tasawuf ulama salaf dan khalaf
tasawuf ulama salaf dan khalaf

Ajaran Tasawuf di Mata Para Ulama Salaf dan Khalaf

Ajaran tasawuf sering dibilang bid’ah, bahkan kadang sesat. Umat Islam tidak memahami secara jelas tasawuf sebagai jalan spiritual yang dipratekkan para sahabat dan ulama salaf. Bahkan sesungguhnya tasawuf adalah jalan mengikuti sunnah Nabi.

Dalam ceramahnya Syekh Ahmad Asrori al Ishaqi, mursyid thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah, menyebut bahwa dengan laku thariqah para hati akan menjadi lembut dan penuh kasih sayang terhadap semua makhluk serta tidak mudah menyalahkan perilaku orang lain. Selalu introspeksi diri dan hati-hati.

Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya thariqah atau ajaran tasawuf merupakan sesuatu yang penting dalam upaya penyempurnaan laku spiritual baik dhahir maupun bathin. Tasawuf adalah jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ajaran Tasawuf dalam Praktek Ulama Salaf

Pentingnya ajaran tasawuf diakui oleh para ulama besar pada zamannya. Bahkan empat imam madzhab fikih ternyata penganut thariqah atau tasawuf. Di antara sederet nama ulama yang secara tegas meyakini pentingnya bertasawuf tercatat nama Syaikh Fakhruddin al Razi (544-606 H), ulama tersohor dan ahli hadits.

Dalam kitab I’tiqad al Furaq al Musliman, al Razi menegaskan bahwa jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk melunakkan hati supaya tidak tertipu kehidupan dunia, menjaga diri agar hati dan pikiran selalu sibuk dengan mengingat Allah dalam seluruh tindakan dan perilaku.

Senada dengan ungkapan Imam Fahruddin al Razy, Ibn Khaldun, ulama sekaligus filosof (733-808 H) salam Muqaddimahnya menulis, sufi merupakan jalan yang ditempuh oleh para ulama salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu. Mereka adalah para sahabat Nabi, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in. Pondasi dasar tasawuf yang mereka bangun adalah beribadah kepada Allah lahir dan batin, meninggalkan kemewahan serta kesenangan dunia.

Imam Jalaluddin Al Suyuti, seorang ulama besar ahli tafsir Qur’an dan hadits di dalam kitab Ta’yad al haqiqat al ‘Aliyyah, menulis dan memberi gambaran bahwa tasawuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Karena bertasawuf berarti  mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah.

Ajaran Tasawuf di Mata Syeikh Ibnu Taimiyah

Pendapat yang mengejutkan disampaikan  Ibnu Taimiyyah (661-728 H), salah seorang ulama yang awalnya sangat anti terhadap tasawuf. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin matangnya tempaan keilmuannya, akhirnya beliau mengakui bahwa tasawuf adalah jalan kebenaran.

Kesadaran ini yang kemudian menuntun beliau berbai’at dan menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah. Hal ini diungkapkan sendiri oleh beliau dalam kitab Majmu al Fatawa Ibn Taimiyah. Ketika menulis bahasan tasawuf ia menyatakan: “Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada kehadiran dalam Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.”

Masih dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah berkata, “Para syaikh harus kita ikuti sebagai pembimbing, mereka adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita berhaji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.”

Dalam kitabnya beliau menyebutkan para syaikh sufi (mursyid thariqah). Di antaranya Syaikh Ibrahim ibn Adham, Syaikh Ma’ruf al Karkhi, Syaikh Hasan al Basri, Sayyidah Rabi’ah al Adawiyyah, Syaikh Abul Qasim Junaid ibn Muhammad al Baghdadi, Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Ahmad al Rifa’i dan lain-lain. Ibnu Taimiyah menyebut para ulama mursyid thariqah tersebut dengan “guru kami”.  Memang dalam sanad thariqah semua mursyid dipanggil dengan istilah guru kami (Syaikhina).

Di dalam kitab Syarh al Aqidah al Asfahaniyyah, Ibnu Taimiyyah berkata, “Di masa saat ini, kita tidak mempunyai seorang Imam yang setara dengan Malik, al Auza’i, al Tsauri, Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Fudhail bin Iyyadh, Ma’ruf al Karkhi, dan orang-orang yang sebanding dengan mereka.” Langkah Ibnu Taimiyah kemudian diikuti oleh muridnya, Ibnu Qayyim al Jauziyyah. Di dalam kitab “Al Ruh” ia mengakui dan mengambil hadist serta riwayat-riwayat dari para pemuka sufi.

Ajaran Tasawuf di Mata Syeikh Yusuf Qardhawi

Dr. Yusuf Qardhawi, guru besar Universitas al Azhar, yang merupakan salah seorang ulama Islam terkemuka abad ini. Di dalam kumpulan fatwanya mengatakan, “Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam sisi ruhaniah, ubudiyyah dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.”

Ia berpendapat bahwa para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang. Hati dan pikiran selalu terjaga dari hal-hal buruk. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan dzalim kembali bertobat karena jasa mereka.

Para ulama sufi memberikan kontribusi luar biasa terhadap dunia Islam,  berupa khazanah peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani. Dan semua ini  tidak dapat dibantah oleh siapapun.

Dengan pengakuan ulama-ulama kesohor seperti telah tersebut, semakin terang kebenaran dan hakikat ilmu tasawuf. Bahwa thariqah sebagai salah satu media tasawuf sejatinya adalah kawah candradimuka tempat mengambil berkah ilmu tasawuf dengan belajar serta berkhidmat kepada para syaikh thariqah pada masanya masing-masing.

Oleh karena itu, kebenaran ilmu ini tidak bisa dibantah lagi.  Karena mereka yang menyebut tasawuf sebagai ajaran sesat atau bid’ah tidak lain adalah orang-orang yang hatinya tertutup terhadap kebenaran. Enggan untuk mengikuti jejak-jejak para ulama salaf yang menghormati dan mengikuti ajaran tasawuf Islam.

Bila demikian, masihkah hati kita akan tertutup, atau karena gengsi lalu menolak ajaran sufi yang menjadi tradisi ulama salaf?.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

kopi sufi

Kopi dan Spiritualitas Para Sufi

Ulama dan Kopi apakah ada kaitan diantara mereka berdua? Kopi mengandung senyawa kimia bernama “Kafein”. …

doa bulan rajab

Meluruskan Tuduhan Palsu Hadits-hadits Keutamaan Bulan Rajab

Tahun Baru Masehi, 1 Januari 2025, bertepatan dengan tanggal 1 bulan Rajab 1446 H. Momen …