Bahram Majusi
Bahram Majusi

Bahram : Lelaki Pemuja Api, Lalu Menjadi Abdi Ilahi

Abdullah Ibn al-Mubarak mengisahkan sebuah kisah luar biasa tentang Bahram, Si Pemuja Api atau agama Majusi. Cerita ini berawal saat Ibn al-Mubarak menunaikan Ibadah haji. Tepatnya ketika Ibn al-Mubarak tertidur dengan bersandar di dinding hathim Ismail atau lebih populer dengan istilah hijir ismail (ruang kecil berbentuk bulatan terpotong) disamping Ka’bah.

Dalam tidurku, Ibn al-Mubarak, memulai kisahnya, aku bertemu Rasulullah seraya berkata kepadaku. Bila nanti kamu kembali ke Baghdad, mampirlah ke Kota Fulan, dan carilah laki-laki yang bernama Bahram, dia seorang Majusi. Sampaikan salamKu padanya. Dan katakan padanya, bahwa Allah senang kepadanya.

Lalu aku terperanjat bangun, dan sadar dari mimpiku. Lahawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim. Ini pasti mimpi syetan. Gumamku dalam batin. Untuk menenangkan jiwaku, aku berwudhu’, shalat sunnah dan thawaf. Masyaallah mataku kembali terserang kantuk yang luar biasa. Mimpi yang sama kembali membuai tidurku. Hingga kali ke tiga. Baru aku yakin, mimpi ini nyata.

Maka hajiku rampung aku laksanakan. Aku segera kembali ke Negeriku, Baghdad. Mulailah aku cari kota yang ditunjukkan Rasulullah dalam mimpiku. Setelah beberapa saat aku mencari. Perlahan aku lihat seoarng lelaki paruh baya.

“Apakah Engkau yang bernama Bahram, Si Pemuja Api?” Tanyaku padanya. “Ya”. Jawabnya. “Ada apa gerangan Tuan mencariku?”. Bahram balik bertanya.

“Apakah Engkau pernah melakukan kebaikan untuk Allah?” tanyaku mulai menyelidik. “Ya. Aku pernah melakukannya”. Dengan enteng ia menjawab pertanyaanku.

“Kebaikan apakah itu?” Kata Ibn al-Mubarak “Aku pernah membantu banyak orang dengan memberikan hutang kredit berbunga”. Jawab Bahram. Wah. Itu bukan kebaikan, tapi penindasan namanya. Tapi menurutku itu baik !

Coba diingat lagi, mugkin ada kebaikan yang lain?. Tanya Ibn al-Mubarak. “Aku memiliki empat orang putra dan lima orang putri. Lalu, mereka aku nikahkan satu dengan lainnya. Dan putri kelima ku aku nikahi sendiri. Karena dia gadis tercantik di Kota Baghdad. Tidak ada laki laki yang layak menjadi suaminya.

Baca Juga:  Kisah Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Nabi Muhammad Saw (Bagian III)

Wah. Itu haram, haram, haram hukumnya. Ada lagi?. Saat malam pertamaku dengan putriku, Rumahku disatroni seseorang. Ku tahu dia seorang wanita muslimah. Wanita itu memasuki rumahku seakan akan ada barang yang hendak ia bawa kabur. Namun selalu mengurungkan niatnya itu. Akhirnya aku putuskan untuk membuntutinya.

Tibalah wanita itu di sebuah gubuk reyot dengan sambutan tangis anak anaknya. “Wahai Ibu…. Adakah Engkau membawa sesuatu untuk mengganjal perut kami?” sebab kami sudah kehilangan kesabaran kami menahan rasa lapar ini ! Di bawah temaram rembulan, aku bisa melihat, wanita itu meneteskan air matanya.

Maafkan Ibu anakku. Ibu merasa malu untuk meminta-minta kepada selain Allah. Apalagi kepada musuhNya, Si Majusi itu. Setelah mendengar dialog Ibu dan anak itu, diam diam aku pulang ke rumahku. Dan aku bawakan mereka makanan terbaik keluargaku.

Nah ini baru kebaikan…! Ibn al-Mubarak membentak. Karena kebaikanmu inilah aku datang membawa salam dari Rasulullah dan Pesan dari Allah untukmu bahwa Allah senang dengan kebaikanmu.

Sontak, Bahram dengan lirih mengucapkan Asyhadu an Lailaha illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar RAsulullah. Usai mengucapkan dua kalimah syahadat itu. Bahram, meninggal dunia. Sungguh kematian yang sangat indah.

Kedermawanan mampu mendekatkan seseorang dengan Allah. Dan mampu mengubah status dari musuh menjadi kekasih. Bahram adalah salah satu contoh dari sekian contoh seseorang yang dikehendaki menjadi pribadi Pengabdi.

Sabda Nabi:

” السخي قريب من الله قريب من الجنة بعيد من النار

Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dari Sorga dan jauh dari dari Neraka. HR. Baihaki.10399

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo