shalat sunah
shalat sunah

Fikih Shalat Sunah (1): Mengenal Ragam Shalat Sunah

Shalat merupakan media berkomunikasi dan ruang bertamu hamba bersama Tuhannya. Secara formal media dan ruang komunikasi ini oleh agama diwajibkan selama lima kali dalam sehari semalam. Setidaknya, seorang hamba memiliki kesempatan lima kali dalam 24 jam untuk bermunajat bersama Rabb-nya.

Lima kali adalah batas minimal dalam menyambung rohani dan berkomunikasi. Agama menyediakan ruang ini agar seorang hamba tidak putus komunikasi dengan Tuhannya. Oleh sebab itu, Imam Nawawi dalam karya masterpiece-nya, Al-Majmu’ menuturkan bahwa shalat adalah ibadah fisik yang paling utama dari seorang hamba, mengingat ibadah yang satu ini mampu menghimpun berbagai aktifitas yang tidak ter-cover dalam ibadah yang lain.

Dalam shalat terdapat proses bersuci, menghadap kiblat, membaca ayat Al-Qur’an, membaca shalawat Nabi, dan berzikir. Ada larangan untuk berbicara, melangkah, dan semua aktifitas yang dapat membatalkan shalat. (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, tt.), III/496). Di samping alasan tersebut, juga terdapat sabda Nabi berikut ini:

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

Artinya: “Istikamahlah kalian! dan kalian tidak akan mampu menghitung, ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat, dan tidak ada yang menjaga wudu’ kecuali orang mukmin”. (Sunan Ibnu Majah, No. 290)

Di luar media komunikasi yang lima waktu, Islam memberikan kesempatan yang begitu banyak untuk tetap bermunajat bagi siapapun yang rindu “bercengkrama” dengan Rabb-nya. Media tersebut dilabeli dengan sebutan shalat nafilah (bentuk tunggal) atau shalat nawafil (bentuk jamak/plural).

Secara garis besar shalat nawafil atau yang biasa disebut shalatsunah terbagi dalam dua macam. Pertama, shalat sunah yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah, yaitu shalat Id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, shalat gerhana matahari (kusuf) dan gerhana bulan (khusuf), shalat mohon siraman hujan (istisqa’), shalat tarawih menurut pendapat yang terkuat.

Baca Juga:  Shalat Idul Fitri di Tengah Pandemi: Bagaimana Seharusnya?

Kedua, shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk berjemaah, tetapi jika dilaksanakan secara berjemaah tetap sah, yaitu semua shalat sunah selain yang disebutkan di bagian pertama. Macam yang kedua ini terbagi lagi dalam dua kategori, yaitu shalat sunah ratibah dan gahiru ratibah.

Shalat sunah ratibah meliputi shalat sunah yang menyertai shalat maktubah (qabliyah-ba’diyah)dan shalat sunah yang terikat dengan waktu. Sementara shalat sunah gahiru ratibah adalah shalat sunah yang dilakukan secara suka rela, baik di waktu siang ataupun malam, tanpa terikat dengan waktu, atau yang biasa dikenal dengan shalat sunah mutlak.

Shalat sunah ratibah yang terikat dengan waktu antara lain shalat witir, shalat tahiyyatal masjid, shalat duha, shalat istikharah, shalat tasbih, shalat awwabin, shalat hajat, shalat wudu’, shalat safar, shalat ihram dan tawaf. (Muhammad al-Zuhailiy, Al-Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. III, 2011), I/367., Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, tt.), III/499).

Tingkatan Keutamaan Shalat Sunah

Dari semua macam shalat sunah yang telah dijabarkan di atas, secara umum shalat sunah yang tergolong dalam shalat yang dianjurkan untuk berjemaah menempati keutamaan teratas dibandingkan shalat sunah yang tidak ada anjuran untuk dilaksanakan secara berjemaah. Alasannya, karena disyariatkannya berjemaah menunjukkan keutamaan dan kuatnya anjuran untuk dilakukan.

Sedangkan tingkatan yang paling utama dan sangat ditekankan (muakkad) di antara shalat sunah yang dianjurkan berjemaah adalah shalat Id, karena menyerupai shalat fardu, bahkan ada yang berpendapat hukum shalat Id adalah fardu kifayah. Lalu lebih utama mana antara shalat Idul Fitri dan Idul Adha?

Mayoritas ulama berpendapat sama. Namun, Imam Izzuddin bin Abdissalam mengatakan lebih utama shalat Idul Fitri, mengingat takbir Idul Fitri lebih utama dari pada takbir Idul Adha. Bahkan, sebagian ulama salaf mengumpamakan orang yang melaksanakan shalat Idul Fitri bagaikan orang yang naik haji, sementara orang yang melakukan shalat Idul Adha bagaikan orang yang menunaikan ibadah umrah. (Muhammad al-Zuhailiy, Al-Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. III, 2011), I/366).

Baca Juga:  Dalil Puasa Asyura (10 Muharram)

Menempati keutamaan yang kedua adalah shalat sunah gerhana, lalu shalat sunah minta hujan (istisqa’), karena shalat gerhana status kesunahannya mujma alaih (disepakati para pakar hukum), sedangkan shalat istisqa’ masih mukhtalaf fih (diperselisihkan). Sedangkan di urutan terakhir adalah shalat tarawih. Sementara shalat gerhana matahari lebih diutamakan dari pada gerhana bulan, dengan alasan matahari banyak dibutuhkan dalam kehidupan. (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, tt.), III/500).

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

kaidah fikih

Kaidah Fikih: Yang Tersembunyi Menjadi Tampak

Tak ada yang mampu menyelam dan memahami hati dan pikiran seseorang. Pikiran, niat, bisikan hati …

harus berdoa

Mengapa Harus Berdoa, Jika Takdir Telah Ditetapkan?

Pada tahun 1998 jagat pertelevisian Indonesia dihebohkan dengan lirik sebuah lagu yang dilantunkan oleh aktris …