egoisme takmir
egoisme takmir

Egoisme Takmir Masjid Di Masa Covid-19

Di tengah wabah Covid-19 ini, tidak sedikit mendadak orang terjangkiti wabah jabariyah dan memaksakan dalam beragama. Coba lihat kejadian di Desa Klapagading Kulon, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, takmir masjid melayangkan surat ke bupati hendak membongkar Masjid Al Mubarok. Dengan alasan masjid itu sudah tidak berfungsi kembali.

Bagi takmir, keberadaan masjid itu dianggap mubadzir karena sudah tidak digunakan lagi sehingga layak dirobohkan. Ancaman yang membuat orang terheran-heran jika membaca surat itu. Kini salah satu takmir sudah memohon maaf atas perbuatannya itu. Namun, kejadian seperti ini jangan sampai terulang kembali.

Semua paham bahwa masjid tempat untuk berdoa kepada Allah, bermunajat kepada Allah, dan bertaqarub kepada Allah. Namun ketika anda berangkat ke masjid dikawatirkan akan tertularnya virus corona maka sebaiknya beribadah di rumah. Dan itu tidak mengurangi pahala sholat tarawih atau sholat jum’at.

Kenapa Tidak ke Masjid?

Diceritakan oleh Nafi’ dari Ibnu Umar bahwasanya dia pernah beradzan untuk shalat di malam yang dingin, berangin kencang dan hujan, kemudian dia mengatakan di akhir adzan, “Alaa shallu fi rihaalikum, alaa shollu fir rihaal” yang artinya “Hendaklah kalian shalat di rumah kalian, hendaklah kalian shalat di rumah.”

Kemudian Ibnu Umar mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah saw. biasa menyuruh muadzin, apabila cuaca malam dingin dan hujan ketika beliau melakukan perjalanan agar mengumandangkan, “Alaa shallu fi rihaalikum” (Hendaklah kalian shalat di rumah masing-masing). (HR. Muslim no. 697)

Kita bukan Nabi dan bukan Rasul, yang dijamin keselamatannya dalam beribadah oleh Allah SWT. Yang sepatutnya kita contoh masa sekarang adalah Rasulullah dan para sahabatnya. Rasul sudah menganjurkan sahabatnya untuk sholat di rumah ketika cuaca tidak baik. Kondisi sholat di rumah sekarang bukan karena alasan hujan, bukan malamnya dingin tapi ini virus yang mematikan yang dihadapi. Tentu kalau mengambil qiyas dari Rasulullah justru dibolehkan.

Baca Juga:  Teladani Nabi yang Tidak Mencela Sesembahan Agama Lain

Apakah orang yang menolak untuk sholat di rumah sudah se alim Umar bin Khattab. Bukankah Umar bin Khattab tidak jadi berangkat ke Syam mendengar ada wabah. “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kalian berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari). Dengan dalih ini pemerintah menerapkan sistem social distancing, lockdown, PSBB atau istilah lainnya. Itu yang terbaik untuk menghadapi wabah Covid-19.  

Nabi Muhammad lari dari kejaran kafir Quraysh dan sembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar As Shidiq. Apakah Rasul takut kepada orang kafir daripada takut kepada Allah?. Nabi Musa lari membelah laut dari kejaran Fir’aun. Apakah Nabi Musa takut kepada Fir’aun dan tidak takut pada Allah semata?

Islam Tampak Mudah dengan Berilmu

Islam itu mudah, dan tidak mempersulit. Yasirru wa la tu’asiru (permudahkanlah dan janganlah mempersulit). Orang hamil dan bepergian boleh tidak melakukan puasa, asalkan diganti hari lain.

Ibadah yang wajib saja bisa mendapatkan rukhsakh (keringanan), apalagi di masa pandemi yang sunnah seperti sholat tarawih bisa dilakukan di rumah. Dulu Nabi Muhammad SAW melakukan sholat tarawih di rumah pada saat malam pertama, kedua dan ketiga. Sholat tarawih sendiri di rumah sendiri maupun secara bersama keluarga lebih baik daripada berkumpul banyak orang yang bisa menyebabkan tertularnya virus.

Beribadah di masa pandemic COvid-19 ini mengedepankan keselamatan jiwa lebih penting daripada mencari kemaslahatan (dar ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbi mashalih). Bukankah agama diturunkan untuk keselamatan jiwa, harta, keturunan, akal, dan agama.

Beragama itu harus memiliki keilmuan yang luas. Di samping rajin beribadah juga harus memiliki wawasan keilmuan agama yang mumpuni. Sehingga tidak memunculkan persepsi, “takut kok pada corona, takut itu pada Allah”,”pergi ke pasar di tutup, pergi ke pasar masih buka”.

Baca Juga:  Memahami Cadar : antara Tuntunan dan Tontonan

Itu benar, namun bukan pada tempatnya pada saat pandemi Covid-19 seperti ini. Ingat firman Allah pada Surah Al Baqarah: 195: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” Dalam kondisi seperti ini berbuat baik yaitu tidak keluar rumah, menjauhi keramaian dan beribadah di rumah.

Pernah suatu ketika ada wabah, dan masyarakat melakukan tolak balak dengan membaca shohih bukhori, dengan harapan wabah ini akan hilang. Kemudian Al hafidz Ibnu Hajar al Atsqolani berakta, ini tidak sesuai dengan Sunnah rasul. Menjauhlah diri dari wabah, seperti menjauhkan diri dari singa.

Yang dilarang bukanlah sholatnya, yang dilarang bukanlah ibadah kepada Tuhannya, yang dilarang adalah berkumpulnya orang dalam jumlah banyak. Karena ini bisa menyebabkan tertularnya virus covid-19. Virus yang tidak nampak kasat mata, sehingga penyebarannya tidak tahu dari mana.

Dalam kaidah fiqih dar ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbi mashalih (meninggalkan perkara yang dapat merusak lebih bagus dari pada mencari kemaslahatan). Anjuran pemerintah dan ulama’ untuk beribadah di rumah bukanlah untuk membatasi umat islam beribadah, namun menjauhkan rakyatnya dari wabah virus corona yang semakin meluas.

Hal ini sesuai dengan kaidah maqashid asy syari’ah yang mengandung penjelasan tentang kehadiran agama. Agama hadir untuk memelihara: hifdhud din (memelihara agama) hifdhun nafs (memelihara jiwa), hifdhul ‘aql (memelihara akal), hifdhul mal (memelihara harta), hifdhun nasl (memelihara keturunan).

Para ahli pun menyatakan jika berkumpulnya orang banyak dan berdekatan dapat mengakibatkan penularan Covid-19. Semua dokter juga sepakat bahwa virus ini dapat menyebakan kematian. Maka, perihal mengumpulkan banyak orang yang menyebabkan kematian kengawuran dalam beragama, menampakan egoisme dari pada kebaikan untuk masyarakat, melihatkan mudhorot daripada manfaat.

Baca Juga:  Gelombang Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara

Bukanlah hal bijak jika ujungnya menjerumuskan jama’ahnya ke dalam penyakit yang mematikan. Sudah banyak di berbagai daerah, penularan virus saat kegiatan keagamaan. Akankah menunggu korban dulu baru percaya bahwa benar adanya virus bisa menyerang warga masjid.

Bagikan Artikel ini:

About Yoyok Amirudin

Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang

Check Also

damai di tengah perbedaan

Damai di Tengah Perbedaan

“Tuhan menciptakan kalian laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya kalian saling mengenal…” (Q.S. Al Hujurat: …

self management

Self Management: Cara Islami Menghadapi Masalah

Cobalah anda melihat bagaimana teman anda membahagiakan dirinya ketika dalam kesusahan. Ada yang pergi ke …