jihad anak
jihad anak

Antara Jihad dan Taat Kepada Orang Tua

Mengejutkan dan sungguh di luar akal sehat apa yang viral di media sosial belum lama ini. Dua bocah laki-laki menarasikan sebuah lagu perjuangan untuk meninggalkan ayah dan ibu demi berjuang di bawah komando Habib Rizieq Shihab. Mereka menyebut Habib Rizieq Shihab sebagai pahlawan yang membela kebenaran dan anti kedzaliman.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Habib yang akrab disapa HRS tersebut, fenomena ini sangat disayangkan. Kenapa? Sebab jihad dalam Islam ada aturannya. Tidak semua umat Islam wajib turun ke medan perang, salah satunya adalah harus persetujuan kedua orang tuanya. Apalagi gaungan jihad yang hanya bersumber dari gelora “fanatisme buta” yang menghilangkan akal sehat yang dilarang oleh agama.

Bila tidak segera dihentikan, anak-anak terancam memiliki akhlak buruk, tidak taat kepada orang tuanya. Padahal seperti telah diterangkan, ketaatan kepada orang tua lebih utama dari jihad.

Dari Ibnu Mas’ud, Aku bertanya kepada Rasulullah, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah”? Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya”. Aku bertanya lagi, “Kemudian apa”? Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi”? Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah”. Rasulullah menyebutkan (tiga) hal itu kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, tentu Rasulullah akan menambahkan lagi”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini sebagai pelajaran berharga, khususnya bagi anak-anak, bahwa berbakti kepada kedua orang tua jauh lebih utama dari jihad. Hukum berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ain. Yakni kewajiban yang berlaku bagi setiap individu. Sedangkan jihad menurut jumhur ulama hukumnya fardhu kifayah, cukup dilakukan oleh sebagian. Namun dalam keadaan tertentu hukum jihad bisa berubah menjadi fardhu ain.

Perlu dipahami, untuk melakukan jihad harus mendapat izin dari kedua orang tua. Pada masa Nabi sendiri, beliau tidak mengizinkan sahabat yang tidak mendapat restu dari orang kedua orangtuanya. Padahal kita tahu bahwa jihad pada masa Nabi adalah jihad yang memang sesuai dengan perintah agama. Bukan jihad yang masih diragukan keabsahannya. Apalagi jihad yang keliru dengan tujuan politik atau kepentingan kelompok.

Dari Abdullah bin ‘Amr, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, lalu ia minta izin kepada baginda Nabi untuk ikut berjihad. Nabi bertanya kepadanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup”? Lelaki itu menjawab, “Ya”. Rasulullah bersabda, “Berjihadlah disisi keduanya”.

Hadis ini menegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua lebih utama dari jihad. Karenanya, apa yang dilakukan oleh dua anak laki-laki dengan menarasikan perjuangan dengan meninggalkan kedua orangtuanya untuk berjihad di bawah komando Habib Rizieq Shihab adalah suatu kesalahan. Apalagi kita juga perlu memeriksa kembali apakah membela tokoh yang diidolakan adalah bagian dari jihad?

Bagi anak-anak yang lebih penting adalah berbakti kepada kedua orang tuanya dengan cara menuntut ilmu untuk bekal hidupnya. Apalagi, konteks jihad yang diapahami bukan jihad yang dianjurkan oleh agama. Tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jihad kontroversial yang diragukan apakah benar-benar jihad karena Allah atau hanya tujuan duniawi. Lebih celaka, kalau doktrin jihad palsu tersebut hanya untuk meraih tujuan politik tertentu.

Nabi saja tidak akan pernah mengorbankan anak kecil atau seorang anak yang tumbuh dewasa demi kepentingan perang jika tanpa persetujuan orang tua. Nabi sangat menghargai setiap hak orang tua untuk memberikan izin kepada anaknya. Jihad perang adalah bagian dari ajaran Islam, tetapi berbakti kepada orang tua juga bagian dari jihad yang menjadi kewajiban setiap anak.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

kopi sufi

Kopi dan Spiritualitas Para Sufi

Ulama dan Kopi apakah ada kaitan diantara mereka berdua? Kopi mengandung senyawa kimia bernama “Kafein”. …

doa bulan rajab

Meluruskan Tuduhan Palsu Hadits-hadits Keutamaan Bulan Rajab

Tahun Baru Masehi, 1 Januari 2025, bertepatan dengan tanggal 1 bulan Rajab 1446 H. Momen …