imam ahmad

Belajar dari Akhlak Mulia Imam Ahmad terhadap Keluarga Nabi SAW

Imam Ahmad bin Hanbal merupakan salah seorang dari empat imam pendiri madzhab dalam bidang fiqih. Dari keempat imam (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbali) madzhab fiqih, Imam Ahmad-lah yang seringkali mengalami penyiksaan dari beberapa penguasa. Imam Ahmad hidup pada tahun 164 H-241 H (780-855 M). Semasa hidup, banyak waktunya dihabiskan di kota Baghdad, ibukota Dinasti Abbasiyah. Karena beliau memang lahir dan wafat di kota tersebut.

Selain masyhur sebagai pendiri madzhab Hanbali, Imam Ahmad adalah seorang muhadist (ahlul hadist). Karena sedari usia belia, Imam Ahmad mulai mengumpulkan hadist sampai terkumpul puluhan ribu hadist yang lalu beliau bukukan dan diberi judul Musnad Ahmad Bin Hanbal. Di antara guru yang banyak mempengaruhi pikiran dan kepribadian beliau adalah Syekh Yusuf, Syekh Abdu ar-Razzaq dan tentunya Imam Syafi’i. Sedangkan murid-murid imam Ahmad yang terkenal di antaranya adalah Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Abu Dawuf.

Memaafkan Penyiksaan karena Keluarga Nabi

Dalam sejarah peradaban Islam, pada tahun 813-833 M, dunia Islam dikuasi oleh dinasti Abbasiyah. Periode 20 tahun tersebut, dinasti Abbasiyah dipimpin oleh penguasa secara berurutan al-Ma’mun, al-Mu’tashim dan al-Watsiq. Di tahun-tahun tersebut, dinasti Abbasiyah menganut aliran agama Muktazilah, yang mengedepankan akal dari pada teks suci. Aliran itu terkenal dengan sebutan ahlu al-ra’yi.

Dalam kebijakan agamanya, Abbasiyah sangat terpengaruh dengan Muktazilah, bahkan ketiga penguasa tersebut menjadikan Muktazilah sebagai aliran agama resmi waktu itu. Dengan demikian ulama-ulama yang berbeda dengan pendapat Muktazilah yang rasionalis itu, akan diadili dan pastinya akan dihukum. Tak kecuali Imam Ahmad, karena memang beliau ahlu hadist yang secara dasar dan kerangka berfikirnya pun sangat berbeda.

Baca Juga:  Uwais al-Qarny: Bakti kepada Ibu Membawa ke Langit

Baik al-Ma’mun, al-Mu’tashim dan al-Watsiq, mereka pernah menganiaya Imam Ahmad karena perbedaan pandangan agama. Lebih-lebih al-Mu’tashim yang pernah hampir membunuh Imam Ahmad. Berawal dari sebuah forum Pengujian atau pengadilan untuk ulama yang ‘berbeda’ dengan Muktazilah bernama Mihnah. Salah satu tema yang paling terkenal kala itu adalah doktrin Khalqiyatul Qur’an (al-Qur’an adalah makhluk). Semua ulama yang tidak sependapat dengan doktrin tersebut akhirnya dibuang atau dipenjara atau disiksa. Jika mengakuinya, mereka akan dibebaskan.

Tibalah giliran Imam Ahmad yang ‘diadili’ oleh ulama-ulama Muktazilah dan penguasa Abbasiyah. Dalam forum Mihnah itu, Imam Ahmad secara tegas menolak bahwa al-Qur’an itu makhluk. Imam Ahmad berpendapat al-Qur’an tetap Kalamullah. Beliau pun menunjukkan sikap dan posisinya didepan kalangan Muktazilah. Imam Ahmad berkata “… Aku bukanlah seorang yang berkecimpung dalam ilmu kalam. Kecuali yang terdapat dalam kitab Allah, sunnah nabi SAW dan dari ketetapan sahabat dan tabi’in. Adapun selain itu, membincangkannya merupakan perbuatan yang tak terpuji”.

Mendengar jawaban itu, al-Mu’tashim selaku pemimpin Abbasiyah waktu itu langsung memerintahkan agar Imam Ahmad dicambuk ratusan kali sampai beliau pingsan dan nyaris menjemput ajalnya.

Selang beberapa lama, timbul rasa sakit tak terhingga yang dikeluhkan Imam Ahmad di salah satu bagian punggungnya yang melebihi rasa sakit di bekas-bekas cambukan lainnya. Setelah diamati, ternyata terdapat sepotong daging ‘mati’ dalam punggung Imam Ahmad akibat cambukan-cambukan ganas itu. Daging mati itu wajib dikeluarkan, kalau tidak bisa nyawa beliau dapat terancam.

Dalam proses mengeluarkan daging itu, akhirnya Imam Ahmad sepakat dengan para Tabib untuk melakukan operasi tanpa menggunakan mukhoddir (obat bius). Kemudian operasinya pun dimulai, para Tabib mulai merobek punggung Imam Ahmad dengan sangat hati-hati. Akhirnya para Tabib berhasil menarik keluar gumpalan daging mati itu. Anehnya, di setiap waktu yang begitu menyakitkan itu, Imam Ahmad merintih perih sambil mengulang-ngulangi sebuah doa: ” Allahumma Ighfir Lil Mu’tashim.” (Ya Allah ampunilah Al-Mu’tashim)

Baca Juga:  Teladan Keharmonisan Khalifah Umar ibn Khattab dengan Uskup Agung Sophronius

Para Tabib yang menangani operasi itu pada bersedih dan merasa keheranan. Siapa yang tak kenal nama itu ? Bukannya al-Mu’tashim itu adalah orang yang membuat Imam Ahmad ini merasa sakit yang begitu pedih? Bukankah ia yang hampir saja merenggut nyawa Imam Ahmad ?

Selepas operasi selesai, para Tabib itu bertanya kepada Imam Ahmad perihal doa yang diulang-ulanginya waktu operasi tadi. Dengan tenang, beliau menjawab: “al-Mu’tashim itu adalah keturunan paman Rasulullah SAW. Aku tidak mau kelak di hari kiamat bertikai dan mempunyai masalah dengan salah satu keluarga Nabi SAW. Oleh karena itu, aku sudah memaafkannya di kehidupan dunia ini.”

Perlu diingat bahwa Dinasti Abbasiyah yakni dinasti yang menguasai dunia Islam setelah runtuhnya dinasti Umayyah. Para pemimpin dinasti Abbasiyah ini masih memiliki tali kekerabatan dengan Rasulullah SAW, karena Kakek buyut mereka adalah sayyidina Abbas Bin Abdul Muthalib, salah seorang paman Rasulullah SAW.

Mendahulukan Keluarga Nabi SAW

Di kesempatan lain, Imam Ahmad berjalan bersama rombongan murid-muridnya menuju sebuah masjid. Ketika dii pintu masjid, Imam Ahmad berpapasan dengan seorang anak kecil yang kebetulan juga hendak masuk. Dengan penuh ta’dhim (hormat), Imam Ahmad berkata kepada anak itu : “silahkan masuk duluan wahai tuanku.”

Melihat fenomena itu, murid-muridnya terdiam keheranan melihat sikap gurunya itu. Merasa diherani murid-muridnya, Imam Ahmad lalu menjelaskan: “Anak kecil itu adalah seorang ‘syarif’ keturunan Nabi SAW. Maka dari itu, tidak mungkin aku berjalan mendahuluinya.”

Dari kisah-kisah Imam Ahmad itu, kita bisa ambil pelajaran bahwa betapapun Imam Ahmad seorang yang ‘alim dan memiliki kedudukan tinggi, tetapi beliau sungguh sangat memuliakan siapapun keluarga nabi SAW. Besar, kecil, tua ataupun muda seorang dzuriyyah (keluarga) nabi SAW itu, hendaklah kita tetap memuliakannya, betapapun mungkin ia pernah menyakiti kita, seperti Imam Ahmad alami.

Bagikan Artikel

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar