Ziarah Kubur antara Tradisi dan Sunnah

0
709
ziarah kubur
sumber foto: republika

Ziarah kubur telah menjadi tradisi masyarakat muslim tidak hanya Indonesia tetapi juga negara muslim lainnya. Ziarah kubur akan menjadi tempat yang banyak dikunjungi jika dalam makam tersebut terdapat wali, ulama dan tokoh masyarakat. Pertanyaannya apakah ziarah hanya sebagai tradisi atau memang sunnah?

Tidak sedikit orang yang mengatakan ziarah sebagai bid’ah. Sebenarnya tidak arif jika mengatakan ziarah kubur langsung dihukumi bid’ah. Kenapa menjadi harus hati-hati dalam menuduh bid’ah. Karena seingkali Kelanjutannya adalah setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan adalah neraka.

Pertanyaannya apakah Nabi tidak pernah berziarah? Rasul pernah diperintahkan oleh Allah untuk pergi ke pemakaman Baqi melalui malaikat Jibril. Kisah ini diceritakan dalam hadist shahih yang terdapat dalam hadist muslim yang diriwayatkan ole Aisyah: Nabi berkata: Jibril datang kepada Saya dan berkata bahwa Allah memerintahkanmu ya Muhamamd untuk mendatangi pemakaman Baqi untuk mengucapkan salam dan mendoakannya.

Dalam hadist ini sebenarnya bahwa doa bisa dilakukan di manapun termasuk salam dan doa kepada penghuni kubur. Tetapi kenapa Allah memerintahkan Nabi untuk mendatangi ahli kubur Baqi dengan mengucapkan salam dan mendoakannya. Artinya, sesungguhnya ziarah kuburpun pernah dilakukan Nabi atas perintah Allah melalui malaikat Jibril.

Sebagaimana diketahui di makam Baqi ini tersimpan jasad-jasad sahabat dan sejumlah keluarga Rasulullah. Mereka di antaranya As’ad bin Zararah, Utsman bin Mazoun, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqas. Sedangkan dari keluarga Rasulullah di antaranya Aisyah, Fatimah az-Zahra, Ruqayyah, Zainab, dan Ummi Kultsum.

Kisah masyhur terkait ziarah juga dilakukan oleh sahabat Bilal. Setelah terpukul dengan wafatnya Nabi, Bilal sang muezzin Rasul mengundurkan diri menjadi muezzin dan meninggalkan Madinah kahwatir selalu teringat Nabi. Namun, suatu malam Rasulullah SAW hadir dalam mimpi Bilal dan menegurnya: Hai, Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?

Bilal pun bangun terperanjat. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah. Setiba di Madinah, di depan makam Rasul yang mulia itu, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih. 

Bukan Sekedar Tradisi

Ziarah bukan sekedar tradisi masyarakat, tetapi praktek Rasul dan para sahabat. Kenapa lalu muncul suara yang membid’ahkan ziarah kubur?

Pada masa awal-awal kerasulan Nabi Muhammad saw memang sempat melarang para sahabat untuk melakukan ziarah kubur, karena Rasulullah khawatir para sahabat akan menjadikan kubur sebagai sesembahan. Namun, setelah aqidah para sahabat dan umat Islam kuat justru Rasulullah menganjurkan para sahabat dan umat Islam untuk melakukan ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat mengingatkan seseorang akan kematian. Rasulullah saw bersabda :

“Dari Buraidah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang, Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang, berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat.” (Sunan al_Tirmidzi, (1974)

Selain berziarah ke makam orangtua dan kerabat handai tolan, terdapat juga orang-orang yang berziarah ke makam para wali atau ulama yang telah dikenal kemashuran ilmu agamanya di masyarakat. Hal ini juga merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh orang-orang ketika Idul Fitri atau hari-hari besar lainya. Ritualitas ini dapat ditemukan di beberapa wilayah Indonesia yang umumnya masyarakatnya menganut paham Aswaja (Ahlus Sunnah Waljama’ah).

Dalam hal ini Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang ziarah ke makam para wali, beliau mengatakan:

“Beliau ditanya tentang ziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula dengan perjalanan ke makam mereka.” (AL-Fatawi al-Kubra al-Fiqhiyyah, Juz, II, hal 24).

Lalu bagaimana ziarah kubur untuk memohon ampun dosa orang yang sudah meninggal?

“Dari Ibnu Umar ia  berkata. “Suatu ketika Nabi saw melewati sebuah kebun di Makkah atau Madinah. Lalu Nabi saw mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di kuburnya. Nabi saw bersabda kepada para sahabat, “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Keduanya disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing. Sedang yang lain disiksa karena sering mengadu domba”. Rasul saw kemudian menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkanya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, “Kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasulullah?” Rasul saw menjawab, Semoga Allah SWT meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering.” (Shahih al-Bukhari (1273).

Rasulullah begitu menghargai orang yang telah wafat, meskipun Rasulullah tidak mengenal orang yang berada di dalam kubur, namun rasulullah tetap memberikan penghormatan dan juga mendo’akan si mayit yang ada di dalam kubur.

Dari inilah sangat wajarlah kemudian kita juga menghormati orang-orang yang telah wafat dengan tetap mendo’akan apalagi mereka adalah saudara dan keluarga yang dicintai. Kematian hanyalah jasad tetapi ruhnya tetap hidup sedang berharap ampunan Allah.

Wallahu a’lam