. Banyak dari mereka yang merasa terganggu dengan tradisi tersebut, meski banyak juga yang memaklumi karena hal tersebut dipandang tradisi yang sudah ada mungkin sebelum mereka lahir. Bahkan memakluminya sebagai peringatan yang hanya terjadi sekali dalam setahun.  Tak sedikit dari mereka merasa, panggilan sahur tersebut membuat Ramadan memiliki ciri khas dan lebih semarak dan layak dikenang.

Terkadang memang perlu sikap arif. Memaksakan harus menjalankan tradisi membangunkan orang tetapi berpotensi mengganggu mereka yang tidak berpuasa juga tidak baik. Namun, terkadang Ramadan yang layak dikenang juga dengan adanya tradisi yang menyentuh seperti membangunkan sahur itu. Karenanya butuh sikap yang arif dalam melakukannya.

Baca Juga:  Jejak Ulama’ Nusantara (2) : Seruan Memanusiakan Manusia Menurut Gus Mus

Toa Ramadan : Toleransi dan Atraksi

Namun, meski seperti itu, sikap toleransi memang perlu di perhatikan. Jangan sampai niat baik dengan membangunkan justru malah berdampak kurang baik. Dengan membangunkan sahur dengan toa namun bukan pada jam sahur, seperti masih jam 02.00 pagi, malah akan menggangu seseorang yang mungkin tengah istirahat atau bahkan sedang melakukan solat tahajud.

Perlu di ketahui bahwa terdapat aturan terkait penggunaan pengeras suara masjid (toa). Dalam surat Edaran Nomor B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018 tentang Pelaksanaan Instruksi Dirjen Binmas Islam Nomor: Kep/D/101/1978 Tentang Tuntutan Penggunaa Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla.

Toa memang di pergunakan untuk pengeras suara. Dan berkaitan dengan toa pada bulan ramadhan harusnya tidak menjadi polemic setiap tahunnya. Masjid hanya perlu memberikan arahan dalam penggunaan toa secara proporsiaonal yang di kembangkan dari sikap toleransi dan rujukan edaran pemerintah.

Jangan sampai kebersamaan dan kerukunan umat Islam terganggu hanya karena masalah toa. Apabila terjadi keluahan oleh publik figure terkait masalah toa yang dinilai mengganggunya, jangan juga dijadikan generalisasi. Jangan sampai toa juga dilarang untuk membangunkan sahur, karena akan mungkin berdampak pada kegiatan tadarusan yang akan mungkin dinilai mengganggu karena sudah waktu orang bersantai di rumah karena padatnya aktifitas pekerjaan.

Perlunya pengembangan sikap toleransi, saling menghormati, dan saling menghargai. Setiap tempat atau daerah memiliki karakter masing-masing, termasuk dalam menyikapi masalah toa tersebut. Karena diakui atau tidak, sisi baik dari adanya toa, bisa ikut mendukung syiar di bulan ramadan. Gunakan toa dengan bijak, jaga kerukunan umat, dan gapai hikmah Ramadan. 

Bagikan Artikel

About Imam Santoso