Anwar Sanusi
Anwar Sanusi

Zakat Fitrah Ajarkan Umat Berbagi Untuk Mensucikan Diri

Jakarta – Zakat fitrah adalah salah satu kewajiban umat Islam yang harus ditunaikan di bulan Ramadan. Makna Zakat fitrah tidak hanya sekadar berbagi, tetapi juga untuk mensucikan diri.

Wakil Ketua Pembina Pengurus Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PP Perti) Dr. KH. Anwar Sanusi, SH, S.Pel, MM, mengatakan umat Islam harus kembali kepada perintahya yaitu lima rukum Islam yaitu mengucap dua kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji.  Terkait perintah membayar zakat adalah wajib bagi setiap umat Islam yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan layak.

“Zakat fitrah nilainya tidak besar tetapi menyeluruh dan merupakan kewajiban bagi seluruh umat,” ujar Anwar Sanusi di Jakarta, Selasa (4/5/2021).

Ia menjelaskan bahwa zakat ada dua yakni zakal mal dan zakat fitrah. Zakat mal ini besaranya 2,5 persen dari jumlah harta yang tersimpan atau tidak terpakai selama 1 tahun. Tapi hal itu beda dengan bunga bank. Kalau misalnya punya deposito di Bank tentu juga harus mengeluarkan zakatnya dari pokok tabungan awalnya. Bukan dihitung dari bunganya

 Zakat fitrah sendiri umumnya dikeluarkan mendekati Lebaran atau Idul Fitri. Misalnya satu hari sebelum lebaran, dengan menyetorkan zakat fitrah ke masjid-masjid atau mushola-mushola, yang kemudian nanti ada panitia yang membagi zakat fitrah tersebut kepada yang berhak menerimanya.

“Zakat fitrah ini kurang lebih 2,5 kilogram atau 3,5 liter bahan pokok, atau sekitar itulah besarannya per orang. Kalau di duit kan ya tinggal dihitung saja dia makanya sehari-hari pakai nasi jenis apa? Kalau makannya nasi yang Rp15.000/kilogram maka zakat fitrahnya jangan pakai yang Rp10.000/kg. Jadi syariatnya memang begitu. Apa yang dimakan oleh keluarga besar atau keluarga kaya ya nasinya juga harus yang sama mahal harga atau nilainya. Nah itulah 2,5 kilogram atau 3,5 liter,” katanya menjelaskan.

Baca Juga:  Kelompok Hindu Garis Keras Serang dan Rusak Desa Muslim di India

Kemudian yang tidak kalah penting lagi menurutnya yaitu juga Infaq. Di bulan puasa inilah umat Islam berlomba-lomba untuk mengeluarkan infaq dan shodaqoh. Yang mana shodaqoh dan infaq ini mengeluarkannya terserah kapan saja, tidak ada batasan, meski selama ini ada orang yang menganalogikan kalau berinfaq itu sebesar 2,5 persen setiap bulan dan itu juga tidak apa-apa.

Nah dengan adanya zakat baik itu zakat mal dan zakat fitrah yang lalu ditambah, infaq dan shodaqoh maka di dalam bulan Ramadan ini dan menyambut Idul Fitri 1442 Hijriyah ini, maka masyarakat itu baik yang mampu dan tidak mampu sama-sama bergembira.

“Sama-sama bergembira karena yang kurang mampu atau tidak mampu ini akan dibantu dengan zakat fitrah, dengan zakat mal, lalu dibantu juga dengan infaq dan shodaqoh,” tuturnya.

Menurutnya adalah kewajiban dalam agama, jika zakat dikeluarkan akan mendapat pahala, tapi jika tidak dikeluarkan maka dia akan berdosa. 

“Kalau dalam bahasa ekstrim, percuma juga kita puasa mendapat pahala,” tukasnya.

Menurut mantan anggota Majelis Tinggi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, bagi umat Islam dengan melakukan Zakat Fitrah ini juga dipakai sebagai sarana untuk menyucikan diri sesuai arti fitrah yaitu suci. Sehingga pada hari raya Idul Fitri itu umat kembali kepada kesucian. Artinya orang yang mampu makan pada hari ini dan besoknya  masih ada persediaan maka wajib melakukan zakat fitrah.

Dirinya mengatakan bahwa ada beberapa manfaat dari umat Islam yang melakukan Zakat fitrah, selain untuk mensucikan diri, yaitu bisa untuk membantu faktor sosial dan faktor sosial. Faktor sosial yaitu silaturahmi antara yang mampu dan tidak mampu.

“Sehingga terjalin harmonisasi antara yang mampu dan tidak mampu. Yang tidak mampu mengatakan  ‘saya disumbang oleh orang-orang yang mampu’. Jadi ada interaksi sosial sesama masyarakat, sehingga ada silaturahminya,” ujar mantan anggota DPR RI periode 1997-2014) dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) ini.

Baca Juga:  41 dari 100 Masjid di Lembaga Pemerintah Terpapar Radikalisme

Lalu manfaat secara ekonomi  menurutnya yaitu dapat membangkitkan ekonomi mikro. Misalnya orang yang kurang mampu ini punya usaha, lalu dia menerima zakat walaupun tidak besar. Tetapi kalau diuangkan misalnya penerima zakat tersebut mendapatkan bagian zakat fitrah banyak maka dia dapat bagian misalnya satu juta tentu dapat dipakai untuk menambah ekonomi dari usahanya..

Ia mengungkapkan bahwa ada tiga manfaat zakat. Pertama,  mengembalikan kesucian, kedua yaitu faktor sosial yaitu terjadinya silaturahmi yang akrab antara yang mampu dan yang tidak mampu. Lalu yang ketga dapat menumbuhkan sektor ekonomi, khususnya ekonomi mikro atau sektor riil yang ada di masyarakat.

Namun demikian dirinya kembali mengingatkan kepada umat muslim agar tidak memberikan zakat fitrah itu kepada orang-orang tua kita. Karena orang tua itu sebenarnya adalah kewajiban kita kalau memang orang tua kita tidak mampu.

“Saya masih suka lihat di kampung-kampung, karena mungkin mereka tidak mengerti hukum zakat fitrah itu diberikan kepada saudara-saudara kita, orang tua kita. Kalau saudara kita yang tidak mampu masih boleh, tapi kalau orang tua itu adalah kewajiban kita,” ucap mantan anggota Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini.

Oleh karena itu dirinya mengingatkan untuk kita kembali kepada 8 asnaf yang diperbolehkan menerima zakat fitrah tersebut yaitu Fakir;Miskin; Amil; Mu’allaf; Hamba sahaya; Gharimin; Fisabilillah dan Ibnus Sabil.

“Dengan zakat fitrah  itu, Insya Allah kita dapat mensucikan diri. Dan kalau puasa itu dibagi dalam tiga tahap pertama tahapnya adalah ‘awwaluhu rahma’, maqfirah atau ampunan Allah, maka di tanggal 21 sampai 30 Ramadhan itu adalah ‘itkum minannar’, yaitu dijauhkan dari api neraka. Artinya apa ? Kita kembali kepada kesucian ditambah zakat fitrah. Jadi benar-benar Idul Fitri. Jadi Fitri  itu adalah  kesucian, jadi kembali kepada fitrah,” pungkasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Ali Kalora

Pentolan Teroris Mujahidin Indonesia Timur Ali Kalora Tewas Ditembak Satgas Madago Raya

Palu – Setelah melakukan perburuan intensif, Satgas Madago Raya akhirnya berhasil menembak mati tokoh teroris …

Dr Adnan Anwar

Silaturahmi Nasional Penting Sebagai Sarana Tabayyun Dalam Menjaga NKRI

Jakarta – Dalam konteks berbangsa dan bernegara, persaudaraan tidak hanya dibangun atas dasar persamaan keyakinan, …