Siti Hajar
Siti Hajar

Sebentar lagi tanggal 10 Dzulhijah. Satu di antara sekian banyak hari istimewa bagi kaum muslimin, hari raya Idul Adha. Hari yang mengingatkan umat Islam pada momentum peristiwa sejarah yang inspiratif, kisah ketaatan hamba pada Rabb-Nya. Cinta Nabi Ibrahim, Ismail dan ibunda Siti Hajar yang tanpa syarat.

Walaupun tahun sekarang ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena faktor pandemi yang masih melanda dunia, tapi tentunya tidak akan mengurangi ke sakralan dan kehidmatan perayaan idul qurban nanti. Sebab kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar sang istri tidak akan berkurang kemurniannya hanya karena sebuah virus.

Tiga hamba pilihan Allah yang kecintaannya kepada pencipta di atas segalanya. Keteladan Nabi Ibrahim, Ismail dan ibundanya sungguh amat sempurna. Mereka adalah hamba-hamba yang demi cintanya kepada Allah rela melakukan pengabdian dan pengorbanan diluar akal sehat manusia.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga dari perjalanan cinta keluarga Nabi Ibrahim. Kisahnya akan selalu menginspirasi, tetap terjaga “hikmah”nya sebagaimana terpeliharanya Al-Quran. Sungguh, pengorbanan yang tidak ada tandingannya.

Seluruh umat Islam di dunia sudah selayaknya meneladani keluarga mulia ini sepanjang masa. Dan sudah seharusnya para perempuan khususnya kaum ibu, untuk berkaca kepada Siti Hajar. Bercermin pada kesabaran,  keikhlasan, ketaatan,  cinta dan pengorbanannya yang luar biasa kepada Allah.

Sebagai wanita,  Siti Hajar adalah pribadi yang sangat kuat dan tangguh, cintanya kepada Allah teramat dalam. Sebagai istri, ia merupakan pendamping yang penuh khidmat dan selalu memelihara ketaatan pada sang suami. Sebagai ibu, Siti Hajar adalah wanita yang begitu menakjubkan. Kasih  sayangnya yang sungguh luar biasa besarnya kepada sang buah hati, tak  sedikitpun menghalanginya untuk tetap menempatkan Allah sebagai yang pertama di hatinya.

Saat Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua saja, disebuah gurun tandus nan gersang serta tak berpenghuni, Siti Hajar rela dan ikhlas menjalani. Begitu tahu ayah putranya meninggalkan mereka  karena perintah Allah, maka Siti Hajar mendengar dan taat. Taat kepada Allah sekaligus terhadap suami yang sangat dicintainya.

Ketika Ismail, anak semata wayang yang sangat menyenangkan hati, diambil untuk “dikorbankan” atas perintah Allah, Siti Hajar pun rela dan sabar. Hati Siti Hajar begitu putih dan lembut laksana permata dan sutra. tak ada sedikitpun prasangka apapun kepada Allah, yang ada hanyalah sebuah keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pemberi Yang Terbaik. Hanya yang terbaik yang akan Allah berikan kepada para hamba-Nya, baik berupa ujian kesenangan maupun kesusahan.

Andai semua wanita bisa bercermin pada ibunda Siti Hajar, alangkah elok dan indahnya. Tidak akan dijumpai wanita yang berani melanggar perintah Rabbnya, mengumbar aibnya, berlenggak-lenggok di jalan tanpa hijab penutup aurat. Tidak akan lagi ditemui istri-istri yang meraung-raung meratap menjerit-jerit saat suaminya tiada. Tidak akan pernah ada lagi wanita yang kacau balau, putus asa, dan bahkan berbuat keji saat bercerai dengan suaminya. Tidak akan dijumpai seorang ibu yang tega menyakiti bahkan membunuh anaknya sendiri. Tidak akan ada wanita yang suka mencaci maki, mengumpat sesamanya. Tidak ada lagi wanita yang sibuk bekerja mengumpulkan harta bahkan beraktivitas terlibat riba. Tidak mungkin ada istri yang durhaka dan tidak menaati suaminya. Takkan ada wanita yang mau berbuat dzalim dalam hal apapun dan pada siapapun. Semua menjadi wanita taat, hebat, kuat dan tangguh.

Hal ini bukan tidak mungkin terwujud andaikata semua makhluk lemah yang bernama wanita mau belajar dari Siti Hajar. Semua itu pasti bisa terjadi. Kalau ibunda Siti Hajar bisa, kenapa kita tidak? Kalau wanita-wanita lain bisa menjadi hamba yang kaffah menaati-Nya, bisa berkhidmat dan taat sepenuh cinta pada suaminya, mengapa kita tidak?

Kalau banyak wanita bisa menjadi ibu hebat dan luar biasa, kenapa kita tidak? Kalau banyak wanita yang bisa bersabar dan ikhlas dengan segala ujian hidup, kenapa kita tidak? Kalau banyak wanita yang mampu menjaga dan mengontrol lisannya hanya untuk ucapan yang baik dan bermanfaat saja, kenapa kita tidak? Bukankah kita sama-sama wanita yang diciptakan Allah dengan karakteristik yang sama pula, tak ada perbedaan sedikitpun.

Belajar dari ibunda Siti Hajar akan membuat keimanan kita menjadi semakin kuat, tambah tinggi derajat kita karena semakin shalihahnya kita, dan kita akan menjadi pribadi-pribadi tangguh dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan hidup yang datang.

Oleh karena itu, kaum hawa sejatinya mengenang dan meniru Siti Hajar. Di hari raya Idul Adha tahun ini, jadikan semangat Siti Hajar sebagai inspirasi pemupuk iman. Selamat mempelajari dan meneladani kisah Siti Hajar dan jadilah wanita tangguh, kasih sayang, ikhlas, taat, sabar dan penuh cinta.