nasionalisme bencana
cinta tanah air

Benarkah Nasionalisme Bencana bagi Islam?

Dalam acara Kajian Online Afkar Islam: Islam dan Nasionalisme pada 30 Agustus 2021 kemarin di kanal YouTube Khilafah Channel Reborn, Agung Wisnuwardhana dengan entengnya mengatakan bahwa nasionalisme merubakan bencana bagi Islam. “Bahwa bangsaku berbeda dengan bangsamu, ini rumahku, rumahku Indonesia sementara yang lain bukan rumahku, inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan”, ujar peneliti Indonesia Justice Monitor itu.

Lebih lanjut, aktivis ‘pengasong’ khilafah itu menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, nasionalisme bukan berasal dari akan sejarah Islam. Sehingga tidak masuk akal kalau ada yang mengatakan nasionalisme itu berasal dari prinsip-prinsip atau dalil-dalil Islam. Bahkan ia juga menilai bahwa nasionalisme bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Perlu diketahui bahwa menguatkan nasionalisme menjadi langkah sangat penting karena dalam beberapa dekade terakhir, kelompok yang selalu menjadi ‘benalu’ bagi bangsa ini kerap berusaha menghilangkan nasionalisme dari dalam diri penduduk bangsa ini dengan berbagai macam cara, salah satunya membenturkan dengan agama.

Sejalan dengan itu, ulama klasik kenamaan Islam Ibnu Khaldun (1332-1406 M) menyebutkan siklis proses timbul dan tenggelamnya suatu negara. Diantara yang menyebabkan tenggelam atau kehancuran negara adalah hilangnya militansi (nasionalisme-red) yang terjadi pada generasi suatu negara. Hal ini terjadi dan sangat logis bahwa karena jika generasi muda bangsa tidak memiliki nasionalisme—dalam bahasa Ibnu Khaldun militansi—maka akan menyebabkan tindak-tanduk generasi muda tidak akan peka terhadap nasib bangsa.

Secara lebih detail, dalam magnum opusnya, yakni “Muqaddimah”, Ibnu Khaldun menjelaskan tahapan suatu negara timbul lalu tenggelam.

Pertama, tahap konsolidasi. Ini merupakan tahab awal otoritas monarchi dibangun setelah berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya. Tahap pertama ini sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-politik di saat Ibnu Khaldun hidup. Jika dikontekstualisasikan di masa saat ini, mungkin lebih dekat dengan memenangkan hasil pemilu (terpilih menjadi pemimpin suatu negara).

Baca Juga:  Hijrah Millenial (3) : Meneladani Semangat HOS Tjokroaminoto dalam Melawan Provokasi dan Perpecahan

Kedua,  tahap tirani. Yaitu ketika sang penguasa menggunakan otoritasnya untuk bertindak semena-mena, memonopoli kekuasaan politik untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Pada tahab ini, kekuasaan diorientasikan untuk memperkuat nepotisme. Tahap kedua ini mulai menjadi biang dari kehancuran negara karena pemimpinnya tidak lagi memikirkan hajat hidup rakyatnya, melainkan lebih pada mengkapitalisasi kekuasaan yang didapat untuk kemakmuran diri sendiri dan kelompoknya.

Ketiga, tahap sejahtera. Ketika kedaulatan telah dinikmati dengan hak-hak istimewanya untuk penumpukan kekayaan dan pemungutan pajak dalam rangka usaha membangun negara. Tahap ini masih menjadikan rakyat bisa merasakan secercah kebahagiaan meskipun di atas penguasa yang dzalim.

Keempat, tahap menikmati dan fisikasi (pengamanan). Yakni penguasa merasa puas dengan hal-hal yang telah dibangun berdasarkan pungutan pajak rakyat. Sehingga, pada fase ini seorang penguasa akan merasa terlena menikmati hasil-hasil yang telah dicapai.

Kelima, tahap keruntuhan. Bahwa pada tahap ini, hedonisme menjadi gaya yang sangat lekat dalam diri seorang pemimpin, bahkan juga rakyatnya. Berlebihan untuk melampiaskan kesenangannya. Korupsi terjadi dimana-mana lantaran gaya hidup yang bermewah-memawah. Yang ada di benak pemimpin dan elite penguasa adalah mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dan menghamburkannya. Celakanya, hidup seperti ini dihasilkan dari pemerasan pajak dari rakyat.

Melahirkan Generasi Minus Nasionalisme

Lebih lanjut, Ibnu Khaldun merumuskan bahwa dari kelima siklus di atas, melahirkan tiga generasi. Pertama, generasi pembangun. Generasi ini merupakan generasi yang ideal karena pola hidup generasi ini penuh dengan kesederhanaan dan semangat solidaritas sangat tinggi dan tulus yang merekatkan mereka. Simpul-simpul persaudaraan dan persatuan sangat kuat sehingga melahirkan kekuatan yang positif. Keadilan dan kejujuran serta kesederhanaan adalah fenomena yang lumrah dan mudah kita jumpai pada generasi pembangun ini.

Baca Juga:  Membongkar Narasi “Masyarakat Jahiliyah”

Kedua, generasi penikmat. Generasi pertama telah mewariskan sejuta kenikmatan, diantaranya kematangan dalam berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi dan politik. Kemajuan dan kesejahteraan yang dibangun oleh generasi sebelumnya menjadikan generasi berikutnya terlena. Alih-alih mempertahankan atau mengembangkan warisan positif dari generasi sebelumnya, generasi kedua ini justru malah menjadi generasi penikmat.

Ciri generasi kedua ini adalah suka berfoya-foya, tidak peka terhadap kepentingan bangsa. Semangat kesederhanaan dan solidaritas sosial yang menjadi karakteristik generasi pertama mulai luntur. Pada generasi kedua ini, seorang negarawan sangat langka. Sebaliknya, para pecundang justru malah bertebaran di mana-mana.

Ketiga, generasi yang ditandai oleh hilangnya militansi karena tidak memiliki hubungan emosional dengan negara (As’ad Said: 2019, 105-16. Mereka tidak memiliki kepeduliaan atau rasa cinta (nasionalisme) terhadap nasib negaranya. Sementara, elitenya sibuk menikmat kemewahan. Alhasil, korupsi, pencurian, kejahatan dan masalah pelik lainnya meraja lela. Ketidak-adilan dipertontonkan di ruang publik. Ketika hal ini terjadi, tegas Ibnu Khaldun, kematian atau kehancuran suatu bangsa, sudah diambang pintu.

Imun Terhadap Idologi Radikal

Di atas sudah sangat jelas bahwa gejala penting pada tahap negara menuju jurang kehancuran adalah berkembangnya pola hidup mewah, adanya pemerasan sistemis pada rakyat, hilangnya militansi (nasionalisme), korupsi merajalela, dan tiadanya keadilan.

Pada bulan Agustus ini, penting kiranya kita memperhatikan poin militansi tanpa bermaksud mengecualikan poin lainnya. Oleh karena itu, uraian Ibnu Khaldun di atas sudah seharusnya menjadi perhatian kita bersama jika tidak ingin bangsa ini hancur. Nasionalisme harus diperkuat. Hal ini sekaligus menjadi upaya secara serius dan tersistematis untuk menguatkan daya tangkal masyarakat terhadap ideologi radikal yang kerap mempersoalkan nasionalisme, bahkan memprovokasi rakyat untuk tidak mempunyai nasionalisme.

Baca Juga:  Ihwal Islam Moderat vs Islam Radikal

Sebagai langkah penyelamatan, mau tidak mau dan suka tidak suka, kita harus bergandengan tangan dalam rangka menguatkan jiwa nasionalisme di kalangan generasi muda pada khsusnya dan semua elemen bangsa. Menempatkan Pancasila dalam kedudukannya sebagai visi moral bangsa akan mendorong penduduk bangsa ini mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi sehingga kelompok radikal akan dengan sendirinya mental.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Ali Mashum

Avatar of Ahmad Ali Mashum

Check Also

kehidupan luar bumi

Isyarat Al-Quran tentang Makhluk dan Kehidupan di Luar Bumi

Pada pertengahan 2019 silam, dunia dikejutkan oleh temuan yang menyebutkan bahwa para astronom telah menemukan …

dalil nasionalisme

Tafsir QS. al-Baqarah Ayat 126: Basis Dalil Nasionalisme dalam Islam

Tidak lama lagi, tepatnya tanggal 17 Agustus 2021, segenap penduduk republik ini akan merayakan hari …