tafsir
tafsir

Tafsir Surah Al-Isra Ayat 80: Fungsi Kekuasaan Menurut Al-Quran

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلْطَٰنًا نَّصِيرًا

Artinya: Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.

Ayat di atas ialah doa yang Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membacanya. Setidaknya, terdapat tiga poin penting kandungan pada surah Al-Isra ayat 80 ini. Pertama, jika memasuki suatu tempat, maka memasukinya dengan cara yang benar. Kedua, jika keluar dari suatu tempat, maka dengan cara yang benar pula. Ketiga, ialah permohonan agar diberikan kekuasaan yang menolong.

Ada beberapa pendapat mengenai asbabun nuzul atau sebab turunnnya ayat tersebut. Namun, berdasarkan periwayatan yang paling sahih yakni berkenaan saat Rasulullah hijrah menuju Madinah. Sebagaimana Al-Hasan Al-Basri, Beliau menyebutkan bahwa ini berkenaan pada orang-orang kafir Makkah yang ketika itu ingin memerangi atau membunuh Nabi Muhammad.

Makna Sultonan Nasiron

Selanjutnya yang menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini adalah tentang lafadz sultonan nasiron. Sebagaimana makna secara bahasa, yakni kekuasaan yang menolong. Maka, lafadz tersebut merupakan bentuk permohonan agar Allah senantiasa menganugerahkan kekuasaan yang dapat menolong. Sebab, begitu besarnya ganjaran kebaikan yang diperoleh dari sebuah kekuasaan jika dimanfaatkan dengan benar.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa tak hanya doa, namun ketika dilihat makna lebih dalam dari kata sultonan nasiron, juga cukup jelas memberikan informasi kepada kita bahwa fungsi penting dari kekuasaan ialah menolong. Lalu mengapa menolong dengan kekuasaan? adakah tingkatan tertentu pada orang yang menolong?

Menolong orang merupakan salah satu aktivitas mulia yang akan mendapat ganjaran jika melakukannya. Memang, harta kekayaan bisa digunakan untuk menolong beberapa ataupun banyak orang namun jumlahnya yang terbatas. Lain halnya dengan kekuasaan. Bahwa dengan kekuasaan, kita bisa menolong sangat banyak orang bahkan warga negara.

Melihat kembali sejarah ketika Nabi Muhammad mulai berdakwah secara kultural di Makkah, hanya sedikit sekali mendapatkan pengikut dalam kurun waktu tiga belas tahun. Berbeda ketika Rasul sudah berada di Madinah dan mendapat kesempatan untuk berkuasa. Di Madinah, penduduk yang beragama Islam semakin bertambah pesat.

Hal tersebut menunjukkan fungsi penting dari kekuasaan yang begitu efektif memperbaiki kondisi masyarakat dan menyebarkan kebaikan lebih luas. Sehingga dalam konteks menyebarkan atau mengajak kepada kebaikan pula kekuasaan begitu diperlukan. Karena dengan kekuasaan, kita tetap bisa berupaya melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar melalui suatu kebijakan.

Maka, sungguh tidak dibenarkan jika kekuasaan digunakan untuk hal-hal yang jauh dari kemaslahatan. Hal tersebut hanya akan menjadi kerusakan apabila semisal dipakai untuk memperkaya diri. Sebab, kekuasaan yang dianugerahkan kepada manusia itu sangat berpeluang untuk tidak dijalankan dengan baik atau tidak amanah. Nah, kekuasaan itulah yang dianggap gagal karena bisa jadi sang pemegang kekuasaan tidak menjalankan tugas dengan baik.

Makna Kekuasaan

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa kekuasaan yang paling hakiki adalah milik Allah. Di beberapa ayat, seperti pada surah Ali-Imran ayat 189 disebutkan bahwa kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah. Kemudian untuk mengatur atau mengurus dunia, Allah mengutus manusia menjadi khalifah atau sebagai pemimpin dalam mengemban amanah kekuasaan.

Khalifah, jika diartikan secara bahasa berarti orang yang menggantikan atau yang mewakilkan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang mengatur, merawat bumi, menghindarkan dari segala yang merusaknya dan tetap menjalankan perintah masing-masing dengan tidak semena-mena dalam menjalankan kekuasaan. Sebab, sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa di tangan Allah lah kekuasaan tertinggi.

Adapun kekuasaan telah termaktub dalam surah Shad ayat 26:

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

Artinya: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Ayat di atas mengandung pesan khususnya kepada pemegang kekuasaan atau ulil amri agar menetapkan hukum dengan benar dan tidak menyimpang. Sebab, kekuasaan itu merupakan amanah yang Allah berikan yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada Sang pemberi amanah sesungguhnya. Untuk itu, kekuasaan yang merupakan amanat haruslah dijaga dan dipertanggungjawabkan dengan sebagik-baiknya agar tidak ada lagi penyalahgunaan kekuasaan. wallahu a’lam bi al-shawab.

 

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Ikhsan Hidayat

Avatar of Muhammad Ikhsan Hidayat
Peneliti di Pon-pes Dar al-Qolam Semarang

Check Also

sulit bersyukur

Merasa Sulit Bersyukur? Kenali Penyebabnya

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka …

doa 10 hari terakhir ramadan

Amalan Menjelang Ramadan: Perbanyak Doa Ini

Saat ini kita sudah memasuki akhir bulan Sya’ban. Itu artinya, bulan yang penuh dengan keberkahan …