ziarah kubur
sumber foto: republika

Makna Tradisi Ziarah Kubur di Bulan Suci

Ziarah kubur merupakan ibadah yang biasa dilakukan umat Islam di Indonesia dan di berbagai negara muslim lainnya sebagai bagian dari mendoakan yang sudah meninggal. Ziarah kubur adalah bagian dari sunnah Nabi yang pernah menziarahi makam ibundanya dan makam para syuhada.

Berbagai literatur menyebutkan ziarah kubur hukumnya sunah. Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya juga menjelankan ziarah kubur. Jadi tidak ada dasar sama sekali untuk melarang ziarah kubur, karena kita semua tahu bahwa Rasulullah pernah ziarah ke makam Baqi’ dan mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada para ahli kubur di makam Baqi’ tersebut.

Dalam hal ziarah kubur, Rasulullah sendiri juga mengajarkan kepada para sahabat hal-hal yang musti dikerjakan apabila mereka hendak melakukan ziarah kubur. Dalam riwayat Abu Bakar dituliskan, jika salah seorang dari sahabat sedang melakukan ziarah kubur, maka merekapun membaca doa:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ

“Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang Mukmin dan Muslim dan kami Insya Allah akan menyusul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian keselamatan.”

Ziarah makam orang tua tentu menjadi salah satu kelebihan seorang anak. Bakti anak kepada orang tua terus mengalir bahkan ketika mereka sudah meninggal. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:

مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدَيْهِ

Artinya: “Siapa ziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jumat, Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatat sebagai bakti dia kepada orang tuanya.” (HR Hakim).

Baca Juga:  Tokoh Sufi yang "Tuli"

Membagi Kemenangan kepada yang Sudah Meninggal

Di bulan Ramadan, tradisi ziarah justru semakin meningkat pada awal dan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Seakan sudah menjadi tradisi meskipun tidak ada anjuran tentang waktu tertentu tersebut. Inilah kadang yang menyebabkan seseorang yang sedikit agak kaku sering menganggap ziarah dalam konteks ini menjadi bid’ah.

Padahal tentu kapanpun berziarah akan memberikan hikmah mengingat kematian. Ziarah juga mendekatkan diri kepada Allah dan tentu saja memberikan siraman doa bagi yang sudah meninggal.

Ziarah kubur biasanya juga dilakukan dengan cara napak tilas dan berkeliling ke tempat-tempat yang dianggap memiliki sejarah kehidupan mereka di saat kecil sembari menceritakannya kepada anak-anak mereka. Setelah itu biasanya mereka baru berkeliling untuk bersilaturahmi ke tetangga dan saudara-saudara dekat mereka.

Praktik ziarah kubur sebenarnya tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Hampir seluruh dunia memiliki kebiasaan yang sama dalam rangka menghormati leluhur yang telah meninggal dunia. Dalam kebudayaan Romawi kuni, ziarah kubur dikenal dengan istilah Momento Mori dalam bahasa Latin yang artinya adalah “Ingatlah akan kematianmu”, tetapi juga “Ingatlah untuk mati.”

Memento mori mengajarkan kita agar kita selalu memberikan yang terbaik dalam hidup ini, dalam kita menjalani aktivitas sehari-hari lakukanlah semuanya seolah-olah hari ini adalah hari terakhir dalam hidupmu. Sehingga semua yang kamu lakukan memiliki arti bagi dirimu maupun orang lain.

Fakta tentang adanya kematian, merupakan salah satu hal yang dapat mendorong kita menjalani hidup dengan sepenuh hati. Manusia menjadi termotivasi untuk menjaga hubungan baik dengan orang di sekitar kita, mengerjakan aktivitas semaksimal mungkin, dan mensyukuri waktu yang kita habiskan bersama orang yang berharga bagi kita.

Baca Juga:  Viral Lagu Aisyah Istri Rasulullah : Ini Fakta-Fakta tentang Sayyidah Aisyah yang Wajib Kamu Ketahui (1)

Banyaknya hikmah terkait ziarah kubur, maka orang yang suka ziarah mengambil inisiatif alangkah indahnya jika dapat berdoa di hari yang dimuliakan Allah yakni bulan Ramadan dan terlebih Hari Raya Idul Fitri. Mereka seolah tidak hanya ingin membagi hari kemenangan kepada yang hidup tetapi juga kepada yang sudah meninggal.

Bagikan Artikel

About Inke Indah Fauziah