lumpur hujan
lumpur hujan

Musim Hujan, Najiskah Pakaian yang Terkena Percikan Air Lumpur Hujan?

“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembara kabar gembira dekat debelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan Kami turunkan dari langit air yang bisa digunakan untuk bersuci.”(al-Furqan ayat 48)

Air hujan hukumnya ialah suci. Hukum tersebut tidak berubah meski tergenang di tanah. Sementara ada orang yang menganggap genangan air hujan najis karena tercampur tanah. Terkait pendapat ini, ulama bersepakat tanah adalah benda suci yang dapat digunakan untuk bersuci.

Jadi jika air telah bercampur dengan tanah, maka hukumnya tetaplah suci. Sehingga pakaian yang terkena genangan air hujan tetap dapat digunakan untuk shalat.

Namun, terkadang bukan hanya tanah saja yang tercampur oleh air hujan, namun selokan dan berbagai jenis saluran air dapat meluap karena tak mampu membendung banyaknya air hujan. Maka tak dapat terhelakkan air hujan yang suci mengandung rahmat bercampur dengan air comberan yang kotor atau bahkan najis. Namun tentu hal yang tidak mungkin untuk memisahkan keduanya.

Lantas bagaimanakah cara kita untuk menjaga kesucian badan dan pakaian kita karena suci dari najis merupakan syarat sah shalat. Perlu kita ingat bahwa agama Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam, terutama bagi umat Islam itu sendiri.

Islam selain memberi syarat-syarat yang perlu di penuhi dalam memenuhi kewajiban sebagai umat, Islam juga memberikan kemudahan dalam setiap situasi tertentu. Termasuk dengan najis yang dibawa dari percikan-percikan air hujan yang sulit dihindari oleh kita.

Dalam Kitab Al-Wajiz karya Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa,

قال الغزالي : يُعْذَرُ مِنْ طِيْنِ الشَّوَارِعِ فِيْمَا يَتَعَذَّرُ الإِحْتِرَازُ عَنْهُ غَالِبًا

Artinya: “Imam Al-Ghazali berkata: Pakaian yang terkena percikan lumpur maupun air dijalan karena sulitnya menghindarkan diri darinya, maka hal ini dimaafkan.”

Baca Juga:  Konsultasi Syariah: Darah Haid Nempel Sulit Dihilangkan, Najiskah?

Perlu diingat bahwasanya penegasan di atas hanya berlaku untuk cipratan air yang terkena najis berjumlah sedikit. Namun bagi cipratan air najis yang jumlahnya banyak tetap tidak termaafkan, dan itu berarti ia harus mengganti ataupun segera membersihkan najis tersebut terlebih dahulu.

Dalam kitab Al-Aziz Syarhul Wajiz, Imam Ar-Rafi’I menjelaskan bahwa,

وَأَمَّا مَا تَسْتَيْقِنُ نَجَاسَتَهُ فَيُعْفَى عَنِ القَلِيلِ مِنْهُ. وأمَّا الكَثِيْرُ فَلاَ يُعْفَى عنهُ كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ

Artinya: “Jika diyakini jalan tersebut ada najisnya, maka hukumnya dimaafkan jika percikan tersebut hanya sedikit, namun jika percikan tersebut banyak maka tidak dimaafkan, sebagaimana hukumnya najis-najis yang lain.”

Adapun alasan mengapa baju yang terkena sedikit najis dari lumpur dapat dimaafkan karena menimbang akan beratnya jika ia harus diwajibkan untuk memcuci pakaiannya yang hanya sedikit terkena najis tersebut, padahal orang tersebut tidak membawa baju yang lain yang digunakan untuk beribadah.

Bagikan Artikel ini:

About Eva Novavita

Avatar of Eva Novavita

Check Also

singgasana sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (3) : Kisah Raja Sulaiman dan Ratu Balqis

Setelah Nabi Daud wafat, kini Nabi Sulaiman meneruskan tahta kerajaan dan memimpin Bani Israil. Seperti …

singgasana sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (2) : Nabi Sulaiman dan Perempuan Korban Pemerkosaan

Sebelumnya sudah diceritakan tentang kecerdasan Nabi Sulaiman dalam memecahkan masalah. Kisah kehebatan Nabi sulaiman tak …