bulan sya'ban

3 Perintah Allah yang Turun di Bulan Sya’ban (2): Perintah Bershalawat Kepada Nabi Muhammad SAW

Dalam tulisan sebelumnya, kita sudah tahu bahwa kemuliaan bulan Sya’ban selain karena malam Nisfu Sya’ban, juga karena ada perintah peralihan arah kiblat. Perintah tersebut sungguh sangat menentukan perkembangan agama Islam, yang hingga kini bisa kita rasakan. Peristiwa ini juga menandakan kasih sayang Allah kepada nabi Muhammad SAW, yang ketika itu dihina oleh para ahli kitab tentang kesamaan arah kiblatnya dengan agama-agama yahudi dan Nasrani.

Selain itu, bayangkan jika, tidak ada peralihan arah kiblat ke Ka’bah di Mekkah, yang notabane sebagai ‘baitullah’, kemungkinan besar bangunan itu sudah tak berguna atau bahkan sudah lenyap. Makanya dulu ketika raja Abrahah mau menghancurkan Ka’bah, ia dan pasukannya tak berhasil, itu karena Allah sudah persiapkan Ka’bah sebagai tempat kiblat bagi umat Islam.

Perintah Allah untuk bershalwat kepada nabi Muhammad SAW

Selanjutnya termasuk 3 perintah Allah yang diturunkan di bulan Sya’ban adalah perintah untuk bershalawat kepada nabi Muhammad SAW. Bukti bahwa Allah wajibkan umat Islam bershalwat adalah diturunkannya wahyu Allah surat al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Perintah Allah kepada makhlukNya ini sungguh sangat fenomenal sekali. Betapa tidak, dari semua perintah Allah kepada makhlukNnya, hanya perintah shalawat saja yang Allah juga melakukannya. Maka tak heran, ketika ayat tersebut turun di bulan Sya’ban, nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa Sya’ban adalah bulannya.

Pengakuan nabi Muhammad SAW di atas tercatat dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan Imam ad Dailami yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radiyallahu ‘anha:

شَعْباَنُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ اللِه وَشَعْبَانُ المُطَهِّرُ وَرَمَضَانُ المُكَفِّرُ

Baca Juga:  Memahami Ayat-ayat Toleransi dan Perang [1]: Dualisme Wajah Islam?

“Sya’ban adalah bulan (milik-ku), dan Ramadhan bulan (milik-Nya) Allah. Bulan Sya’ban menyucikan dan Ramadhan menghapuskan dosa”.

Banyak para ulama’ mengomentari ayat dan hadist di atas, yang semuanya mempercayai Sya’ban sebagai bulannya nabi SAW. Salah satu yang mengemukakan pendapatnya yakni Rajanya para wali, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. Beliau dalam Kitabnya al-Gunyah, Jilid 3 Halaman 342 mengatakan:

وهو شهر الصلاة على النبي المختار

“Sya’ban Ialah bulan bershalawat kepada Nabi pilihan”.

Kemudian, sama dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban, Halaman 25-26 mengatakan bahwa:

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban adalah Allah menurunkan ayat ini (al-ahzab: 56) pada bulan Sya’ban. Sayyid Muhammad lalu mengutip pendapat dari Imam Abu Daif al-Yamani dan Imam Syihabuddin Al-Qastilani yang menyatakan bahwa:

ان شهر شعبان شهر الصلاة على النبي لأن الاية “إن الله وملائكته يصلون على النبي” نزلت فيه

“Sesungguhnya bulan sya’ban ialah bulan shalawat, karena ayat tersebut turun di bulan itu (Sya’ban)”.

Mengomentari Hadits ini Sayyid Muhammad lalu menjelaskan:

قلت ويحتمل اضافته اليه صلى الله عليه وسلم لانه نزلت اية الصلاة والسلام على النبي.

“Kemungkinan Pengakuan Sya’ban sebagai bulan milik Nabi, karena ayat perintah bershalawat turun di bulan tersebut”.

Dengan demikian, kita seharusnya bersyukur pada Allah dijadikan sebagai umat nabi Muhammad SAW. Walaupun tak menjumpai beliau, kita cukup bershalawat dengan kalimat singkat saja sudah dinilai ibadah dan diakui sebagai umatnya beliau. Artinya, jika sudah diakui sebagai salah seorang umatnya, maka nabi SAW pasti akan memberikan syafaat di hari kiamat nanti. Wa Allahu A’lam

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar