Ujian terbesar umat Islam di Nusantara saat ini adalah munculnya segelintir da’i, ngustad media dan penceramah online yang menampilkan ceramah dengan bobot keilmuannya jauh di bawah standar. Tampil memukau dengan kapasitas yang seadanya. Terkadang agama menjadi lahan bisnis baru dan tak lebih hanya sebagai tontonan dan show.

Baru- baru ini, media sontak dibuat kaget oleh oleh salah seorang ustad dadakan yang memimpin membaca satu ayat al Qur’an. Fatal karena ia banyak melakukan kesalahan. Mulai dari makhroj, waqaf sembarangan, dan menambah huruf. Ini tentu saja bukan tindakan memalukan, tetapi lambat laun bisa menyesatkan.

Kenapa mereka berani tampil walau hanya dengan kapasitas yang minim, sementara beban dan tanggungjawab seorang penceramah sangat besar. Bermodal popularitas dan retorika yang komunikatif mereka seolah menjadi idola baru walaupun dengan kemampuan yang terbatas. Persoalan membaca al-Qur’an misalnya itu mestinya sudah menjadi hal paling dasar sebelum para da’I berbusa-busa untuk mengolah kata dalam ceramahnya.

Sungguh sangat mengkhawatirkan. Jangan-jangan bukan hanya terjemahannya yang mereka dalami, tetapi mengaji pun berlandaskan pada huruf latin. Praktis makhraj dan tajdwid pun dilabrak tanpa batas. Padahal mereka belum bisa memahami kesalahan makhraj bisa berimbas pada kesalahan arti.

Pentingnya Belajar Al-Qur’an

Di Desa, anak kecil umur tujuh tahun, bahkan ada yang masih sangat kecil sekali telah pandai membaca al Qur’an. Didikan untuk baca al Qur’an memang seharusnya menjadi agenda dan program utama semua umat Islam. Mendidik anak supaya di usia dini telah menguasai cara membaca kalam-kalam ilahi dengan sempurna. Berikutnya tinggal melanjutkan untuk memahami ilmu agama pendukungnya.

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari).

Pada hadis yang lain Nabi juga bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari)

Ibnu Katsir kitabnya Fadhailu al Qur’an menulis komentar terhadap sabda Nabi di atas, hadis tersebut memberi penekanan kepada umat Islam pentingnya meneladani Nabi, menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain.

Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca al Qur’an, sedangkan dia mahir melakukannya kelak mendapatkan tempat di surga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca al Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dana agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapatkan dua pahala”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Namu hadis ini tidak boleh dipahami secara sederhana. Sehingga mengabaikan kita untuk belajar membaca al Qur’an secara baik dan benar. Apalagi bagi para da’i yang biasa tampil di publik. Ustad yang semestinya jadi panutan setiap materi omongannya harus dibekali dari ilmu dasar setidaknya bisa secara fasih membaca al-Qur’an.

Naif kalau keterampilan membaca al Qur’an seorang da’i kalah sama anak desa. Oleh karena penting untuk belajar membaca wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad ini dengan baik dan benar. Bagaimana mungkin bisa memahami ilmu agama yang mayoritas memakai bahasa Arab kalau membaca al Qur’an saja tidak bisa?

Jangan terburu-buru mengajarkan sesuatu jika merasa belum mampu secara keilmuan. Memang ada anjuran dan perintah dakwah untuk semua umat Islam. Namun, kewajiban itu berlaku ketika kita mampu secara keilmuan. Karena menyebarkan ilmu agama mempunyai tanggungjawab moral sekaligus keagamaan. Jangan niat dakwah yang baik justru menghantarkan umat ke arah kesesatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.