Sultan Ghazan
Sultan Ghazan

Strategi Sultan Mahmud Ghazan Khan atasi Resesi Ekonomi

Sultan Mahmud Ghazan Khan adalah sultan ke-VII Dinasti Ilkhan. Dinasti Ilkhan sendiri merupakan salah satu dinasti Bangsa Mongol yang berpusat di Tabriz, Persia. Mendengar kata Mongol, tentu pikiran kita langsung tertuju pada satu nama, Hulagu Khan. Ya, orang bernama Hulagu Khan itulah yang menghancurkan Kota Baghdad dan menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah pada tahun 1258.

Walaupun demikian, belum genap satu abad pasca penghancuran Kota Baghdad, keturunan Hulagu Khan ada yang memeluk Islam. Bahkan, mereka membangun kembali peradaban Islam yang pernah dihancurkan oleh bangsanya. Salah satu keturunan itu bernama Mahmud Ghazan Khan.

Ghazan Khan lahir tahun 1271 M di Asbakun. Sebuah wilayah yang berada di sebelah tenggara Laut Kaspia. Ayahnya bernama Arghun, penguasa Dinasti Ilkhan tahun 1284-1291. Ghazan menghabiskan masa kecilnya bersama sang kakek, Abaga. Sejak kecil, ia sudah disiapkan oleh kakeknya menjadi raja sekaligus penganut Budha yang taat. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, ia diserahkan kepada biksu untuk diajari agama Budha.

Akan tetapi, takdir berkata lain. Ghazan Khan malah memeluk Islam dan menambahkan nama Mahmud di depan namanya. Salah seorang yang menjadi sebab Ghazan Khan masuk Islam adalah Syeik Sadr al-Din. Orang itulah yang kemudian mengabdikan hidupnya untuk Ghazan Khan.

Tahun 1295, Ghazan Khan mulai memerintah Dinasti Ilkhan. Ketika naik tahta, keadaan Dinasti Ilkhan sedang mengalami kemerosotan di berbagai bidang. Banyak pejabat korup yang menghabiskan uang negara hingga rakyat menderita. Meminjam bahasa sekarang, saat itu Dinasti Ilkhan mengalami resesi ekonomi yang hebat.

Sejarawan asal Jerman, Spuler mengungkapkan bahwa saat Ghazan naik tahta, kas negara kosong. Harta yang diperoleh berlimpah hasil penaklukan Baghdad dicuri oleh penjaga, dan di gunakan semena-mena sebelum Ghazan (sejak Abaqa sampai Arghun), bahkan sampai saat Ghazan naik tahta, tidak tertinggal apa-apa. Bukan hanya itu saja, tarif pajak yang setinggi langit, kriminalitas terjadi di mana-mana, dan keamanan yang tak terkendali adalah sekian banyak masalah saat Ghazan bertahta.

Baca Juga:  Belajar Dakwah kepada Sunan Ampel

Jika seperti itu keadaannya, lalu apa yang membuat Ghazan mampu membawa negaranya berjaya?

Diceritakan bahwa setelah naik tahta, Ghazan mencari tahu keunggulan wilayah kekuasaanya. Setelah melakukan kajian mendalam, akhirnya ia tahu bahwa wilayahnya terdiri dari lahan pertanian yang subur. Dibantu juru tulisnya, Syekh Rashid al-Din, Ghazan melakukan apa yang hari ini disebut sebagai reformasi agraria.

Prof. Karim dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam di Asia Tengah mengatakan bahwa hal pertama yang dilakukan Ghazan adalah memperbaiki sistem keuangan yang lebih baik dan terkontrol. Ini dilakukan untuk memberantas para koruptor di wilayah kekuasaanya.

Setelah itu, Ghazan memberikan motivasi kepada para petani yang awalnya tidak mau menggarap sawah karena beban pajak tinggi untuk kembali menggarap sawah. Tidak hanya sekadar memberikan motivasi, Ia sekaligus mengambil kebijakan untuk mengurangi pajak hasil pertanian seminimal mungkin agar para petani mau menggarap sawah lagi. Bahkan, Ia memberikan bantuan bibit tanaman secara cuma-cuma. Ia pun meminta para pejabat yang memiliki kekayaan berlimpah untuk membantu menyukseskan kebijakannya di bidang pertanian, karena saat itu kas negara berada di titik nadir.

Kebijakan Ghazan disambut baik oleh para petani. Mereka akhirnya mau menggarap sawah kembali. Tidak selesai sampai di situ, Ghazan juga memperhatikan pengelolaan hasil pertanian. Ia membuat database jenis-jenis komoditas pertanian dan peternakan. Sehingga hal tersebut memudahkan bagi siapa saja untuk melihatnya dan membuat proses jual beli jenis-jenis komoditas pertanian berjalan lancar.

Kebijakan terakhir yang dilakukannya di  bidang pertanian adalah dengan mengirimkan banyak utusan ke China dan India untuk mengumpulkan bibit lokal dan mempelajari inovasi-inovasi terbaru di bidang pertanian. Bibit-bibit lokal yang didapat kemudian dibawa pulang untuk dikembangkan dan diusahakan agar bisa di tanam di negaranya.

Baca Juga:  Mengenang Hijrah: Strategi Ilahi untuk Menyelematkan Umat

Kebijakan-kebijakan Ghazan di bidang pertanian tersebut akhirnya menuai keberhasilan. Keuangan negara perlahan-lahan membaik dan berlimpah. Pejabat korup hampir tidak ada lagi, karena para pejabat diberikan gaji tinggi. Kriminalitas dapat ditekan karena rakyat makmur tanpa kekurangan. Negara pun aman, tenteram dan sejahtera .

Sebenarnya Ghazan tidak hanya menuai keberhasilan di bidang pertanian saja, Ia pun terhitung sukses memajukan ilmu pengetahuan di masanya. Perlu diketahui bahwa Ia adalah seorang ilmuwan yang  ahli di berbagai bidang ilmu pengetahuan, di antaranya sejarah, filsafat, kedokteran, sastra, astronomi dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan modal tersebut, ia pun membangun banyak madrasah dan tempat-tempat untuk mengkaji ilmu pengetahuan.

Kesuksesan Ghazan tersebut akhirnya mengundang perhatian dunia, hingga banyak kepala negara datang ke ibu kota Ilkhan di Tabriz untuk membangun hubungan bilateral. (Abdul Karim: 2006). Maka tak heran jika kemudian masa Ghazan Khan disebut sebagai masa keemasan Islam setelah Baghdad (The Golden Age Of  Islam Post Baghdad). Demikian semoga bisa menjadi pelajaran.

Bagikan Artikel

About Nur Rokhim

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY