salah kiblat
kiblat

Setelah Shalat Baru Menyadari Ternyata Salah Arah Kiblat?

Titah-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram” (al Baqarah: 145)

Yang dimaksud adalah menghadap Masjidil Haram ketika shalat. Kalau tidak, maka shalatnya batal karena menghadap kiblat menjadi syarat sahnya shalat.

Ayat di atas dipertegas lagi oleh sabda Nabi: “Jika kamu hendak mendirikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kiblat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama beda pendapat tentang masalah menghadap kiblat, apakah harus persisi lurus menghadap Masjidil Haram (‘ainul Ka’bah) atau cukup menghadap arah kiblat saja (jihatul Ka’bah)?

Menyikapi perbedaan ini tentu umat Islam boleh mengambil salah satu pendapat sesuai madhab yang dianutnya. Karena yang terpenting adalah mengahadap kiblat sebagai syarat sahnya shalat.

Bagaimana kalau setelah melakukan shalat ternyata tidak menghadap kiblat? Apakah perlu diulang atau tidak?

Syaikh Khatib al Syarbini dalam kitabnya Mughnil Muhtaj menjawab pertanyaan ini. Sebelum masuk waktu shalat atau setelah masuk waktu shalat seseorang shalat berdasarkan ijtihadnya sendiri, atau ikut (muqallid) pada seseorang, tetapi setelah shalat ia yakin kalau shalatnya tadi tidak menghadap kiblat, maka ia wajib mengulang shalatnya. Dan, apabila waktu shalat telah habis ia wajib mengqadha’ menurut pendapat yang adzhar.

Sebagian ulama yang lain berpendapat shalatnya tidak perlu diulang, sebab tidak menghadap kiblat bukan karena faktor kesengajaan namun karena udzur. Hal ini sama dengan kondisi saat perang yang diperbolehkan tidak mengahadap kiblat. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Turmudzi berdasarkan kesepakatan para ahli ilmu dan dipilih oleh Imam Muzani. Adapun kalau yakin keliru ketika shalat maka shalatnya harus diulang.

Perlu digaris bawahi hukum ini berlaku kalau seseorang yakin salah arah kiblat. Tetapi kalau hanya menduga salah maka shalatnya tak perlu diulang atau diqadha’. Shalatnya sah.

Baca Juga:  Fikih Banjir : Bagaimana Status Barang yang Terhanyut Banjir?

Bagaimana menyikapi dua beda pendapat para ulama di atas?

Menurut saya pendapat pertama yang harus dipedomani sebagai langkah kehati-hatian. Seperti telah maklum, shalat adalah kewajiban utama dan menjadi penentu terhadap amal yang lain. Kalau shalat sudah dianggap tidak bernilai karena tidak dikerjakan atau dikerjakan tapi batal, maka seluruh amal yang lain tidak akan diperhitungkan. Karenanya, hati-hati dalam masalah shalat akan lebih baik.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

kriteria pemimpin

Fikih Politik (1): Kriteria Pemimpin dalam Islam

Tahun politik aromanya telah tercium. Pilpres 2024 mulai menjadi obrolan utama. Di media massa, di …

Fikih Kurban

Fikih Kurban Lintas Madhab (4): Hewan Kurban untuk Berapa Orang?

Berkurban bukan hanya semata ibadah, ia lebih dari itu. Ibadah sekaligus melatih diri untuk berbagi. …