Ulama Nusantara

Upaya Ulama Nusantara Menjejakkan Islam Kaffah Di Indonesia

Ulama – ulama Nusantara melakukan berbagai upaya untuk mempermudah pemahaman masyarakat terhadap islam. Khususnya pada masa awal ajaran yang dibawa oleh Rasulullah ini menjejakkan kaki di bumi pertiwi yang bertujuan untuk lebih mempermudah memahami dan menjalankan ajaran Islam bagi pemeluknya di Nusantara. Di antara upaya yang dilakukan adalah dengan merumuskan berbagai cara yang dianggap efektif untuk dakwah dan pendidikan Islam al bi ah wa al da wah al Islamiyah.

Kalau ditelaah lebih lanjut paling tidak ada dua model pendekatan yang mereka pakai pendekatan kultural dan keharusan bermadzhab. Budaya sebagai Ruang Dakwah Pendekatan kultural adalah memposisikan budaya dan tradisi sebagai sarana mengajarkan dan menanamkan nilai nilai dan ajaran Islam. Memasukkan nilai nilai Islam ke dalam budaya dan tradisi yang telah lama terjadi dan berlangsung dalam masyarakat Secara jelas pendekatan ini terlihat dalam strategi dakwah Wali Songo.

Dalam sejarahnya para wali telah menggunakan berbagai ragam tradisi dan budaya lokal sebagai sarana untuk memperkenalkan dan mengamalkan ajaran Islam. Salah satu yang sangat fenomenal adalah wayang tembang dan gamelan. Melalui pertunjukan seni wayang para wali menanamkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa yang waktu itu belum memeluk Islam.

Bagi yang telah masuk Islam pun wayang menjadi sarana yang efektif untuk memberikan pemahaman bagaimana menjalankan ajaran yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Islam yang kaffah dan rahmatan lil alamin. Para wali sangat kreatif dan inovatif melakukan rekonstruksi terhadap seni wayang mulai dari bentuk sampai performa ceritera. Mereka mengubah ceritera wayang yang berkiblat pada Hindu dan Buda menjadi cerita yang Islami.

Ajaran tasawuf dan tauhid juga disisipkan dalam ceritera wayang seperti lakon dewa Ruci jimat Kalimasodho dan sejenisnya. Selain itu para wali juga menciptakan tembang tembang kidung dan nyanyian yang sarat dengan nilai nilai dan ajaran agama, Lir ilir misalnya tembang yang berisi tentang pentingnya mengajarkan rukun Islam agar bisa dijadikan pegangan dan bekal menghadap Allah, dan kidung rumekso yang berisi ajakan untuk bangun tengah malam melakukan munajat zikir dan taqarrub pada Allah agar selamat dan terlepas dari segala godaan dan bahaya kehidupan.

Baca Juga:  Mengapa Terdapat Pengulangan Kata Dalam Al-Qur’an? Ini Alasannya!

Selain melalui seni pertunjukan penyampaian ajaran Islam juga dilakukan melalui seni sastra. Ada beberapa karya sastra yang dibuat para wali waktu itu seperti serat Linglung karya Sunan Kalijaga, Lontar Ferrara karya tulis yang memuat petuah keagamaan yang diyakini berasal dari Jaman Kawalen era wali Songo. Naskah ini secara sistematik berisi tentang panduan hidup agar menjadi muslim yang kaffah dan pada saat yang sama juga bertujuan menarik para pemeluk Islam baru.
Harapannya agar masyarakat Jawa membebaskan diri dari penyembahan berhala Sunan Bonang menulis Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan Gita, SulukLatri Gita, Suluk Linglung Gita, Suluk ing Aewuh Gita, Suluk Jebang, Suluk Wregol, dan lain lain.

Adapun tulisan dalam bentuk prosa yang terkenal adalah serat Bonang Karya lain Sunan Bonang dalam bentuk prosa adalah Pitutur Seh Bari. Selain Wali songo ulama – ulama Nusantara yang lain juga ambil bagian sebagai upaya menjejakkan dan menyematkan Islam Kaffah yang rahmatan lil alamin dengan menulis karya sastra. Lihatlah misalnya Tun Sri Lanang yang menulis Salatus Salatin, Raja Ali Haji yang mengarang Tuhfah al Nafs dan Gurindam Dua Belas yang sangat terkenal, Tengku Said yang meriwayatkan Hikayat Siak dan Hikayat Abdullah yang dicatat oleh Abdullah bin Abdulkadir al Munsyi. Selain itu ada pula karya karya sastra ulama Aceh seperti Hamzah Fansuri Nuruddin al Raniry dan sebagainya yang semuanya merupakan karya seni Ulama Nusantara yang sarat dengan ajaran Islam.

Di antara tradisi yang dijadikan sebagai media penyematan ajaran Islam adalah tradisi selamatan sesajen nyadran dan sebagainya Awalnya tradisi ini merupakan khazanah kebudayaan non muslim oleh para ulama dengan kreatifitas dan cara yang anggun isinya diubah dengan memasukkna nilai nilai tauhid sedekah dan silaturrahmi tanpa mengubah bentuk aslinya. Hasilnya luar biasa Islam bisa diterima secara damai mudah dan menyenangkan, tanpa kekerasan dan caci maki.

Baca Juga:  Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Cara ini mereka ambil dengan mempraktikkan kaidah al Muhafadzatu ala al Qadim al Shalih wa al Akhdzu bi al Jadid al Ashlah, menjaga tradisi dan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik.
Menjamin Sanad Ilmu melalui Madzhab Setelah menuai sukses besar mengislamkan masyarakat dengan pendekatan tradisi para wali dan ulama Nusantara kemudian mengenalkan pentingnya bermadzhab. Hal ini karena bermadhab lebih membuka ruang yang luas untuk memahami dan menerjemahkan Islam tanpa harus kehilangan substansi dari ajaran Islam itu sendiri.

Bermadhab berarti memahami Islam tidak sepotong sepotong Islam tidak dipahami secara mentah Lebih dari itu bermadhab berarti memahami dan mengamalkan Islam itu sendiri.
Selain untuk mempermudah penerapan ajaran Islam, bermadhab juga dimaksudkan untuk menjaga dan memelihara otentisitas ajaran Islam.

Bermadzhab juga dimaksudkan untuk menghindari terjadinya penafsiran al qur an ataupun hadis secara semena semena yang dapat merusak kandungan kedua dalil pokok itu sendiri Bisa dibayangkan jika seseorang langsung kembali pada al qur an dan hadis hanya berbekal terjemahan atau sekedar bisa membaca tanpa dibekali ilmu yang memadai, pasti akan terjadi kesalahan pemahaman karena tidak memenuhi syarat sebagai penafsir.

Otoritas untuk menafsiri al Qur an dan hadis hanya dimiliki oleh para Imam Mujtahid yang memang telah memenuhi kualifikasi. Distorsi ajaran Islam akan terjadi jika semua orang merasa berhak menafsirkan dan menjelaskan agama hanya karena bisa membaca teks al Qur an dan hadis.
Karena orang yang bisa membaca teks agama tidak secara otomatis menjadi ahli agama ulama dan memiliki otoritas dalam menerjemahkan agama. Seperti halnya seseorang tidak secara otomatis menjadi dokter hanya karena dia bisa membaca langsung buku kedokteran sebagai sumber aslinya.

Baca Juga:  Beda Tafsir Khilafah : Dari ISIS, HTI, FPI Hingga Ahmadiyah

Oleh karena itu bermadzhab sangat penting dan harus Khususnya bagi umat Islam saat ini di Nusantara ini. Dengan bermadhab konsistensi berpikir dapat dijaga karena memiliki genealogi pemikiran yang jelas runtut dan bersambung sampai ke Rasullah.
Dengan sanad yang jelas ini maka bisa dilacak perkembangan dan proses munculnya pemikiran serta metodologi dalam memahami dan mempraktikkan ajaran Islam sehingga otentisitas dua rujukan utama dalam agama Islam al Qur an dan hadis bisa dipertahankan

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Islam Kaffah

Islam Kaffah