Tarawih Kilat

Shalat Tarawih 8 atau 20 Rakaat: Mana yang Benar?

Ramadhan 1442 sudah tiba. Segenap kaum muslimin menyongsong bulan mulia itu dengan penuh gembira. Sudut-sudut Masjid dan Musholla dijejaki oleh para jamaah yang melaksanakan shalat tarawih, hendak meraih pahala dari-Nya. Sungguh luar biasa. Inilah satu diantara sekian banyak alasan mengapa bulan puasa selalu dinantikan oleh umat seantero dunia.

Namun sayangnya, masih ada sebagian umat yang mempersoalkan ihwal jumlah rakaat shalat tarawih. Bahkan dalam kondisi tertentu, hal tersebut menimbulkan dampak negatif bagi persatuan umat, yakni munculnya sebuah percekcokan di kalangan antar umat yang berbeda pandangan itu. Padahal, agama Islam adalah agama persatuan. Adanya perintah shalat berjamaah adalah agar umat Islam bersatu di dalam maupun di luar shaf (shalat). Tetapi, dewasa ini persatuan sebagai trah agama dikekangi oleh oknum yang lebih mengutamakan hawa nafsu sehingga perpecahan timbul di mana-mana. QS. al-Hujarat ayat 10 dengan jelas menegaskan bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah saudara.

Persolan khilafiyah dalam ranah furu’iyah (cabang) yang dipersoalkan inilah yang menyebabkan umat tidak hanya sekedar terpolarisasi, melainkan juga mengalami kemunduran bahkan ketertinggalan. Oleh karena itulah, tulisan ini hadir sebagai bentuk salah satu ikhtiar serius untuk mengedukasi masyarakat agar tidak larut dalam kubangan kebodohan yang tak berkesudahan.

Penggagas Shalat Tarawih

Agar pengetahuan kita tentang tarawih utuh, mari kita awali pembahasan ini dengan mengungkap sejarah shalat tarawih. Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al Mughni membeberkan bahwa shalat tarawih hukumnya sunnah. Adapun orang yang pertama kali mengerjakannya adalah Rasulullah SAW.

Informasi ini sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis. Berkata Abu Hurairah: Konon, Rasulullah menggemarkan ‘qiyam Ramadhan’ (kepada para sahabatnya), tanpa menyuruh mereka secara keras. Seraya bersabda: “Barang siapa beribadah di malam-malam bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab, maka dihapuslah dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Sayyidah Aisyah berkata, Nabi Muhammad pada suatu malam mengerjakan sembahyang di dalam masjid, lalu diikuti oleh banyak orang. Pada malam berikutnya, jumlah mereka semakin banyak. Kemudian pada malam ketiga atau keempat, mereka berkumpul (menunggu rasulullah). Namun Rasulullah tiada keluar ke masjid lagi. Dan setelah waktu pagi tiba, beliau bersabda: “Aku tahu apa yang kalian perbuat. Aku tidak datang ke masjid karena khawatir kalau shalat ini (tarawih) difardlukan atas kamu. (HR. Muslim).

Baca Juga:  Pentingnya Niat dalam Puasa

Hadis tersebut terjadi di bulan Ramadhan sehingga shalat malam yang dimaksud adalah tarawih. Hadis-hadis senada yang berbicara tentang shalat tarawih Nabi jumlahnya lebih dari yang penulis sebutkan di atas. Hal ini menegaskan bahwasannya, Nabi-lah yang menggagas shalat tarawih.

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Setidaknya ada dua kutub yang paling populer berkenaan dengan jumlah rakaat shalat tarawih; pertama, delapan rakaat dan kedua, 20 rakaat. Di Indonesia, kedua kutub ini memiliki pengikut yang cukup besar. Lazimnya, orang NU melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat plus tiga witir. Sementara Muhammadiyah, mengacu pada dalil yang menyebutkan bahwa shalat tarawih boleh dilakukan 8 rakaat atau 11 rakaat plus witir.

Lantas mana yang benar? Keduanya benar dan sama-sama belandaskan dalil yang shahih. Yang salah atau tidak benar adanya yang menyesatkan salah satu atau keduanya. Mari kita lacak secara seksama.

Pertama, jumlah rakaat shalat tawih adalah 8 rakaat.

Banyak dalil yang menunjukkan bahwasannya Rasulullah mengerjakan shalat malam, baik ketika bulan ramadhan maupun di luar ramadhan, tidak pernah lebih dari sebelas rakaat. Misalnya, Abu Salamah pernah mengajukan pertanyaan kepada Sayyidah Aisyah perihal shalat yang dilakukan Rasulullah pada bulan ramadhan. Aisyah pun menjawab: “Rasulullah mengerjakan shalat malam tidak pernah lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan ramadhan maupun selainnya. Beliau shalat empat rakaat yang tidak perlu diragukan bagus dan panjangnya pelaksanaannya. Kemudian beliau shalat empat rakaat yang tidak perlu diragukan bagus dan panjang pelaksanaannya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.” Aisyah pun bertanya kepada Rasulullah, “Wahai rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Dispensasi Ada Batasnya

Di lain kesempatan, terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah mengerjakan shalat tiga belas rakaat pada beberapa malam. Dari A`isyah radhiyallahu `anha, ia berkata : “Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat malam tiga belas rakaat, antara lain shalat Witir dan dua rakaat Fajar.” (HR. Bukhari).

Memang, dalam hadis yang penulis sebutkan tidak secara tegas menyebutkan kata-kata shalat tarawih, namun yang digunakan adalah shalat malam pada bulan ramadhan dan selainnya. Nah, para ulama kemudian menyimpulkan bahwa shalat yang dilakukan oleh Rasulullah pada malam hari di bulan ramadhan adalah tarawih.

Oleh karena itu, pernyataan Sayyidah Aisyah bahwa Rasulullah mengerjakan shalat malam baik di dalam bulan puasa maupun selainnya tidak lebih dari sebelas rakaat, harus ditafsirkan dengan memadukan hadis yang berbicara tentang Rasulullah pernah mengerjakan shalat malam lebih dari sebelas rakaat. Dengan demikian, diperbolehkan menambah rakaat shalat tarawih lebih dari sebelas rakaat, sehingga muncullah kelompok selanjutnya.

Kedua, jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat.

Kelompok ini mendasarkan dalilnya dari ijtihad Umar bin Khatthab. “Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari `Urwah bin al-Zubair, dari Abd. Rahman bin Abd. al-Qari, ia berkata:
“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, saya keluar ke masjid bersama Umar bin al-Khatthab. Kami mendapati masyarakat terbagi menjadi beberapa kelompok yang terpisah-pisah. Sebagian orang ada yang shalat sendirian. Sebagian yang lain melakukan shalat berjamaah dengan beberapa orang saja. Kemudian Umar berkata: “Menurutku akan lebih baik jika aku kumpulkan mereka pada satu imam.” Lalu Umar berketetapan dan mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka`ab. Pada kesempatan malam yang lain, aku (Rahman bin Abd. al-Qari) keluar lagi bersama Umar. (dan aku menyaksikan) masyarakat melakukan shalat secara berjamaah mengikuti imamnya. Umar berkata: “Ini adalah sebaik-baik bid`ah…” (HR. Bukhari).

Baca Juga:  Shaf Shalat Berjarak Satu Meter, Sahkah?!

Di dalam hadis yang lain disebutkan, bilangan rakaat shalat Tarawih yang dilaksanakan pada masa Khalifah Umar bin al-Khatthab adalah dua puluh. Al Imam al Hafidz al Baihaqi dalam kitabnya al Sunan Al Kubra, Beliau berkata : yang artinya :

“Kami diberi kabar oleh Abu Abdillah al Husaini bin Muhammad bin al Husaini bin Fanjawih al Dinawari di Damighan, dia berkata, kami diceritai oleh Ahmad bin Muhammad bin Ishaq al Sunni, dia berkata, kami diberi berita oleh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz al Baghawi, dia berkata, kami diceritai oleh Ali bin al Ja’d, dia berkata, kami diberi berita oleh Ibnu Abi Dzi’b, dari Yazid bin Khusaifah, dari al Saib bin Yazid, dia berkata : ” Para sahabat salat malam pada masa Umar bin al Khatab r.a. pada bulan Ramadhan dengan dua puluh rakaat.” (HR. Al-Baihaqi).

Ijtihad Umar inilah yang kemudian dijadikan landasan para ulama untuk menetapkan jumlah rakaat shalat tarawih 20 rakaat. Pendapat ini juga diperkuat pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malil ra dalam kitab al-Muwattho’i,  dan diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, dari Yazid ibnu ruman, seraya berkata: “Adalah orang-orang pada zaman Umar bin Khatthab mengerjakan shalat malam di bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat (yakni 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat shalat witir).

Kesimpulannya, mengingat tidak ada satu pun hadis shahih yang secara jelas dan tegas menetapkan jumlah rakaat shalat tarawih, maka para ulama pun berbeda pendapat dan yang demikian sah-sah saja. Bahkan antar ulama di masa lalu tidak pernah menjadikan perbedaan sebagai penyebab pertikaian. Ibn Taimiyah berpendapat, “Jika seseorang melakukan shalat tarawih sebagaimana mazhab Abu Hanifah, As-Syafi’i dan Ahmad yaitu 20 rakaat atau sebagaimana Mazhab Malik yaitu 36 rakaat, atau 13 rakaat, atau 11 rakaat, maka itu yang terbaik.”

Bagikan Artikel

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir