Setiap manusia ingin mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. Hidup bahagia adalah harapan dan impian yang ingin dicapai. Namun, terkadang kita juga salah dalam memaknai apa itu hidup bahagia. Apakah bahagia berarti dikelilingi dengan uang dan harta melimpah? Apakah bahagia adalah semua impian bisa tercapai?
Kadang bahagia itu sangat disempitkan dengan hanya persoalan materi dan fisik semata. Karenanya, banyak orang bekerja siang dan malam tanpa kenal lelah hanya untuk meraih kekayaan, ketenaran, kecantikan dan kekuasaan. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.
Sejatinya, kebahagiaan merupakan kondisi yang membuat batin manusia menjadi tenang dan merasa cukup. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Hati adalah pangkal kebahagiaan. Tidak perlu membutuhkan materi berlimpah, namun hati membutuhkan ketenangan dan ketenteraman batin untuk mendapatkan kebahagiaan. Inilah cara dan jalan bahagia menurut Islam.
Pertama, tidak berlebihan dalam membenci
Benci adalah perasaan yang membelenggu. Apapun kemegahan harta dan kuasa jika masih dihinggapi rasa benci, akan selalu tidak merasa tenang. Karena itulah hindarilah membenci kepada orang lain apalagi secara berlebihan.
Rasa benci hanya akan menyempitkan dada dan bisa menjadi sumber kedengkian, prasangka buruk, dan mampu menutup hati yang pastinya hati akan sulit mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Benci juga menjadi penghalang bagi manusia kelak untuk bisa meraih kebahagiaan sejati di surga.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, “pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan hari kamis, lalu orang-orang yang tidak berbuat syirik diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang memiliki rasa kebencian terhadap suadaranya. Lalu dikatakan, “tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali islah.”
Kedua, tidak berlebihan dalam bersedih
Rasa sedih memang merupakan perasaan bawaan bagi manusia. Namun jika bersedih dengan kadar yang berlebihan atau meratapi kesedihan secara berlebihan akan mampu membuat tertutupnya hati dan otomatis hatipun menjadi semakin berat dalam memandang masalah yang dihadapi.
Jika ini terjadi, maka jangan mengharapkan kedamaian dan kebahagiaan, karena hati yang seperti ini tidak akan mampu lagi merasakan bahagia. Sebagai manusia, yang perlu kita sadari adalah bersedih secara berlebihan bukanlah suatu solusi yang tepat untuk dalam menghadapi masalah.
Ketika kita bersedih, hendaknya kita selalu mengingat akan firman Allah yang berbunyi, “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. At-Taubah: 40)
Allah akan selalu bersama umatnya yang taat kepadanya. Jadi jika manusia merasaka sedih akan suatu hal yang menimpanya, maka hendaknya berwudhu dan cobalah untuk mengadu kepada Allah dan mintalah petunjuk dan pertolongannya.
Ketiga, menjalani hidup sederhana meskipun serba ada
Hidup berkecukupan dan merasakan harta yang melimpah merupakan dambaan bagi setiap manusia. Namun jika manusia selalu menuruti hawa nafsunya dalam bermewah-mewahan, maka dengan sendirinya manusia tersebut tidak akan mampu mengontrol lagi dirinya dalam merasakan kemewahan yang ada pada dirinya.
Yang patut disadari bahwa kesederhanaan mampu melahirkan kedamaian dalam hati manusia. Manusia yang mampu menjalankan kehidupan yang sederhana meski dirinya bergelimang harta, maka orang tersebut sudah pasti akan mampu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan serta jauh dari rasa dengki terhadap orang lain.
Keempat, selalu berbuat kebaikan meski sedang kesusahan
Agar kehidupan sesama manusia berjalan harmonis, maka diperlukan sikap saling tolong menolong terhadap sesamanya. Meski sedah dilanda masalah yang cukup sulit dan menghimpit dirinya, namun, sebagai manusia tetap harus salaing membantu dan menolong terhadap saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan.
Terutama saudara dekat kita. Dengan menyadari kita mampu membatu seseorang dalam bangkit dari masalahnya, tanpa sadar kita juga akan merasa bahagia ketika melihat kebahagiaan dar orang yang kita bantu.
Ternyata merasa berguna bagi kehidupan manusia lainnya merupakan salah satu kunci kebahagiaan ditengah musibah yang melanda diri kita. Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)
Kelima, banyak memberi meskipun kesusahan
Tak lain halnya dengan memberi kebaikan meski sedang dalam kesusahan, memberi di saat sedang berada dalam kondisi kesusahan, hal ini akan lebih berat untuk dipraktikkan. Namun apabila ini mampu dilakukan oleh seseorang, maka, seseorang itupun akan mampu merasakan ketentraman dalam hatinya.
Dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Hubsyi Al Khots’ami menyatakan, Rasulullah pernah ditanya sedekah mana yang paling baik? Beliaupun menjawab, “Sedekah dari orang yang serba kekurangan.” (HR. An-Nasai).
Mampu memberikan sebagian harta yang kita miliki meski dalam keadaan sulit maka akan memberikan pelajaran bagi kita tentang arti nikmat yang sesungguhnya. Ternyata, Allah senantiasa melapangkan dada dan memberikan kebahagiaan pada umatnya yang senang memberi meski dirinya sendiri sedang kesusahan.
Rasulullah bersabda, “Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. ” (HR. Muslim)
Keenam, tetap tersenyum walaupun hati menangis
Dengan tersenyum mampu menjadikan orang di sekitar kita menjadi bahagia. Tidak semua orang harus mengetahui apa yang sedang kita hadapi, maka dengan tersenyum menjadikan orang lain melihat kita dalam keadaan baik-baik saja. Dan sikap seperti itu mampu membuat orang lain tidak merasa khawatir akan diri kita.
Selain itu, senyum juga mampu menjadi sedekah paling mudah kepada sesama. Dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan Tirmidzi. Dari Abu Dzar ra, Rasulullah bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.
Ketujuah, tetaplah mendoakan kebaikan pada sesama
Mampu mendoakan kebaikan untuk sesama merupakan penenang hati yang mampu membuat hidup merasa tenang. Rasulullah bersabda, “Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.”
Adapula larangan untuk tidak memutus tali silaturahmi apalagi memutus doa untuk sesama. Mencermati hadist diatas bahwa, apabila seorang muslim berdoa untuk sesama muslim yang lainnya maka apa yang kamu doakan akan berbalik kepadamu.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah