Telah maklum, menghadap kiblat termasuk fardu (syarat sah) shalat. Konsekuensinya, bila seseorang shalat tidak menghadap ke kiblat shalatnya tidak sah. Menghadap kiblat menjadi salah satu syarat penting sehingga penentuan arah kiblat menjadi sangat krusial dalam Islam.

Tentu saja, syarat menghadap kiblat tidak berlaku dalam kondisi tertentu semisal shalat Khauf dan shalat sunnah yang dilakukan di atas kendaraan. Seperti telah dicontohkan oleh Rasulullah. Dari Amir bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku melihat  Rasulullah shalat (Sunnah) di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraannya itu menghadap”. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Tentang hal ini Allah berfirman, “Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah” (al Baqarah: 115).

Namun, dalam kondisi normal, seluruh ulama madzhab bersepakat bahwa shalat wajib menghadap ke kiblat. Namun, mereka berbeda pendapat soal apakah wajib menghadap persis ke fisik bangunan Ka’bah (‘Ainul Ka’bah) ataukah cukup menghadap ke arah Ka’bah saja (jihatul Ka’bah).

Maksud ‘ainul Ka’bah adalah persis ke arah fisik bangunan Ka’bah. Sedangkan jihatul Ka’bah yang penting menghadap ke arah Ka’bah dan tidak harus persis lurus ke fisik bangunan Ka’bah.

Menurut Madhab Imam Syafi’i dan Madhab Imam Hanbali ketika shalat, baik shalat wajib ataupun shalat sunnah, harus menghadap persis ke arah fisik bangunan Ka’bah. Sedangkan Madhab Imam Malik dan Madhab Imam Hanafi membuat klasifikasi. Jika orang yang shalat melihat Ka’bah secara langsung dengan mata kepalanya (tanpa alat bantu), wajib menghadap ke arah fisik bangunan Ka’bah. Sebaliknya, bila tidak melihat Ka’bah secara langsung dengan mata inderanya, cukup menghadap ke arah Ka’bah. Misalnya orang Indonesia, maka cukup menghadap ke arah Barat karena Makkah (Ka’bah) posisinya ada disebelah barat Indonesi.

Dalil Madhab Imam Syafi’i dan Madhab Imam Hanbali

Dua madhab ini mendasarkan pendapatnya pada al Qur’an, hadis dan qiyas. Ayat al Qur’an yang dijadikan dalil adalah firman Allah, “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”. (al Baqarah: 144). Kata “ke arah” (syathrah) dalam ayat ini bermakna arah fisik bangunan Ka’bah.

Sedangkan hadis yang dijadikan dalil adalah hadis dari Usamah bin Zaid, ia berkata, “Bahwasannya Rasulullah melaksanakan shalat dua rakaat di depan Ka’bah, lalu beliau bersabda, “Inilah kiblat”. (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini, persisnya sabda Nabi “inilah kiblat” menurut Madhab Syafi’i dan madhab Hanbali menunjukkan pembatasan. Dari sini mereka berkesimpulan bahwa tidak ada kiblat selain fisik bangunan Ka’bah.

Dalil qiyas yang diajukan adalah sikap Rasulullah yang sangat mengagungkan Ka’bah. Sedangkan shalat termasuk syiar Islam yang paling agung. Maka ketika sahnya shalat harus menghadap ke arah fisik bangunan Ka’bah, hal itu menambah agungnya Ka’bah. Oleh karena itu syariat Islam mewajibkan seseorang ketika shalat wajib menghadap ke arah fisik bangunan Ka’bah.

Di samping itu, Ka’bah sebagai kiblat shalat merupakan perintah dan ketetapan dari Allah dan rasul-Nya secara pasti (qath’i). Sedangkan kiblat selain Ka’bah (jihatul Ka’bah) hanya berdasar kepada praduga saja (dzanni). Dalil qath’i lebih kuat dari dzanni. Alasan lain karena menjaga sikap hati-hati dalam shalat sebuah keharusan. Oleh karena itu wajib menghadap ke arah fisik bangunan Ka’bah.

Dalil Madhab Maliki dan Madhab Hanafi

Dasar pendapat dua madhab ini merujuk pada Al Qur’an, hadis, amalan sahabat dan nalar akal. Ayat al Qur’an yang dijadikan dalil sama dengan ayat yang dijadikan dasar oleh madhab Syafi’i dan madhab Hanbali. Yakni firman Allah, “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”. (al Baqarah: 144). Perbedaannya, menurut dua madhab ini “syathru” tidak berarti ‘Ainul Ka’bah melainkan jihatul Ka’bah. Oleh karena itu, menghadap ke arah menyamping Ka’bah sekalipun yang penting masih di area Masjidil Haram tidak melanggar ayat di atas.

Adapun dalil hadisnya adalah sabda Nabi, “Antara Timur dan Barat, itulah kiblat”. (HR. Ibnu Majah, Turmudzi, Nasai dan lainnya).

Juga sabda Nabi, “Baitullah (Ka’bah) adalah kiblat bagi orang yang shalat di Masjid (Masjidil Haram), Masjidil Haram kiblat bagi penduduk tanah haram, dan tanah haram merupakan kiblat penduduk bumi di Timur dan Barat dari umatku”. (HR. Baihaqi).

Madhab Maliki dan Madhab Hanafi juga menguatkan pendapatnya pada amalan sahabat. Ketika orang-orang yang ada Quba sedang melaksanakan shalat subuh, tiba-tiba datang seseorang seraya memberitahukan kepada mereka bahwa Rasulullah telah menerima wahyu dan kiblat beralih ke Masjidil Haram. Seketika itu mereka memutar arah menghadap Masjidil Haram tanpa sedikitpun bertanya tentang petunjuk arah yang persis menghadap ke arah fisik bangunan Ka’bah. Nabi tidak menegur kejadian ini.

Secara nalar akal sehat, menurut madhab Maliki dan Madhab Hanafi, orang yang diam di dekat kota Makkah saja kesulitan menentukan arah yang persis menghapad ke fisik bangunan Ka’bah, apalagi umat Islam yang tinggal di penjuru bumi yang jauh dari Makkah.

Berdasarkan pada analisa ini, maka tentu yang paling mungkin dan tidak memberatkan umat Islam adalah hukum yang menyatakan bahwa ketika shalat tidak harus persis menghadap ke fisik bangunan Ka’bah. Cukup menghadap ke arah Ka’bah.

1 KOMENTAR

  1. Avatar Tafsir Ahkam Kiblat Shalat (3): Ke Mana Seharusnya Pandangan Mata Ketika Shalat? | Islam Kaffah

    […] satu pembahasan penting dalam persoalan menghadap kiblat dan perlu diketahui oleh umat Islam ketika shalat adalah arah pandangan mata. Sebaiknya arah […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.