Haji badal

Bagaimana Cara Melaksanakan Haji Badal?

Ibadah haji merupakan ibadah yang diwajibkan bagi seorang muslim yang mampu secara lahiriyah maupun batiniyahnya. Namun, beberapa calon Jemaah yang tidak dapat pergi ketanah suci karena beberapa alasan. Kadang sudah mampu tetapi karena kendala tertentu harus ditangguhkan. Maka, ada namanya badal haji.

Dalam syariat Islam, badal haji memiliki makna menggantikan orang lain untuk melaksanakan haji karena terhalang uzur tertentu. Dalam ijma para ulama menyatakan bahwa jika seseorang yang akan membadalkan haji orang lain ialah ia yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji terlebih dahulu.

Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan hadis yang dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, “Rasulullah Saw. Pernah mendengar seorang bertalbiyah dengan mengatakan: “Labbaika ‘an Syubramah.” (Aku penuhi panggilan-Mu Syubramah). Rasulullah pun bertanya: “Siapa itu Syubramah?” Ketika dijawab: “Dia saudaraku”, maka Rasulullah pun bersabda: “Apakah kau sendiri sudah menunaikan haji?”, “Belum” jawab orang tersebut. Sabda Nabi: “Hajilah untuk dirimu sendiri dulu, kemudian baru haji untuk si Syubramah.”” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Orang yang dibadalkan hajinya ia yang memang memiliki uzur/halangan yang diakui syariat. Misalkan, orang tersebut sudah sangat tua yang tak sanggup melakukan perjalanan, sakit yang tak ada harapan sembuh, orang pikun atau hilang ingatannya serta orang yang telah meninggal dunia.

Pertama, membadalkan karena kondisi sakit.

Untuk calon jemaah haji yang telah mencicil biaya naik haji namun mengalami sakit di penghujung pelunasan, maka calon jamaah seperti ini wajib untuk dibadalkan atau diwakilkan hajinya oleh petugas yang ada di Arab Saudi, dengan atas nama calon Jemaah tadi.

Sehingga dengan demikian, sesuai dengan ketentuan agama, sesungguhnya Jemaah tersebut telah terpenuhi hajinya. Dan jika Jemaah kesehatannya berangsur membaik, ia sudah tidak di bebankan untuk menunaikan ibadah haji lagi.

Baca Juga:  Saat Pesta Pernikahan Bolehkah Pengantin Jama' dan Qashar Shalat?

Kedua, membadalkan karena kondisi hilang ingatan atau pikun.

Meski secara fisik sehat, para jamaah haji yang terganggu psikologisnya sehingga ia kehilangan ingatannya, maka ia tidak akan di berangkatkan ke tanah suci. Dan sebagai gantinya, jamaah ini akan difasilitasi oleh pemerintah dengan membadalkan haji.

Ketiga, membadalkan haji karena calon Jemaah meninggal dunia.

Karena apabila seseorang yang mampu namun telah meninggal dunia dan ia belum sempat berhaji, sementara kewajiban haji sudah terbebankan kepadanya (istiqrar), maka wajib bagi ahli warisnya untuk menghajikan (badal) atas nama mayit.

Penjelasan tentang haji badal sudah dicantumkan dalam pertaturan menteri agama no. 12 tahun 2014. Biaya untuk pelaksanaan badal haji uang yang dibayar ke pengganti haji jauh lebih murah daripada ongkos haji itu sendiri, yakni sekitar 1.500 riyal. Atau setara dengan 5.661.000 rupiah.

Orang yang memiliki kemampuan dalam melaksanakan haji, tidak akan sah hajinya jika ia membadalkan ibadah hajinya kepada orang lain. Ibnul Mundzir dalam Al-Mughni menyebutkan bahwa, tidak sah hajinya orang yang mampu namun membadalkan hajinya.

Lembaga Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi menambahkan, uzur syar’i yang dapat diterima untuk dibadalkan hanyalah uzur yang bersifat fisik. Dan jika uzur tersebut dalam hal finansial, maka gugurlah kewajiban haji dari dirinya dan ia tidak perlu untuk dibadalkan.

Bagi satu orang pembadal hanya diperbolehkan membadalkan satu orang saja, hal ini dikarenakan untuk mengurangi potensi sebagai ajang bisnis bagi seseorang. Tidak boleh karena mengejar honor yang banyak kemudian dia menyanggupi sejumlah badal.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ernawati

Avatar