dakwah rasulullah
dakwah rasulullah

Seni dalam Kehidupan Rasulullah

Agama dan seni adalah dua entitas yang berbeda, namun memiliki keterkaitan yang erat. Agama membawa nilai spiritualitas, sementara seni memiliki unsur nilai estetis atau keindahan yang disukai oleh manusia.

Secara fitrah, setiap manusia menggemari seni. Seni memancarkan kenikmatan tersendiri yang bisa dirasakan. Kenikmatan lahiriyah dan batiniyah. Bahkan, seni memiliki nilai spiritual karena keindahannya terpancar dari kreasi Tuhan yang dititipkan kepada manusia.

Rasulullah, sebagai teladan agung juga sangat mengapresiasi seni. Banyak hadis yang mengisahkan ketertarikan dan kecenderungan Nabi dalam menikmati seni. Bahkan, hadis dengan perawi, sanad dan matan yang shahih menceritakan betapa Nabi sangat menyukai atau menggemari seni.

Dari Aisyah, ia berkata, dua gadis perempuan budak sedang bernyanyi seraya memukul gendang, (kulihat) Rasulullah berbaring tapi dengan memalingkan mukanya. Pada saat itu Abu Bakar masuk dan marah kepada saya, katanya, “di tempat Nabi ada seruling saitan”? Mendengar hal itu Rasulullah berkata, “biarkanlah keduanya wahai Abu Bakar”. Tatkala Abu Bakar sudah tidak memperhatikan lagi, saya suruh dua perempuan itu untuk keluar. Waktu itu adalah hari raya dimana orang-orang Sudan sedang menari dengan memainkan alat-alat penangkis dan senjata perangnya”. (HR. Bukhari).

Hadist ini kemudian dijadikan hujjah oleh para ulama yang membolehkan nyanyian dan musik. Sebab, jelas Nabi tidak melarang untuk mengekspresikan nyanyian dan musik. Tapi tentu saja dengan catatan nyanyian yang ditembangkan mengandung hal-hal yang ma’ruf (kebaikan), tidak membaitkan unsur-unsur kemaksiatan.

Aisyah juga menceritakan bahwa ia pernah mengawinkan seorang wanita dengan seorang laki-laki dari kalangan Anshar. Pada saat itu, Nabi bersabda, “Hai Aisyah, tidak adakah padamu hiburan (nyanyian) karena sesungguhnya orang-orang Anshar menyukai hiburan”. (HR. Bukhari).

Baca Juga:  Ulama yang Sejati menurut Imam Syafi'i

Dari dua hadist shahih ini sudah bisa dipahami, sejatinya Islam sangat mengapresiasi kesenian. Sebagaimana telah maklum, Islam adalah agama paripurna yang sangat memperhatikan tabiat dan kebutuhan manusia baik jasmani maupun ruhani. Islam menekankan terpenuhinya dua kebutuhan tersebut secara seimbang. Itulah kenapa, dalam setiap rumusan hukumnya selalu mengacu pada kemaslahatan manusia sebagai objeknya (maqashidus syaria’ah).

Karenanya, kemudian ada penyebutan seni Islami dan seni yang tidak Islami. Kontekstualisasi dua hadis di atas berbicara bahwa semua kesenian yang tidak mengandung unsur-unsur kesyirikan dan kemaksiatan hukumnya boleh. Apalagi, jika kesenian itu berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam.

Untuk dikatakan Islami kesenian tidak harus berupa nasihat langsung untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan amal-amal shaleh. Tidak juga penampilan abstrak tentang akidah, tapi seni Islami adalah seni yang menggambarkan wujud bahasa atau lambang dengan nilai keindahan serta sesuai dengan cetusan fitrah manusia.

Seni adalah ekspresi tentang keindahan alam, tentang keindahan hubungan sesama manusia dan tentang keindahan Tuhan. Maka, kalau ajaran Islam kemudian diekspresikan dan diperkenalkan dengan seni, semisal seni wayang, maka itu merupakan kreatifitas untuk menyentuh perasaan terdalam seseorang supaya memahami bahwa Islam adalah agama yang benar.

 

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

buya syafii

Buya Syafii Maarif; Cendikiawan Muslim dan Ulama yang Toleran

“Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam …

murtad

Murtad Kemudian Islam Lagi, Apakah Shalatnya Wajib Qadha’?

Kita mendapat kabar Nania Yusuf alias Nania Idol yang murtad pada tahun 2009 lalu kini …