sultan mahmud II
sumber foto tribun

Rahasia Kegemilangan Sultan Muhammad II Dalam Memimpin Penaklukan Konstantinopel

Penaklukan Konstantinopel ialah salah satu kegemilangan terbesar pasukan Islam dalam menaklukan lawan-lawan besarnya. Konfrontasi di ibukota imperium Byzantium Romawi Timur ini juga merupakan yang terbesar dalam sejarah dunia. Oleh karenanya, berkat kejadian ini arus dakwah Islam di benua Eropa dan sekitarnya meningkat pesat. Adalah Mehmet II (baca: Muhammad II) sultan dinasti Utsmani sekaligus pemimpin pasukan.

Kebenaran nubuwah Muhammad SAW memanglah nyata adanya. 800 tahun sebelum peristiwa besar itu terjadi, nabi SAW pernah bersabda:

 “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Hadist di atas menjadi salah satu dasar kesultanan dinasti Utsmani berani menaklukan kekaisaran Byzantium langsung ke ibukotanya, Konstantinopel. Di tambah semangat dakwah Islam dan menghegemoni dunia timur menjadi sebab seluruh pasukan begitu heroik dalam penaklukan itu. Penaklukan Konstantinopel sesungguhnya tidak terjadi dengan singkat dan mudah. Setidaknya butuh upaya hampir dua bulan lamanya bisa menjebol kokohnya benteng Konstantinopel yang panjangnya sekitar 12 mil tersebut.

Berbagai cara, strategi dan senjata penyerangan agar bisa meruntuhkan tembok yang sudah 10 abad berdiri kokoh ini, membuat seluruh pasukan Islam yang berjumlah sekitar 250.00 orang kelelahan. Bahkan salah satu penasehat sultan menasehati Sultan Muhammad II untuk berhenti menyerang. Namun sang sultan yang memulai memimpin penaklukannya tanggal 6 April 1453 M ini menolak nasehat pejabat tersebut.

Rahasia kegemilangan

Mengetahui perkembangan situasi yang belum memperoleh hasil yang signifikan. Malahan mulai banyak kerugian yang diderita pasukan Islam kala itu membuat sang sultan berfikir keras. Akhirnya sultan Muhammad II yang kala itu masih berusia 23 tahun tersebut datang menemui salah satu penasehatnya yang lain dan sekaligus gurunya bernama Syaikh Aaq Syamsuddin di tendanya.

Baca Juga:  Rasulullah Model Terbaik dalam Praktek Toleransi

Beliau datang pada malam 28 Mei 1453 atau malam senin. Ketika sultan Muhammad II sampai ditenda gurunya itu, beliau tidak diperkenankan masuk oleh pasukan pengawal Syaikh Aaq Syamsuddin. Pasukan pengawal lalu mengatakan pesan sang guru bahwa siapapun tak boleh mengganggu dirinya, walau sultan sekalipun. Karena situasinya mendesak dan sangat ingin bertemu gurunya untuk meminta nasehat kepadanya, Muhammad II mencabut bayonetnya dan merobek tenda gurunya.

Terlihat gurunya tengah bersujud. Sujud yang lama, hening, dan khusyuk. Muhammad II hanya menyaksikan hingga gurunya menyelesaikan sujud panjangnya dalam qiyamul lailnya.

Apa yang tengah dilakukan Syaikh Aaq Syamsuddin hingga Muhammad II, sultan dan murid kesayangannya, sekalipun tak boleh mengganggunya. Ternyata, Syaikh Aaq Syamsuddin hendak khusyuk mendoakan muridnya dalam sujud panjang qiyamul lailnya. Inilah salah satu rahasia kegemilangan sultan Muhammad II menaklukan Konstantinopel.

Setelah qiyamul lail, Syaikh Aaq Syamsuddin menasehati supaya Muhammad II dan seluruh pasukannya berpuasa pada esok hari, senin 28 Mei 1453. Kemudian malamnya, dilanjut melakukan qiyamul lail berjama’ah, berzikir, dan berdoa memohon taufik dan hidaya kepada Allah. Maka selepas melakukan qiyamulail, pada pagi hari, 29 Mei 1453, upaya pamungkas penaklukan Konstantinopel itu dimulai.

Awal mula penaklukan

 Kegagalan berhari-hari meruntuhkan tembok Konstantinopel membuat pasukan Islam menemukan dan sekaligus melakukan ide gila nan cemerlang. Ide itu ialah memindahkan kapal-kapal perang yang berada di perairan selat bosphorus ditarik via darat untuk menghindari rantai penghalang yang selama itu menghalangi akses. Cuma dalam semalam 70-an kapal bisa memasuki wilayah perairan Tanduk Emas (Golden Horn) yang memiliki perbukitan tinggi, terjal dan menempel benteng Konstantinopel.

 Strategi yang dipakai untuk memindahkan kapal-kapal itu adalah dengan memakai dua buah gelondongan kayu yang diapit menjadi satu sehingga bagian bawah kapal yang lebih lancip bisa melewati celah antara gelondongan. Untuk mempermudahnya kayu-kayu diolesi minyak sehingga licin. Susunan kayu-kayu itu membentuk jalur yang menghubungkan dua laut yang berbeda.

Baca Juga:  Ja’far bin Abu Thalib Sahabat yang Mirip Rasulullah

Setelah ribuan pasukan bisa mengakses masuk gerbang raksasa itu, maka mulailah babak akhir penaklukan Konstantinopel. Namun sebelum memimpin pasukannya masuk Konstantinopel untuk melawan 8.000 pasukan Byzantium yang menjaga ibukotanya, Sultan Muhammad II yang nantinya digelari al-Fatih ini terlebih dulu berpidato untuk menyemangati dan menasehati pasukannya dengan mengatakan,

“… Apabila penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran.”

Tentang rahasia itu

Di setiap peristiwa besar, pasti ada pesan dan momen kunci yang mampu mengubah keadaan, termasuk dalam penaklukan Konstantinopel. Momen kunci saat jihad heroik membebaskan Konstantinopel, yaitu doa tulus dan khusyuk dari seorang guru saleh nan bertakwa untuk muridnya yang saleh. Doa itu pastilah mengetuk pintu langit ketujuh, menggetar Arsy, dan sampai kepada Allah. Allah pun mengijabah doa tulus nan khusyuk dari guru saleh dan bertakwa. Konstantinopel pun berhasil dibebaskan.

Pesan kunci penaklukan Konstantinopel yakni saat, Syaikh Aaq Syamsuddin memerintahkan muridnya sultan Muhammad II untuk esok harinya berpuasa, berdzikir dan qiyamullail. Di tambah pesan mulia sang guru kepada muridnya yang tergambar dalam pidato yang menggetarkan jiwa di atas. Bayangkan jika, penasehat atau guru memberikan masukan kepada seorang raja untuk berbuat bengis, kasar tanpa ampun kepada penduduk taklukannya. Seberapa hancur dan binasanya wilayah taklukannya itu. Qodarullah, Syaikh Aaq Syamsuddin dan sultan Muhammad II bukanlah orang-orang jahat demikian.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

doa penutup

Inilah Doa atau Bacaan Penutup Acara yang Sering Dibaca Para Sahabat Rasulullah

  وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. …

lelah

Jangan Khawatir, 7 Lelah Inilah yang Disukai Allah

Pasti kita sudah familiar dengan kalimat “biar lelah asal lillah” atau “semoga lelah ini membawa …