Gus Yahya
Gus Yahya

Tokoh Perdamaian Global Apresiasi Tinggi Paparan Strategi dan Model Perdamaian Dunia Ala NU

Washington DC – Para tokoh perdamaian global yang mengikuti International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat pada Kamis (15/7/2021), memberikan apresiasi tinggi terhadap paparan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf. Paparan bertema ‘The Rising Tide of Religious Nationalism’ (Pasang Naik Nasionalisme Religius) berisi strategi dan model perdamaian yang selama ini telah dipraktikkan oleh kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut Yahya Staquf, fenomena bangkitnya nasionalisme religius adalah bagian mekanisme pertahanan ketika suatu kelompok agama yang biasanya merupakan mayoritas di negaranya merasa terancam secara budaya. Kebangkitan ini pun, lanjut dia, tak terelakkan lantaran dunia tengah bergulat dalam persaingan antar-nilai untuk menentukan corak peradaban di masa depan. Di sisi lain, katanya, dinamika internasional telah mengarah pada perwujudan satu peradaban global yang tunggal dan saling berbaur (single interfused global civilization).

“Persaingan yang sengit ini berpotensi besar memicu permusuhan dan kekerasan. Oleh karena itu, saya mendorong berbagai elemen di dunia menemukan cara untuk mengelolanya sebelum telanjur meletus konflik global yang kian parah,” ujar Gus Yahya, panggilan karib Yahya Staquf, dalam keterangannya, Jumat (16/7/2021).

Untuk mengatasi hal itu, Gus Yahya menawarkan strategi dan model perdamaian dunia sebagaimana yang selama ini telah dipraktikkan oleh kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Ia menambahkan sebelum mewujudkan kedamaian global, harus diidentifikasi lebih dahulu nilai-nilai apa yang selama ini telah menjadi kesepakatan bersama.

“Saya bisa sebut nilai-nilai kejujuran, kasih-sayang dan keadilan, adalah nilai-nilai yang pasti kita sepakati secara universal,” imbuh Gus Yahya.

Gus Yahya juga mengatakan, dunia harus membangun konsensus atas nilai-nilai yang perlu disepakati agar semua pihak yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai. Bahkan bila diperlukan, nilai-nilai tradisional yang menghambat koeksistensi damai pun layak untuk diubah.

Baca Juga:  Aktivis HAM Beragama Buddha di Myanmar Bela Muslim Rohingya

Ia mencontohkan, strategi NU yang menyatakan bahwa kategori kafir tidak memiliki relevansi hukum dalam konteks negara bangsa modern. Hal ini sangat beralasan sebab setiap warga negara sejatinya harus setara di depan hukum. Sikap NU tersebut merupakan hasil Munas Alim Ulama di Kota Banjar pada 2019 lalu.

“Dengan pendekatan ini maka adanya perbedaan-perbedaan keyakinan mengenai nilai-nilai yang tersisa harus disikapi dengan toleran,” tandas mantan anggota Wantimpres ini.

Pandangan dan tawaran solusi perdamaian global yang disampaikan Gus Yahya tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta IRF. Hadirin pun bertepuk tangan berulang kali sepanjang pidato itu.

Ambassador Sam Brownback dalam sambutannya sebagai pemrakarsa dan penanggung jawab KTT bahkan secara khusus memuji langkah-langkah bersejarah yang telah diambil oleh NU. Dunia sungguh membutuhkan peran Nahdlatul Ulama demi masa depan peradaban yang lebih harmonis, tegasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

AC Milan ucapkan Selamat Maulid Nabi Muhammad

AC Milan Ucapkan Selamat Maulid Nabi Muhammad Kepada Fans Beragama Islam

Milan – Klub sepakbola AC Milan memberi ucapan selamat Maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. …

Ken Setiawan di UM Metro

Ken Setiawan: Ribuan Kelompok Radikal yang Mengatasnamakan Agama di Lampung Masih Gentayangan

Lampung – Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengaku prihatin terhadap fenomena …