Tips Anti Stres Temani Anak Belajar di Rumah

0
2238
belajar di rumah
sumber foto: kompas

Wabah virus corona menuntut anak harus belajar di rumah? Lalu, bagaimana membuat aktifitas itu menyenangkan?


Pandemic covid – 19 yang menyebar secara eksponensial memaksa kita untuk mengubah pola aktifitas harian. Jika sebelumnya siapapun bisa dengan bebas beraktifitas di luar ruangan dan hadir di keramaian tanpa takut dan was was akan adanya wabah berbahaya, maka untuk saat ini tidak ada pilihan lain yang bisa diambil selain harus membatasi gerak dan jarak mobilitas.

Untuk menghindari penyebaran virus semakin meluas, pemerintah mnghimbau masyarakat untuk melaksanakan social distancing dan “self-quarantine”. Kementerian Pendidikan pun mengeluarkan kebijakan meliburkan kegiatan belajar di sekolah hingga situasi kembali normal. Sebagai gantinya, sebagian besar instansi pendidikan mengganti aktifitas sekolah dengan kegiatan belajar mandiri di rumah.

Kebijakan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Secara tidak langsung,  hal ini mendorong para orang tua untuk memainkan peran tambahan, yakni menjadi fasilitator belajar sang buah hati. Dengan peran baru ini, tidak sedikit orang tua yang dibikin kerepotan.

Sebagian orang tua kesulitan untuk mendisiplinkan dan menyesuaikan waktu belajar anak. Tak sedikit pula yang kewalahan menemukan pendekatan yang tepat. Beberapa yang lain mengaku kesulitan membuat anak bersemangat karena cepat bosan.

Pada dasarnya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara belajar di sekolah maupun di rumah. Hanya saja, anak dan orang tua memang membutuhkan beberapa waktu untuk menyesuaikan diri baik dengan materi maupun suasana pembelajaran yang kondusif.

Tidak menutup kemungkinan, jika atmosfer pembelajaran telah terbangun, dan anak mendapatkan momennya untuk focus dan berkonsentrasi penuh, belajar di rumah justru akan sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan akademis sang buah hati. Nilai plusnya, belajar di rumah bisa menjadi media efektif untuk menguatkan kerjasama dan kepercayaan antara orang tua dan anak.

Untuk bisa menciptakan suasana belajar yang mendukung proses perkembangan anak, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Berangkat dengan Niat Ibadah

Pendidikan pertama bagi setiap anak sejatinya berasal dari lingkungan terdekat, yakni lingkaran keluarga. Momen belajar di rumah merupakan kesempatan emas untuk kembali pada tujuan utama dari membangun keluarga, yakni sebagai wadah menempa generasi penerus agama islam yang beriman dan memberikan maslahat bagi seluruh alam. Dalam QS At-Tsur ayat 21 disebutkan:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Mendidik anak anak adalah tugas utama orang tua dan merupakan ladang pahala yang sangat luas bagi ayah dan bunda. Memanfaatkan momen ini dengan sebaik baiknya untuk menanmkan akhlaqul karimah, akan berimplifikasi terhadap karakter dan Akhlaq anak di masa depan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menata niat dalam hati dan senantiasa berharap pada ridlo Allah SWT. Dengan demikian, insya Alloh akan selalu mendapatkan bimbingan dan kemudahan. Lebih lagi, buah hati juga akan menyerap niatan luhur ayah bunda sebagai asupan energi spiritual yang akan menguatkan ikatan batin antara orang tua dan anak – anak.

Membuat kesepakatan Bersama

Ayah dan Bunda bisa melibatkan anak – anak dalam membuat kesepakatan terkait jadwal harian. Dengan menciptakan kesepahaman bersama, anak – anak yang sudah cakap menyampaikan pendapat dapat melatih kemampuan berkomunikasi dan menyajikan ide.

Tahap ini juga bisa digunakan untuk menentukan “reward dan punishment” yang sesuai. Dengan demikian, secara tidak langsung ayah bunda menfasilitasi anak anak untuk latihan bertanggung jawab dan berkomitmen dengan apa yang sudah disepakati.

Membuat Suasana Belajar yang Nyaman dan Kondusif

Belajar akan efektif jika lingkungan sekitarnya diatur sedemikian rupa menjadi nyaman dan bersih. Suasana ruang yang semrawut dan kotor akan menghambat kemampuan anak untuk focus dan memberikan perhatian penuh pada materi belajar. Maka, sebaiknya sebelum proses belajar di mulai, ayah dan bunda dapat mendorong anak untuk terlibat membersihkan ruangan dan mengatur perabotan agar rapi dan nyaman.

Penting pula untuk memastikan anak anak mendapatkan akses udara segar. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa akses bebas terhadap udara bersih akan meningkatkan daya otak dalam berpikir dan mencerna informasi. Terlepas dari itu semua, dalam agama islam sendiri sangat dianjurkan untuk menjaga kebersihan karena Alloh adalah Maha Baik dan menyukai kebersihan dan keteraturan. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW berikut :

إِنَّ اللَّهَ تَعَالى طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ (رواه التيرمدى: 2723)

Artinya:

Sesungguhnya Allah swt. Itu baik, Dia menyukai kebaikan. Allah itu bersih, Dia menyukai kebersihan. Allah itu mulia, Dia menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan ia menyukai kedermawanan maka bersihkanlah olehmu tempat-tempatmu. (H.R. at –Tirmizi: 2723)

Melatih Sabar dan Open Mind

Tidak jarang, anak anak menemukan kesulitan dengan materi belajar yang telah disiapkan oleh tim guru sekolah. Tidak perlu panik saat hal itu terjadi. Ayah bunda seyogyanya tetap bersikap tenang dan membantu menemukan solusi, alih alih menyerah dan berhenti menemani belajar anak.

Di era digital saat ini, ada banyak resource yang bisa dimanfaatkan untuk membantu memecahkan kesulitan belajar. Atau, sesimpel memberikan dukungan pada anak agar berani menanayakan langsung pada bapak ibu guru melalui media komunikasi yang tersedia. Sikap tidak mudah menyerah dan terbuka dengan berbagai alternative solusi akan sangat membantu dalam menjalankan tugas sebagai fasilitator belajar anak.

Istirahatlah yang cukup

Daya focus anak berbeda dengan orang dewasa. Bahkan, antara satu anak dengan yang lain pun memiliki rentang waktu focus yang berbeda. Penting untuk ayah dan bunda untuk mengetahui berapa lama Ananda bisa mencurahkan konsentrasinya dalam belajar. Tidak perlu menuntuk anak – anak untuk menuntaskan semua materi dalam satu waktu langsung.

Jika didapati anak menunjukkan tanda letih dan menguap, tidak salah untuk memberikan jeda singkat. 10 hingga 15 menit adalah waktu yang cukup untuk mengendurkan pikiran dan mengisi ulang daya konsentrasi. Dalam jeda singkat, anak – anak bisa menghabiskan waktunya dengan menikmati kudapan sehat atau sekedar merebahkan badan sembari melakukan sedikit peregangan. Sesudah itu, mereka bisa melanjutkan belajar sesuai dengan kesepakatan.

Memuji dan memberi apresiasi

Apresiasi yang tulus dalam setiap pencapaian anak adalah cara lain menyampaikan kepada anak anak bahwa ayah bunda peduli dan mengikuti perkembangan mereka dalam proses belajar. Berikanlah apresiasi yang objektif.

Sampaikan kepada anak anda bahwa ayah bunda senang terhadap usaha yang telah mereka lakukan yakni tetap semangat belajar meski tidak di sekolah. Tentu pujian ini diberikan bukan untuk membuat anak anak besar kepala, tetapi memuji anak penting disampaikan dengan niatan menunjukkan cinta kasih dan memotivasi agar anak tetap semangat dan tidak mudah menyerah dalam belajar.  

Demikian beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyiapkan diri menemani anak anak belajar di rumah. Insya Alloh dengan niat mendapatkan ridlo Alloh dan menciptkan generasi ummat Rosululloh yang cerdas dan bermanfaat, apa yang ayah bunda upayakan akan mendapatkan curahan rahmat dan menguatkan mental dalam menjalankan social dan physical distancing dalam beberapa waktu ke depan.