ziarah kubur
sumber foto: republika

Selain Wujud Bakti, Inilah Manfaat Ziarah kepada Orang Tua

Perasaan kurang berbakti atau merasa banyak hal yang belum dilakukan untuk menyenangkan hati orang tua yang telah meninggal merupakan sesuatu hal yang dapat menumbuhkan rasa penyesalan dari seorang anak. Terkadang anak merasakan hal itu ketika orang tua sudah meninggal. Mereka menjadi menyesal perlakuan terhadap orang tua selama masih hidup.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh anak yang orang tuanya sudah meninggal? Bakti seperti apa untuk menebus sesal tersebut? Masihkah ada ruang bakti kepada orang tua?

Selain perkara yang dianjurkan dalam Islam, ziarah kubur juga merupakan salah satu cara seorang anak berbakti kepada orang tua setelah orag tua meninggal dunia. Rasulullah pun ziarah kepada ibu tercinta, bahkan pernah dalam kesempatan beliau terlihat menangis di depan makamnya.

Seorang anak dapat menziarahi makam kedua orang tua karena berziarah ke makam kedua orang tua memiliki keutamaan luar biasa, dalam riwayat di tuliskan :

وَقَدْ رَوَى الْحَكِيمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدِيهِ

Artinya: “Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dengan keadaan marfu’, ‘Siapa saja yang menziarahi sekali makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap Jumat, niscaya Allah mengampuninya dan ia tercatat sebagai anak yang berbakti kepada keduanya,” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Hadis ini dijadikan dasar oleh para ulama mengenai kesunnahan menziarahi kuburan orang tua kita di malam dan hari Jumat. Pada prinsipnya, ziarah kubur boleh dilakukan kapan pun tanpa terikat waktu tertentu.

Baca Juga:  Cerdas Membaca Kasus Uighur: Solusi Khilafah untuk Uighur?

Hanya saja, pada waktu-waktu khusus lebih dianjurkan lagi untuk melakukan ziarah kubur, seperti saat lebaran Iduladha dan Idulfitri, juga malam dan hari Jumat. Pada waktu-waktu tersebut, kita sangat dianjurkan untuk ziarah kubur, terutama ziarah ke kuburan orang tua.

Ziarah kubur juga merupakan salah satu sunnah yang bersumber dari Rasulullah. Setidaknya, ada dua keutamaan menziarahi kuburan orang tua.

Pertama, dengan berziarah kubur akan mengingatkan kita pada kematian. 

Rasulullah bersabda, “Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat” (HR. Ibnu Majah)

Jika sering ingat mati, maka bisa melembutkan hati yang berdampak pada mudah menerima nasehat dan rajin beribadah.

Kedua, ziarah kubur mampu melembutkan hati.

وَرُوِيَ إنَّ الرَّجُلَ لَيَمُوتُ وَالِدَاهُ وَهُوَ عَاقٌّ لَهُمَا فَيَدْعُو اللَّهَ لَهُمَا مِنْ بَعْدِهِمَا فَيَكْتُبُهُ اللَّهُ مِنْ الْبَارِّينَ

Artinya, “Diriwayatkan bahwa seorang anak yang kedua orang tuanya wafat sementara ia pernah berdurhaka terhadap keduanya, lalu ia berdoa kepada Allah sepeninggal keduanya, niscaya Allah mencatatnya sebagai anak yang berbakti,” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Riwayat hadits di atas mampu memberikan harapan bagi seorang anak yang bersikap durhaka kepada orang tuanya selagi mereka masih hidup. seorang anak dapat memperbanyak ibadah kepada Allah dengan doa atau ibadah lainnya yang dimaksudkan sebagai hadiah pahala bagi kedua orang tuanya.

Menurut Al-Bujairimi, hadits-hadits ini menyarankan bahwa orang yang menziarahi makam kedua orang tuanya adalah orang yang berbakti kepada keduanya, tidak durhaka, dan tidak menyia-nyiakan hak keduanya.

Praktik ziarah demi menunaikan sebuah kewajiban seorang anak kepada orang tuanya wajib dilakukan meski perjalanan yang ia tempuh akan sulit dan jauh

Baca Juga:  Bahagia dan Gembira Termasuk Bagian Akhlak Rasulullah

قَالَ الْإِمَامُ السُّبْكِيُّ وَالزِّيَارَةُ لِأَدَاءِ الْحَقِّ كَزِيَارَةِ قَبْرِ الْوَالِدَيْنِ يُسَنُّ شَدُّ الرَّحَّالِ إلَيْهَا تَأْدِيَةً لِهَذَا الْحَقِّ،

Artinya, “Imam As-Subki mengatakan, ziarah untuk menunaikan kewajiban itu setara dengan menziarahi makam kedua orang tua. Upaya menempuh perjalanan untuk kepentingan ini sangat dianjurkan sebagai bentuk pemenuhan kewajiban,” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Jadi bagi seorang anak yang memiliki tempat tinggal yang jauh dari makan orang tuanya, tetap disarankan untuk mendatangi makan kedua orang tua mereka karena ziarah merupakan pengabdian seorang anak kepada orang tua mereka.

Ketika orang tua telah meninggal dunia, sudah tidak adalagi cara bagi seorang anak untuk berbakti kepada mereka. Dan perlu diingat, surga seorang anak terletak pada kaki orang tua, khususnya seorang ibu.

Bagikan Artikel

About Eva Novavita

Avatar