merendahkan
merendahkan

Bahaya Merendahkan Orang Lain dengan Julukan Jelek dan Hinaan

Nama merupakan panggilan yang paling baik di antara julukan yang lain. Supaya seseorang mendapat panggilan baik maka namanya pun harus baik pula. Sebagian orang beranggapan bahwa nama sebagian doa dari orang tua kepada anak.

Dalam Islam, memberikan nama yang baik kepada anak merupakan salah satu sunah Rasulullah. Dalam riwayat Abu Dawud Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya kalian dipanggil di hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka perindahlah nama-nama kalian.”

Allah berfirman dalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11).

Karena nama adalah doa, maka Islam sangat melarang seseorang memberikan gelar buruk kepada orang lain. Gelar buruk yang disematkan seseorang hanya untuk menghina atau merendahkan orang termasuk dosa besar.

Sifat sombong manusia mampu menganggap rendah orang lain dari pada dirinya. Sifat ini membuatnya merasa sah-sah saja untuk menghinakan manusia lain. Padahal, terkadang orang yang dihina olehnya, lebih terhormat di sisi Allah dari pada dirinya.

Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan :

كَانُوا يَقُولُونَ: إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: يَا حِمَارُ، يَا كَلْبُ، يَا خِنْزِيرُ؛ قَالَ اللَّهُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَتَرَانِي خَلَقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيرًا؟

Artinya: “mereka (para tabi’in) dahulu mengatakan, jika seseorang mencela orang lain dengan perkataan ‘wahai keledai‘, ‘wahai anjing‘, ‘wahai babi‘ maka kelak Allah akan bertanya kepadanya di hari kiamat: ‘apakah engkau melihat Aku menciptakan (dia) sebagai anjing atau keledai atau babi?’” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5/238).

Baca Juga:  Khalid Basalamah yang Kurang Muthala'ah

Ketika hati tersakiti oleh kezaliman seseorang berupa celaan ataupun hinaan dengan ujaran kalimat binatang, rasa sakit itu sangat mungkin akan membekas kuat dalam hatinya. Dan apabila orang yang dihina tidak memiliki kesabaran, maka bisa saja hinaan tersebut akan terus membekas dalam hatinya akan berubah menjadi rasa benci.

Hinaan dan panggilan yang kurang baik dapat menimbulkan permusuhan dan perpecahan di kalangan masyarakat apabila orang yang merasa terhina melakukan balasan kepada orang yang menghina. Perlu di sadari, siapapun orang yang dihina atau dicela berada dalam posisi orang yang dizalimi. Sedangkan para ulama menegaskan bahwa membalas hinaan dan celaan orang lain dalam rangka membela diri itu hukum asalnya adalah boleh.

Dalam firman Allah surat Asy-Syura ayat 39-40:

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ * وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Dalam surat di atas dijelaskan bahwa orang yang dihina boleh membalas dengan hinaan sepadan seperti dia terima. Namun jika dia tetap membalas hinaan tersebut, maka orang yang menghinanya tadi, tidak lagi menanggung dosa menghina dia. Dari semua hal ini, tentunya Allah lebih menyukai hambanya yang memiliki sifat pemaaf terhadap orang yang telah menghina dan mencelanya.

Islam mengatur pergaulan dan interaksi sosial dengan begitu indah. Memberi nama dan memanggil nama dan julukan terhadap seseorang harus diperhatikan. Jangan mudah memberikan julukan yang jelek yang dapat merusak hubungan sosial. Ciri orang beriman adalah selalu berkata santun dan memberikan julukan yang baik yang dapat menyenangkan hati orang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

duduk di kuburan

Saat Ziarah, Bolehkah Duduk di Kuburan?

Meskipun arus puritanisasi  mengklaim ziarah kubur adalah ritual bid’ah, tapi tidak banyak muslim nusantara yang …

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …