bulan sya'ban

3 Perintah Allah yang Turun di Bulan Sya’ban (1) : Peralihan Arah Kiblat

Bulan Sya’ban ialah salah satu bulan mulia yang dipercayai oleh umat Islam. Sya’ban terletak di tengah-tengah bulan-bulan mulia juga, yakni Rajab dan Ramadlan. Menurt banyak umat Islam, kemuliaan bulan Sya’ban terletak pada malam hari Nisfu Sya’ban atau malam hari diseparuh bulan Sya’ban. Karena di malam hari itu, Allah membebaskan atau menghapus dosa-dosa umat Islam.

Janji Allah di atas sebagaimana dalam hadist dari Mu’adz bin Jabal dari Rasulullah SAW bersabda ”Allah melihat kepada semua hambanya di malam Nisfu Syaban, kemudian memberikan pengampunan kepada mereka semuannya kecuaci orang musyrik dan orang yang mengajak kepada perselisihan.” (HR. Al-Baihaqi dan An-Nasa’i)

Tahukah kalian, selain faktor Nisfu Sya’ban, kemuliaan bulan Sya’ban juga dikarenakan ada 3 perintah Allah yang turun di bulan tersebut. 3 perintah Allah yang kemudian disyariatkan kepada seluruh muslim inilah yang membedakan ibadah umat Islam dengan umat-umat nabi terdahulu atau syariat nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW.

Sebagai seorang muslim, kita selayaknya harus mengetahui sejarah atau peristiwa penting yang berkaitan dengan syariat-syariat Islam. Hal ini dilakukan supaya keimanan kita bertambah kuat dan Islam kita menjadi kaffah. Mengingat pentingnya peristiwa sejarah tentang 3 perintah Allah yang di turunkan di bulan Sya’ban ini, maka tulisan ini akan dibagi ke dalam  tiga seri.

Perintah Allah untuk menggeser arah kiblat

Satu dari tiga perintah Allah yang turun di bulan Sya’ban adalah perintah Allah untuk mengalihkan arah kiblat. Sebelumnya, shalat umat Islam berkiblat ke Baitul Maqdis/Masjidil Aqsha di Palestina. Kemudian Allah perintahkan kepada nabi Muhammad SAW untuk mengalihkannya ke Masjidil Haram/ka’bah di Mekah.

Perintah Allah itu terjadi pada bulan Sya’ban. Tepatnya ketika hari Selasa di malam nisfu Sya’ban. Perintah peralihan arah kiblat ini memang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu oleh nabi SAW. Pendapat ini menurut Imam Al-Qurthubi saat menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144 dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an. Beliau mengutip pendapat dari Abu Hatim Al-Busti atau yang kita kenal sebagai Imam Ibnu Hibban.

Baca Juga:  Menjawab Tuduhan Bid'ah Pada Acara Dzikir Dan Doa Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Dikisahkan bahwasanya Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu dari Allah turun perihal peralihan arah kiblat. Kemudian turunlah wahyu Allah surat Al-Baqarah ayat 144 yang berbunyi:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Alasan Dialihkannya kiblat

Sebelum hijrah ke Madinah, tidak ada nada meragukan dan melecehkan terkait kiblat shalat umat Islam yang saat itu ke Masjidil Aqsha. Namun setelah 2 tahun hijrahnya nabi Muhammad SAW ke Madinah dan hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain, maka mulailah ada yang meragukan dan melecehkan Islam.

 Mereka atau pemeluk agama lain menganggap bahwa agama Islam hanya meniru kiblat dan ibadah mereka yang serupa. Anggapan tersebut disebarkan oleh ahli kitab- ahli kitab mereka ke seluruh penjuru kota Madinah. Yang akhirnya banyak orang yang meragukan Islam juga.

Hal tersebut membuat nabi Muhammad SAW menjadi bimbang dengan fenomena tersebut. Akhirnya Allah memberikan jawaban atas kebimbangan nabi Muhammad SAW dan keraguan umat agama lain tentang Islam. Dengan turunnya perintah Allah dalam surat al-Baqaeah ayat 144 tersebut membuat mereka (ahli kitab) mulai yakin dengan Islam dan kerasulan Muhammad SAW yang memang sudah tergambar dalam Taurat dan Injil. Maka tak sedikit dari mereka yang masuk Islam. Dan banyak juga dari mereka yang masih dalam kekafirannya dengan masih pula mengolok-olok Islam.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar