dakwah islam
dakwah islam

Bercermin dari Al-Qur’an (I) : Islam Menjadi Adikuasa Dunia Bukan dengan Kekerasan

Islam pernah menjadi adikuasa di dunia dengan penyebaran dakwah yang singkat, bukan dengan kekerasan dan perang.


Islam seperti mata air bersih lagi jernih yang mengalir ke tengah-tengah bangsa Jahiliyah yang hidup di daerah terpencil dan jauh dari pusat pemikiran. Islam yang lahir di tengah-tengah padang pasir, kemudian dengan cepat menjadi negara adikuasa. Area yang dikuasainya meluas dari Lautan Atlantik sampai ke tepian Pasifik.

Tegasnya, hanya dalam tempo beberapa tahun setelah Nabi wafat, Islam telah menjadi yang dipertuankan di atas permukaan bumi dengan daerah kekuasaan yang melintang dari Tripoli sampai Sind dan Gujarat (anak daratan Indo-Pakistan) serta menerobos wilayah antara Syiria, Irak, dan Iran.

Dalam menanggapi keberhasilan Islam yang begitu cepat, sebagian orientalis dan orang yang tidak tahu banyak tentang studi Islam menyangka bahwa satu-satunya faktor keberhasilan itu adalah kekerasan dan kekuatan (pedang). Untuk memperkuat argumentasinya, mereka menjadikan peristiwa-peristiwa peperangan setelah  Nabi wafat sebagai buktinya.

Untuk membantah pendapat itu, ada dua pertanyaan Yang harus dijawab;

  1. Apakah Islam tersebar dengan dakwah atau dengan pedang?
  2. Apabila Islam disebarkan dengan dakwah, mengapa terjadi peperangan antara umat Islam dan non-Islam?

Argumen Normatif dan Historis

Islam disebarkan dengan dakwah Islam bukan dengan pedang diperkuat oleh banyak argumentasi, baik berupa nash misalnya Al-Qur’an Surah Al-Kafirun [109] ayat 6 :

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Selain argumen normatif tersebut dan tentu banyak ayat lain yang menguatkannya, ada beberapa fakta historis untuk menyanggah penyebaran Islam dengan perang.

Pertama, ketika berada di Mekah untuk memulai dakwahnya, Nabi tidak disertai dengan senjata dan harta. Kendatipun demikian, banyak pemuka Mekah, seperti Abu Bakar, Utsman, Sa’ad Ibnu Waqqas, Zubair, Talhah, Umar bin Al-Khaththab, dan Hamzah yang masuk Islam. Mungkinkah untuk dikatakan bahwa mereka masuk ke dalam Islam dengan kekuatan?

Baca Juga:  Fikih Nusantara (3) : Kitab Matnu Asy Syarif Karya Kiai Kholil Bangkalan

Berkaitan dengan ini, Ustaz Al-Aqqad, dalam buku ’Abqariyyah Muhammad, mengatakan bahwa banyak orang Mekkah masuk Islam bukan karena tunduk pada senjata, melainkan untuk mengorbankan jiwa raganya dalam mengangkat senjata demi jalan Allah.

Kedua, ketika Nabi dan para pengikutnya mendapat tekanan yang sangat berat dari kafir Quraisy, penduduk Madinah banyak yang masuk Islam dan mengundang Nabi serta pengikutnya hijrah ke Madinah. Mungkinkah Islam tersebar di Madinah dengan senjata?

Ketiga, pasukan Salib datang ke Timur ketika khalifah bani ‘Abbas berada pada masa kemunduran. Banyak anggota pasukan Salib tertarik kepada Islam dan menggabungkan diri dengan pasukan Salib lainnya.

Thomas Arnold, dalam Ad-Dakwah ila Al-Islam, menyebutkan bahwa mereka masuk Islam setela melihat kepahlawanan Salahuddin sebagai cerminan ajaran Islam. Mungkinkah Islam tersebar di kalangan pasukan Salib dengan senjata?

Keempat, pada abad ke-7 H (abad ke-13 M) pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu memorak-morandakan Baghdad, ibu kota khilafah ’Abbasiah, beserta peradaban yang dimiliki Islam‘ Mereka menghancurkan masjid-masjid, membakar kitab-kitab. membunuh para ulama, dan perbuatan sadis lainnya.

Pada tahun 1258 M merupakan lonceng kematian bagi khilafah ’Abbasiyyah. Akan tetapi, sungguh mencengangkan bahwa di antara orang-orang Mongol yang menghancurkan pemerintahan Islam ternyata banyak yang memeluk Islam. Mungkinkah Islam tersebar di tengah-tengah orang Mongol dengan senjata?

Kelima, sejarah menjelaskan bahwa masa terpenting Islam adalah masa damai ketika diadakan perjanjian Hudaibiyah antara orang-orang Quraisy dan Muslimin yang berlangsung selama dua tahun.

Para sejarawan pun mengatakan bahwa orang yang masuk Islam pada masa itu lebih banyak daripada masa setelahnya. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam banyak terjadi pada masa damai, bukan masa peperangan.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (10) : Kitab Parukunan Karya Syeikh Jamaluddin al Banjari

Keenam, tidak ada kaitan antara penyebaran Islam dan peperangan yang terjadi antara Muslimin dengan Persia dan Romawi. Ketika peperangan antara mereka berkecamuk dan orang-orang Islam memperoleh kemenangan, kemudian peperangan berhenti.

Pada saat itu para dai menjelaskan bangunan, dasar, dan filsafah Islam. Dakwah Islam itu yang kemudian menyebabkan orang-orang non-Islam terutama mereka yang tertindas oleh penguasa mereka masuk Islam.

Ketujuh, Islam tersebar luas di Indonesia, Malaysia, dan Afrika. Kekuatan apa yang dibawa oleh para penyebar Islam di sana sehingga terjadi persaingan antar-berbagai agama dan ideologi untuk mengisi kepercayaan penduduknya.

Untuk merealisasikan tujuannya, agama Kristen menggunakan kolonalisme, harta, dan nusionaris-misionaris. Agama Buddha dan Hindu mengandalkan kebudayaan dan membudakkan penduduk Indonesia.

Adapun Islam diajarkan oleh orang-orang dari Hadramaut yang mempunyai peradaban terbatas, tidak didukung oleh harta dan penguasa, atau Islam diajarkan oleh orang-orang Indonesia yang berwatakan Islam dalam kefakiran. Bagaimana akhir dari pertentangan itu?

Kedelapan, peneliti keislaman Ierman, Ilse Lictenstadter, dalam Islam and the Modern Age, mengatakan bahwa pilihan yang diberikan kepada Persia dan Romawi bukanlah antara Islam dan pedang, melainkan antara Islam dan jizyah.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Cahyo

Avatar of Ahmad Cahyo
Mahasiswa Program S2 PTIQ Jakarta

Check Also

pembatasan haji

Belajar dari Peletakan Hajar Aswad : Praktek Demokrasi Ala Nabi

Pada saat ini banyak Negara islam ataupun Negara yang mayoritasnya adalah muslim turut mengadaptasi sistem …

sakratul maut

Inilah Jawaban Lima Anggota Tubuh Orang Mukmin Ketika Malaikat Izrail Hendak Mencabut Ruhnya

Kematian merupakan suatu keniscayaan yang akan dialami oleh setiap individu. Ketika kematian datang, tak satupun …