tafsir surat al fatihah
tafsir surat al fatihah

Tafsir Al-Fatihah ayat 5 : Makna Hanya Kepada Allah Kita Beribadah dan Meminta Tolong

“Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau lah kami meminta pertolongan”. (Al Fatihah: 5)

Kewajiban hamba adalah beribadah kepada Allah, mengabdikan diri untuk menjalankan segala perintahNya. Semua itu bukan untuk kepentingan Allah, tapi kemaslahatannya kepada pribadi hamba. Disamping itu, seorang hamba juga tidak meminta tolong kecuali hanya kepada Allah, karena Dia Yang Maha Kuasa memberikan pertolongan, dalam segala hal, bahkan untuk menyembahNya, hamba perlu pertolongan Tuhan.

Seperti telah diketahui, al Qur’an diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dengan membawa dua hal penting; untuk membuka hati (fath al qulub) dan membuka akal (fath al ‘aql). Tidak terkecuali ayat di atas. Ia turun dalam rangka dua hal tadi. Karenanya, untuk memahami arti sesungguhnya tidak ada cara lain kecuali dengan membaca tafsirannya.

Hairuddin Habziz dalam kitabnya al Khazain al Rabbaniyah; fi al Suwar al Munjiyat Tafsiriha wa Khawassiha, menulis penjelasan yang begitu indah mengenai tafsir, keistimewaan dan rahasia ayat di atas.

Ibadah hanya khusus kepada Allah, demikian pula hanya kepadaNya meminta pertolongan atas segala hal. Karena, semua persoalan, sekecil apapun persoalan itu tidak seorang pun yang mampu menguraikannya, kecuali Allah.

Mengutip perkataan Ibnu ‘Arafah dalam kitab tafsirnya, ada pertanyaan “kenapa harus beribadah dulu sebelum meminta? Padahal, untuk menyembahNya hamba perlu pertolongan Allah”?

Dijawab oleh al Zamakhsyari, karena ibadah adalah media sedangkan pertolongan adalah tujuan. Karenanya, wasilah atau media harus didahulukan, baru kemudian meminta apa yang dibutuhkan. Bukan sebaliknya.

Lebih lanjut Khairuddin Habziz dalam kitab yang sama menulis rahasia tersembunyi dari ayat di atas. Pemilihan kata “kami” (na’budu) bukan “saya” (a’budu) bermakna, ketika akan menyembah Allah hendaklah tidak sendirian, tapi berjamaah.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah 183-187 (2) : Sakit dan Perjalanan yang Membolehkan Tidak Berpuasa

Ketika membaca ayat di atas, seakan-akan seseorang berkata, “Duhai Tuhanku, diriku hanya hamba yang hina dina, sangat tidak pantas untuk menghadapMu dalam kesendirianku. Karenanya, aku bergabung dengan orang-orang yang bertauhid, maka terimalah doa yang aku panjatkan bersama mereka. Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau lah kami meminta pertolongan”.

Hal ini menjadi salah satu rahasia kenapa shalat berjamaah sangat dianjurkan atau disunnahkan. Maka, setelah mengokohkan komitmen untuk tidak menyembah dan meminta tolong kecuali hanya kepada Allah, berikutnya adalah pengakuan diri sebagai hamba yang lemah dan hina. Tidak elok rasanya menghadap Allah sendirian, butuh teman, bersama-sama mereka yang juga bertauhid kepada Allah.

Inilah penafsiran dan rahasia surat al Fatihah (5). Semoga, setelah memahaminya mendorong kita menjadi muslim yang ikhlas beribadah, menggantungkan diri hanya kepadaNya, dan senang melakukan shalat berjamaah.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

larangan islam dalam politik

Fikih Politik (8): 3 Larangan Islam dalam Politik

Politik bukan sesuatu yang terlarang dalam agama Islam. Islam bukan hanya agama an sich yang …

ratu elizabeth

Ratu Elizabeth II Meninggal, Bolehkah Mendoakan dan Menghormati Jenazah Non Muslim?

Kepergian Ratu Elizabeth II menyisakan duka mendalam bagi rakyat Inggris. Jutaan rakyat Inggris larut dalam …