demo anarkis
demo anarkis

Anarkisme bukan Ajaran Islam dan Budaya Muslim

Aksi kekerasan yang terjadi ketika demonstrasi seolah menjadi bagian yang kadang tak terpisahkan bagi para pendemo. Lihat saja, setiap terjadi demonstrasi yang di berbagai kota ujung-ujungnya anarkisme. Dan akhir-akhir ini aksi anarkisme banyak dilakukan kelompok remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Bukankah tujuan pendidikan di sekolah itu mencerdaskan dan memiliki akhlak yang baik. Apakah tidak akan mencoreng nama baik Indonesia sendiri.  

Lalu, bagaimanakah Islam memandang aksi kekerasan yang dilakukan selama demonstrasi berlangsung. Merusak fasilitas, saling memukul, saling mencemooh, bahkan bisa juga menyebabkan hilagnya nyawa seseorang. Kekerasan seperti itu tidak dibenarkan dalam agama dan negara dikarenakan melanggar hak asasi manusia.

Penulis bersimpati kepada para demonstrasi yang menyuarakan hak pendapatnya di publik. Karena mengutarakan pendapat di depan publik merupakan hak asasi manusia yang dijamin oleh undang-undang dasar pasal 28 tahun 1945. Namun berbeda ceritanya, ketika menyampaikan pendapat berujung pada anarkisme, dan aksi kekerasan itulah  yang disayangkan.

Islam Melarang Anarkisme

Agama manapun tidak menghalalkan sikap anarkisme yang merusak fasilitas di berbagai tempat.

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِزْقِ اللهِ وَلَا تَعْثَوْافِى الْأَرْضِ مُفْسِدِيْنَ

Makan dan minumlah dari rejeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al Baqarah: 60)

Allah SWT sejatinya sudah memberikan rejeki berupa kenikmatan hidup, keluarga, agama dan negara. Maka, sebagai hamba yang beribadah kepada Allah SWT mengikuti nash Al Quran untuk tidak merusak bumi manusia untuk hidup dengan cara membakar bangunan, merusak hutan, merusak fasilitas umum dan kekerasan lainnya.

Dari segi pendekatan teologis normatif, melakukan kerusakan di muka bumi dilarang oleh agama melalui dalil Al Quran dan al Hadits. Ditinjau dari segi sosiologis, budaya kekerasan bukanlah tradisi warga Indonesia yang sangat dikenal dengan saling gotong-royong. Adapun dari aspek historis, kekerasan di Indonesia terjadi diperuntukkan melawan penjajah.

Baca Juga:  Belajar dari Timur Tengah, Agama Menjadi Bencana Ketika Dijadikan Alat Politik

Benar kata presiden RI pertama, “perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Sehingga, sebisa mungkin kekerasan antar sesama anak bangsa ini dihindari agar menjadi negara yang baldatun wa robbun ghofur. 

Tindakan merusak lingkungan di muka bumi juga diperkuat dengan ayat lain juga, yaitu:

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan jangan kalian semua merusak di muka bumi setelah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada_Nya dengan rasa takut (jika tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al A’raf: 56)

Tuhan kita dengan melalui rahmatnya mengembalikan bumi ini yang sebelumnya dirusak oleh tangan yang tidak bertanggung jawab. Dalam ayat itu juga dijelaskan rahmat Allah sangatlah dekat kepada orang yang selalu berbuat kebajikan di muka bumi ini. Oleh karenanya haram hukumnya merusak di bumi Indonesia.

Etika Menasehati Nir-Kekerasan

Lantas, dengan cara apakah kalau ada pemimpin yang tidak benar atau tidak adil. Pertama, menasehatinya. Tentunya menasehati disini dengan sikap sopan. Sejumlah perwakilan menghadap pimpinan untuk menasehatinya dengan kata-kata yang baik.

Kedua, mengajukan judicial review kepada yang berwenang jika ada undang-undang yang merugikan rakyat. Di Indonesia memiliki Mahkamah Konstitusi untuk banding masalah undang-undang yang bermasalah.

Ketiga, melakukan demonstrasi dengan mengutarakan pendapat di muka umum dijamin oleh konstitusional, namun dilakukan secara beradab. Jangan sampai mencemooh dan menghujat pemimpin. Bukankah hadits Rasulullah menjelaskan:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِيْ الأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

Artinya: “Barangsiapa yang menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya.”

Baca Juga:  ISIS dan Pelajaran Khilafah yang Gagal

Pemimpin seperti presiden di Indonesia itu wajib di taati. Al Quran dalam surah An Nisa: 4 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, Rasul, dan ulil amri di antara kamu”. Jika mendapati pemimpin zalim, Syeikh Ali Jum’ah, seorang mufti Mesir mengatakan “tetaplah mentaati pemimpin yang zalim dan jangan sampai terjadi fitnah yang berkepanjangan tanpa akhir”.

Amarah dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Semangat persatuan dan kesatuan demi kemakmuran bersama harus ditingkatkan. Tidak hanya sikap santun yang dimiliki oleh rakyat, namun dengan implementasi persatuan Indonesia akan bersikap arif dan bijaksana dalam mengutarakan pendapat di muka umum. Sungguh ironis memang, sikap anarkisme ditunjukkan oleh mereka-mereka yang masih duduk di bangku sekolah.  Semoga, demonstrasi kedepan lebih santun dan damai.

Bagikan Artikel ini:

About Yoyok Amirudin

Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang

Check Also

damai di tengah perbedaan

Damai di Tengah Perbedaan

“Tuhan menciptakan kalian laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya kalian saling mengenal…” (Q.S. Al Hujurat: …

self management

Self Management: Cara Islami Menghadapi Masalah

Cobalah anda melihat bagaimana teman anda membahagiakan dirinya ketika dalam kesusahan. Ada yang pergi ke …